People Changes

2.7K 436 22
                                        

"Aku butuh kamu, Wonwoo!" Mingyu mulai meninggikan suaranya. "Jadi minggu ini kau tidak bisa menemaniku, iya?!"

Wonwoo menghela napasnya panjang-panjang. Sejujurnya, ia lelah. "Tentatif ya Darl, kalau bisa akan kutemani. Kalau tidak, ya berarti tidak."

"Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Kau lagi-lagi tidak akan bisa meluangkan waktu. Tidak ada kata sibuk, Wonwoo. Yang ada itu, mau atau tidak meluangkan waktu. Yang ada itu, aku prioritasmu atau bukan?" Mingyu kembali memberondong Wonwoo dengan semua pernyataan yang menyudutkan. Wonwoo hanya diam dengan mata berkaca.

"Jangan kekanakkan Mingyu ... Kau tahu posisiku, aku juga pahami posisimu selama ini."

"Iya, aku seperti anak kecil. Yang jika kemauannya tidak dituruti akan tantrum. Kau berubah Wonwoo, aku seperti bukan siapa-siapa bagimu." Pria tampan itu membalikkan tubuh tingginya dan membelakangi Wonwoo.

"Mengapa semua seolah-olah menjadi kesalahanku, Gyu?"

"Aku selalu ada untukmu, tapi kau tidak pernah ada waktu. Kau berubah ..."

"Sejujurnya, aku lelah Gyu ... Waktu untukmu selalu ada, meski aku tidak sedang disampingmu. Aku selalu membalas pesanmu secepat yang aku bisa, meluangkan waktu untuk meneleponmu saat jauh meski aku terkantuk-kantuk. Mengirim pesan cinta dan perhatian meski kau balas sekenanya hanya karena kau memelihara pride-mu. Apa aku pernah protes? Apa aku pernah menuntutmu untuk bersikap manis? Kau selalu ingin afeksi langsung dengan saling memeluk, bertemu, menatap mata, dan semua itu kau lakukan seringkali saat kita sedang jauh, dan aku selalu berkorban untuk memenuhi semua maumu, Gyu ..." Air mata Wonwoo meleleh dengan sempurna pada akhirnya.

"Jadi kau anggap itu semua pengorbanan? Jadi kau menjalani itu bukan dengan segenap kebahagiaan?" Semua pernyataan Mingyu benar-benar membuat Wonwoo rasanya ingin menyerah saat itu juga.

"Apa kau menganggap ini kesalahanku lagi? Baiklah Mingyu, iya aku yang egois. Aku yang selalu salah. Kau puas?" Wonwoo pergi setelah mengatakan kalimat itu.

Pergi ke tempat yang memang seharusnya ia pergi. Sebuah perjalanan bisnis kesekian kali. Padahal Wonwoo sudah merencanakan akan meluangkan waktu untuk Mingyu, Wonwoo sudah memadatkan semua jadwalnya agar bisa selesai lebih cepat dari pekerjaannya. Namun apa yang ia dapat? Justifikasi berlapis dari orang yang paling ia cintai. Jika ingin menyerah, Wonwoo bisa saja. Ia hanya tak sadar bahwa banyak yang menginginkan ada di posisi Mingyu untuk mendampingi hari-harinya. Meski seringkali yang Wonwoo dengar adalah sebaliknya, Mingyu selalu membanggakan dirinya dengan berkata bahwa sebenarnya banyak yang ingin berada di posisi Wonwoo, dan Wonwoo harusnya merasa beruntung. Mengingat itu Wonwoo tersenyum, iya Wonwoo merasa beruntung. Sangat beruntung bisa memberikan kasih sayang pada seseorang yang memang tak pernah tercurahkan kasih sayang sejak dulu. Dan Wonwoo memahami itu, sangat mengerti bahwa Mingyu berbeda. Hanya saja kali ini ia ingin memberi jeda sebentar. Sebentar saja.

"Aku pergi, Mingyu. Kau benar, kau butuh ruang dan aku akan memberi itu." Pria manis bermata rubah itu berujar dengan menepuk bahu Mingyu yang sedang duduk diam di ruang makan.

"Kau tahu 'kan apa yang akan terjadi jika kau memberiku ruang? Kau sudah hafal bahwa aku berprinsip take it or leave it. Kau memberiku ruang maka kita akan semakin berjarak." Mingyu berkata datar dengan Wonwoo yang berjalan pelan memunggunginya hingga berhenti seketika.

Pria manis itu berbalik, tersenyum dengan wajah teduh dan kembali melangkah mendekati Mingyu-nya. Wonwoo memeluk Mingyu, membenamkan wajah pria tinggi itu pada perutnya serta memberikan usapan dan kecupan di puncak kepala Mingyu.
"Kau tahu, Mingyu ... Sedingin apapun sikapmu kepadaku, aku tidak pernah membalasnya. Aku tetap hangat, tetap berlaku seperti biasanya. Remember, for all circumstances you still fall into me?"

Kemeja biru muda yang membalut tubuh kurusnya basah di bagian perut, Mingyu menangis. Emosinya tumpah, ia butuh Wonwoo di sampingnya. Ia hanya tidak bisa secara langsung mengekspresikan itu. Dan tingkah lakunya itu bisa sangat menyebalkan. Wonwoo bukannya tidak tahu, ia mengerti keinginan Mingyu hanya saja memang ada kepentingan perusahaan yang tidak bisa Wonwoo tinggalkan begitu saja. Waktu yang ia miliki tidak se-fleksible Mingyu. Dan untuk kali ini saja Wonwoo ingin Mingyu mengerti posisinya.

"Aku tetap harus pergi, Sayang. Sebentar saja, tidak lama. Aku sudah memadatkan semua jadwal agar bisa kembali lebih cepat. Sabar sedikit, hanya tunggu sebentar lagi." Sebuah kecupan jatuh dengan diam-diam dan menenangkan pada kening Mingyu. Kali ini saja Wonwoo ingin ia menang agar Mingyu-nya bisa belajar.

"Tidak perlu menjanjikan aku. Aku sudah mulai terbiasa dengan wacana-wacanamu." Bahkan ketika Mingyu berucap sekasar itu, Wonwoo tetap tersenyum dan mengusak rambut Mingyu dengan penuh kasih sayang.

"Aku pergi ya. Aku mencintaimu Mingyu." Wonwoo berlalu setelah Mingyu hanya mengucapkan,

"Iya, aku tahu."

~~~

Dalam hatinya Mingyu mengutuk diri sendiri mengapa ia bersikap se-egois itu terhadap Wonwoo. Ia hanya bergelut dengan ketakutan-ketakutannya, Mingyu tahu betapa Wonwoo sebenarnya adalah berlian yang berkilau, hanya saja ia tidak pernah menyadarinya. Padahal yang Mingyu kira benar selama ini adalah kesalahan. Wonwoo bukannya tidak menyadari, jika ingin bersinar ia bisa saja, bahkan sangat bisa. Ia hanya meredupkan dirinya sedikit, berada di belakang Mingyu. Membantu pria itu bersinar dengan gagahnya. Wonwoo memilih itu karena ia tahu, bahwa Mingyu cenderung tak ingin dikalahkan. Dan detik ini juga Mingyu menyesali bahwa Wonwoo benar-benar sudah pergi untuk urusan pekerjaannya. Mingyu hanya takut pria manis itu mulai mandiri dan akan meninggalkannya, padahal sampai Tuhan memisahkan pun kalau bisa Wonwoo selalu berdoa agar tetap dibersamakan oleh Mingyu. Jika ada predikat yang paling tepat, Mingyu ingin menyematkan bahwa Wonwoo lebih dari rumah, lebih dari sekadar tempat pulang. Wonwoo itu segalanya. Mingyu hanya takut kehilangan. Itu saja. Sebuah kesederhanaan yang rumit.

Dalam perjalanannya, Wonwoo tak henti memeriksa ponselnya. Tak ada panggilan bahkan pesan singkat dari Mingyu pun. Ia menghela napasnya panjang-panjang, semoga keputusan yang ia ambil kali ini benar adanya. Bukan, Wonwoo bukannya bosan mengalah, hanya saja ia ingin Mingyu belajar. Tak sampai satu menit dari ia menolehkan wajahnya dari layar ponsel, lalu benda hitam persegi panjang itu berdering. Sebuah pesan suara dari Mingyu, tak sabar lalu Wonwoo segera menekan tombol play pada ponselnya.

Remember when I told you
"No matter where I go
I'll never leave your side
You will never be alone"
Even when we go through changes
Even when we're old
Remember that I told you
I'll find my way back home

Dengan suara parau seperti orang yang baru saja menangis, Mingyu mengirimkan suara dirinya sedang menyanyi lagu kesukaan mereka berdua. Wonwoo tersenyum, perjalanannya kali ini ia merasa lebih tenang.

~~~

P.S

Huaaaah ngetik scene Meanie sedang bersitegang aku lelah sendiri :')

Lagi-lagi ini adalah sesuatu yang nyata, kemarin Uncle kirim link Adu Rayu-nya Tulus, Glenn, dan Yovie dong. Kalau belum nonton, coba tonton deh. Pertengkaran pasangan itu sangat relate ke Aunty-Uncle, sedih? Iya sedih banget akunya. Nih aku kasih link mv-nya yaa

Selamat membuka kotak Pandora 💕🍃
Selamat menikmati romansa yang tidak biasa!

Bittersweet [Meanie] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang