Tahu tidak apa yang paling membuat terharu dan merasa menjadi seseorang yang paling berharga sejagat raya? Yaitu ketika orang yang terlihat paling sempurna memperlihatkan ketidaksempurnaannya dan membagi kelemahannya karena ia telah percaya pada kita. Di situlah letak keberhargaan kita, letak keyakinan bahwa kita berarti untuk orang itu. Tidak banyak berbeda, hal inilah yang dirasakan Wonwoo ketika Mingyuㅡmanusia dengan pride setinggi Himalaya dan benteng pertahanan diri sekokoh tembok Cina menangis di hadapannya. Terisak sambil memeluk Wonwoo. Menceritakan rahasia terbesar dalam hidupnya, memberitahu bahwa ia tidak sekuat yang Wonwoo lihat, bahkan mungkin pada beberapa keadaan, Mingyu lebih mudah patah daripada Wonwoo. Pria tinggi besar itu memiliki hati yang lebih lembut lagi perasa daripada Wonwoo, memiliki banyak pemikiran yang rumit di kepalanya, dan lebih membutuhkan penguat daripada Wonwoo. Karena sudah sejak lama, Mingyu menjadi pertahanan terdepan untuk orang-orang yang disayanginya tanpa pernah sadar bahwa ia juga butuh penopang.
Mingyu pernah datang sebagai penyembuh bagi Wonwoo. Dan menjadi salah satu alasan mengapa Wonwoo bersikeras untuk sembuh, karena ia ingin menjadi yang terbaik bagi Mingyu di hari esok, hari di mana mereka menyatu sebagai keluarga kecil. Maka Wonwoo dengan susah payah dan tekad yang kuat berusaha keluar dari mental issues yang menjebaknya. Sosok Mingyu adalah parameter kesempurnaan bagi Wonwoo saat itu. Ketika Wonwoo sudah cukup kuat, sudah mampu mengendalikan dirinya sendiri, pada saat itulah Mingyu mempercayakan rahasia terbesar dalam hidupnya pada Wonwoo yang cukup membuat tercengang. Saat itu pula Wonwoo sadar bahwa tidak ada yang sempurna di antara mereka, justru kesempurnaan hanya akan tercipta jika mereka menyatu. Keduanya datang dengan obat penawar masing-masing.
~~~
"Darl ... Kau sedang apa?" Mingyu menghampiri Wonwoo yang sedang kembali membaca arsip-arsip perjalanan kisah cinta mereka di ruang kerjaㅡruang favorit mereka berdua.
"Eh ... Tidak ... Hanya membaca ulang percakapan-percakapan kita dulu." Wonwoo menjawab sambil menyeka air mata yang sempat menetes ketika ia membaca betapa Mingyu sangat memperhatikan dan mengasihinya duluㅡbahkan saat mereka masih belum memiliki hubungan apa-apa.
"Gyu ..."
"Hmm?"
"Tidak ada ..."
"Huh! Dasar tidak jelas." Mingyu terkekeh setelah meledek Wonwoo.
"Tidak jelas juga kau cinta 'kan?"
"Sangat!" Mingyu langsung memeluk Wonwoo setelah menjawab pertanyaan retoris itu.
"Gyu ... Saat kau sempat menyerah, karena anggapan terhadap dirimu sendiri yang tidak mungkin bisa seimbang dan masuk ke dalam kehidupanku, lalu saat kutawarkan dirimu untuk melepaskanku, mengapa tak kau lepaskan?" Wonwoo bertanya penasaran, karena sampai detik ini dengan gengsi Mingyu yang sebesar gunung es ia tidak pernah menjawabnya.
"Tidak ..."
"Hanya itu jawabanmu? Yang aku tanyakan itu mengapa." Wonwoo gemas sendiri mendengar jawaban singkat Mingyu yang masih memeluknya erat.
"Ya tidak, aku tidak mau dan tidak akan mungkin melepaskanmu. Sudah ah jangan tanya alasannya." Setelahnya Mingyu hanya mencebik lucu, mungkin sebagai tanda bahwa ia malu sekaligus gengsi. "Lagipula kau 'kan bukan penyu yang harus dilepaskan."
Wonwoo hanya mengernyitkan dahi mendengar jawaban ajaib Mingyu. Pria ini benar-benar, bisa menyebalkan dan menggemaskan disaat yang bersamaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet [Meanie] ✓
FanfictionBittersweet moment kehidupan pernikahan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, apa jadinya?
![Bittersweet [Meanie] ✓](https://img.wattpad.com/cover/160168260-64-k172050.jpg)