Fall into you everyday, I'm ready!

1.7K 305 6
                                        

Ada asap teh lemon hangat yang menguar di nakas kecil samping single sofa, berdampingan dengan buku yang halamannya terbuka dan telah dibaca satu per empat bagian dari tebal keseluruhan. Sudut baca di kamar itu tadinya milik Wonwoo, tapi kini karena kebiasaan membaca itu menular maka Mingyu pun sering menggunakan sudut baca itu menjadi tempat menjemput hening dikala penat dan bising pekerjaan menghantam kepalanya. Namun kini Mingyu menggunakannya hanya untuk duduk memejamkan matanya sambil sesekali memijat pelipisnya. Detik yang berdetak tak terasa mengantarkannya pada pukul lima sore, waktu di mana Wonwooㅡsang belahan jiwa pulang dan memberikan sebuah peluk dan kecupan di keningnya. Kemeja yang lengannya terlipat dua gulungan serta dasi dan jas yang biasanya sudah dilepas dari tubuh kurusnya, menjadi ciri khas Wonwoo saat habis jam kantornya.

Jika dalam banyak momen, kalian mengira Wonwoo yang sangat manja dan bergantung pada Mingyu, maka akan ada momen-momen langka di mana Mingyu akan mengekor seharian pada Wonwoo, seperti saat ini saja, ketika kenop pintu kamar baru saja diputar dan kaki jenjang Wonwoo baru membuat satu langkah perpindahan, Mingyu sudah bangun dari sofa yang sejak tadi didudukinya dan memeluk Wonwoo hingga pria manis bermata rubah itu sulit bernapas.

"Landing pukul berapa tadi?" Wonwoo bertanya sambil mengecup seluruh inchi wajah Mingyu.

"Hmm, sekitar pukul sebelas siang." jawab Mingyu sambil berganti menciumi kepala istrinya itu.

"Pukul sebelas siang dan kau masih memakai baju yang sama seperti tadi kau kirimi aku foto sebelum flight? Astaga Gyu, kau belum mandi?" seloroh Wonwoo sambil menangkup pipi Mingyu yang mulai berisi.

Mingyu meringis dan menggaruk tengkuknya, "Itu, aku ... menunggumu."

Wonwoo hanya menggelengkan kepala dan segera turun ke arah dapur, karena kalau sudah begini, Wonwoo yakin Mingyu pasti juga belum sempat makan. Hal yang mengharukan adalah, ketika Mingyu sang pemilik restoran dengan kemampuan memasak yang tak perlu diragukan, ternyata malah menurut Mingyu masakan paling enak adalah masakan Wonwoo-nya. Sederhana, Mingyu tergila-gila saus fuyunghay buatan Wonwoo, padahal Wonwoo membuatnya secara asal-asalan. Kadang jika dilihat dan dipikirkan, cinta bisa begitu lucuㅡbahkan mungkin sedikit bodoh. Kalimat yang sering diucapkan Mingyu kepada Wonwoo seperti ini, padahal kalau kalian ingin tahu Mingyu mendapatkan kalimat ini dari buku yang pernah ia baca,

"Wonwoo, mencintaimu adalah patah hati paling sengaja."

Dan setelahnya Wonwoo hanya bisa protes,

"Mengapa harus patah hati? Aku 'kan tetap di sini, tidak meninggalkanmu, tidak mengkhianatimu. Apa sih Mingyu, leluconmu tidak lucu."

"Hey! Dengarkan aku dulu, hahaha begitu saja merajuk. Iya, tidak kok. Aku tidak akan pernah patah hati kalau mencintaimu, asalkan kau janji untuk tetap hidup, berada di sampingku."

Jadi, jika ditanya mengapa Wonwoo bersikeras untuk memperbaiki pola hidup dan pola makannya agar lebih sehat, alasannya hanya satu. Mingyu. Pria itu, tidak bisa jika tidak dibuatkan teh lemon oleh Wonwoo, selalu merengek jika malam hari terbangun karena haus, maka dengan sigap Wonwoo selalu menyiapkan air minum jika Mingyu telah jatuh tertidur lebih dulu. Maka bisa dipastikan, jika Wonwoo tidak ada maka Mingyu akan terbangun karena kehausan pada dini hari di sepanjang sisa waktunya dan Wonwoo tidak mau itu terjadi. Dan kalian tahu mengapa Mingyu menunggu Wonwoo hingga sore tanpa mandi terlebih dahulu? Jawabannya satu, sebuah racikan air hangat untuk Mingyu mandi adalah mahakarya dari Wonwoo. Meskipun rumah mereka dilengkapi water heater, tetapi Mingyu tidak pernah mau mandi dari penghangat air itu. Istri manisnya akan memasak air satu panci penuh, ditambah beberapa sendok makan garam mandi, dan tetesan berbagai macam essential oil hanya Wonwoo yang tahu kombinasinya. Apabila Wonwoo tidak ada atau berpulang lebih dulu, apakah tega bahwa Mingyu tidak akan mandi selama sisa hidupnya?

"Sebentar, akan kusiapkan air mandi untukmu." ujar Wonwoo seraya mengecup pipi Mingyu.

Saat Wonwoo sedang sibuk di dapur tiba-tiba Mingyu datang menghampirinya.

"Sayang ... Bukakan." Suara bariton milik Mingyu mengudara.

"Eh? Apanya?"

"Baju ... dan celanaku." jawab Mingyu malu-malu.

"Astaga, my big baby boy sedang mode manja rupanya." Selanjutnya dengan cekatan Wonwoo membuka baju dan celana Mingyu hingga hanya menyisakan celana pendek saja, lalu ia membalutkan bathrobe dan mengikat simpul pita pada talinya. "Nah sekarang kembali ke kamar mandi dan tunggu aku membawakan air mandimu."

"Aku mencintaimu, Wonwoo!" Dengan sedikit berteriak, Mingyu mengatakan itu sambil berlari kecil menuju kamar mandi.

Wonwoo hanya bisa tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya, melayani mode manja Mingyu tidak pernah membuatnya lelah, bahkan bisa dibilang sangat menyenangkan. Chandelier yang menggantung di ruang keluarga memancarkan cahaya yang sedikit redup. Di sudut dapur, jemari tangan Wonwoo yang pucat langsat terampil meneteskan berbagai macam minyak aroma. Gerakan yang sedikit cepat seperti mengisyaratkan bahwa tak ada lagi waktu tersisa, meskipun dalam sisi kecil hatinya yang lain berharap dan berdoa dalam khidmat agar waktu sekali saja bisa mengulur untuk dirinya. Tetapi Wonwoo tahu, akan tiba waktunya semua selesai. Maka, sebelum dinginnya kulit menyamarkan keriput, sebelum gigil menggemeletakkan gigi, ia ingin memberikan yang terbaik untuk Mingyu. Menghitung tahun demi tahun yang tercipta dari miliaran detik yang berdetak bersama Mingyu adalah masa yang tidak pernah ingin Wonwoo akhiri.

"Sayang, air mandimu ..." Wonwoo datang dan Mingyu segera memindahkan panci berisi air mandi yang berat itu untuk ia angkat. Mana tega Mingyu melihat Wonwoo kelelahan.

Aroma segar, manis, dan menenangkan menari-nari di udara dalam kamar mandi. Uap-uap yang berubah menjadi embun membuat pandangan pada cermin mengabur. Hanya sekali tarikan ringan, Mingyu mendekap Wonwoo dengan erat.

"Aku merindukanmu, Wonwoo."

"Aku juga merindukanmu, Gyu."

"Ah kau berdusta, seperti pernah saja merasakan rindu padaku." Mingyu memang paling senang menggoda Wonwoo. Mengatakan bahwa pria manis itu tidak pernah merindukannya atau berbicara kalau Wonwoo tidak pernah terlampau mencintainya.

Bisa dipastikan setelah ini Wonwoo akan melancarkan serangan protesnya yang kesekian kali. Wonwoo paling tidak suka dibilang tidak mencintai Mingyu, padahal sudah sangat jelas terlihat bahkan mungkin telah tercetak di keningnya bahwa Wonwoo adalah pecinta Mingyu paling nelangsa.

"Hah? Apa yang baru saja kau bilang, Gyu? Coba bilang sekali lagi."

"Aku benar 'kan, kau tidak pernah benar-benar rindu padaku." jawab Mingyu sambil tertawa mengejek.

"Tidak usah mandi." ujar Wonwoo tiba-tiba.

"Eh, memangnya kenapa?" Mingyu bertanya kebingungan.

Wonwoo menangkup pipi Mingyu, membawa lebih dekat ke wajahnya. Ada sebuah pautan hangat yang tercipta, di cermin yang berembun dengan pandangan yang mengabur, Wonwoo menyampaikan rindunya yang terserak berantakan terinjak langkah orang-orang yang tergesa. Rindu dan cinta bisa sangat samar, berbeda dengan milik Wonwoo yang nyata adanya.

~~~

P.S

Senang sekali bisa update lagi, maafkan kalau chapter ini terlalu picisan. Atau memang kisah kami yang picisan?

Loving each other was not enough, until we've figure out that we need each other. The heartwarming feeling of knowing that you're needed ㅡUncle.

Selamat membuka kotak Pandora 💕🍃
Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!


Bittersweet [Meanie] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang