Hidup tidak selamanya manis. Tetapi juga tidak selamanya terasa pahit.
~~~
Jika hanya dilihat secara kasat mata, Wonwoo mungkin menjadi salah satu orang yang paling beruntung karena ada Mingyu dalam hidupnya. Lelaki yang lembut perangainya, halus tutur katanya, dan seringkali manja dibalik tubuh tinggi dan tegapnya yang dibalut kulit kecokelatan nan manis. Hal itu tidak salah. Wonwoo memang beruntung, tapi juga tidak selamanya benar. Mingyu yang nyaris sempurna ternyata tidak selamanya menyenangkan, ah Wonwoo seringkali tenggelam dalam kolam insekuritas yang lagi-lagi membenamkan kepercayaan dirinya. Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain lihat, apa yang orang lain bicarakan, dan apa yang orang lain dengar tentang kita. Toh, lagipula kita hanya tinggal membiarkan mereka tidak menyukai kita 'kan? Selayaknya kita yang tidak mungkin menyukai semua orang. Sebuah sifat yang manusiawi, Wonwoo sangat paham tapi kadang juga tidak paham. Mingyu dengan kemeja putih yang lengannya tergulung sampai siku dipadukan celana ankle length yang sedang trendi sekarang ini adalah sumber insekuritasnya. Jika sedang berjalan berdua dengan teman hidupnya itu, semua mata pasti terkagum-kagum melihatnya. Catat! Melihat Mingyu, bukan dirinya.
"Sayang, percayalah kau yang terbaik. Mereka tidak tahu saja bahwa aku bukan apa-apa tanpamu." Mingyu berucap sambil mengusap kepala Wonwoo, seperti biasanya yang diusap hanya cemberut dengan mata berkaca.
Mingyu seringkali berkata bahwa Wonwoo istimewa, Wonwoo adalah teman hidupnya yang cerdas, obrolan apapun jika dengan Wonwoo sebagian besar akan bisa diimbangi dengan baik. Wonwoo yang terbaik, kemampuan merawat dan mengayomi orang di sekitarnya patut diacungi jempol. Seharusnya, sebuah validasi dari Mingyu lebih dari cukup untuk Wonwoo 'kan? Pria tinggi berkulit kecokelatan itu memang tidak banyak bicara dan itu yang membuat Wonwoo seringkali merasa tak cukup.
~~~
"Maafkan aku." ujar Wonwoo lirih di samping Mingyu yang sedang terbaring karena sakit.
"Sayang, untuk apa kau minta maaf? Tidak ada kesalahan yang kau lakukan, Wonwoo. Kau hanya harus semangat merawatku dan tetap sehat. Jangan cepat menyerah padaku ya." balas Mingyu sambil tersenyum.
"Gyu, kau hanya kelelahan, bukan sakit parah." Wonwoo sangat hafal kebiasaan berpikir berlebihan yang seringkali dilakukan pasangannya itu. Apalagi jika sudah sakit begini, Mingyu selalu saja bertingkah seolah-olah ia akan meninggalkan Wonwoo dengan cepat. Menyebalkan!
"Lalu untuk apa kau minta maaf barusan?" tanya Mingyu lagi.
"Aku hanya ... hanya ... merasa tidak becus merawat suamiku. Hehe ..." sebuah kata yang menggantung dengan tawa yang canggung
"Astaga, ingat Wonwoo. Kau yang terbaik!"
Hanya saja Mingyu sangat mencintai Wonwoo-nya dan keinginannya juga sederhana, ia ingin hidup lama bersama dengan Wonwoo. Makanya Mingyu selalu memastikan bahwa dirinya itu sehat dan mampu menemani Wonwoo hingga hari-hari tua mereka. Meskipun Wonwoo selalu menganggap Mingyu berlebihan karena ia selalu saja menjalani berbagai macam tes kesehatan padahal keluhan utamanya hanya kelelahan akibat pekerjaan yang padat. Bagaimanapun cara Wonwoo merawat dan menemani dirinya, bagi Mingyu itu sudah lebih dari cukup.
~~~
Wonwoo tak pernah mengerti mengapa Mingyu masih bersedia merentangkan kedua tangan untuk kembali memeluknya ketika ia sedang melambung jauh dari kesadarannya. Sampai saat ini Wonwoo masih berjuang dengan ketidakstabilan mentalnya, Wonwoo bisa sangat lembut dan tenang, namun di sisi lain ia juga bisa sangat berapi-api. Seringkali ia tidak bisa mengendalikan perasaannya yang berujung menyakiti dirinya sendiri. Mingyu memang tidak sempurna dalam mengerti dirinya dan bukankah semua orang memang begitu, tidak ada yang sempurna? Mingyu dengan segala hal yang menurut dirinya benar. Mingyu dengan pikiran-pikiran rasionalnya seringkali tidak mengerti cara menjangkau Wonwoo, meskipun Wonwoo sudah sering memberitahunya apa yang diinginkan. Tetapi lagi-lagi Mingyu tidak melakukannya dan Wonwoo yang lelah mengomunikasikan.
Ada suatu malam ketika bom waktu dalam diri Mingyu meledak yang berakhir ia melempar Wonwoo dengan botol. Adegan selanjutnya bisa dipastikan dengan Wonwoo yang diliputi perasaan bersalah dan kembali pada kebiasaannya menyakiti diri sendiri, kepala yang ia benturkan, pergelangan tangan yang ia sayat, pipi tirusnya yang ia tampar. Dan Mingyu diam menyaksikan itu dengan perasaan sesal yang berkecamuk. Wonwoo yang lelah beringsut ke sudut ruangan kamar mereka, dengan jejak-jejak air mata di wajahnya yang berantakan, kening yang bengkak, pergelangan tangan yang berdarah, dan pipi yang merah. Jika sudah begini, Wonwoo hanya akan meringkuk semalaman dengan Mingyu yang tetap pulas tertidur. Apakah ini sebenarnya cinta yang mereka jalani dan mereka janjikan dulu?
Ada lagi suatu malam di mana Mingyu berlaku seperti orang yang paling mencintainya, orang yang paling mengasihi dirinya, orang yang paling mengerti segala keresahan yang Wonwoo rasakan. Mingyu di malam itu yang sangat takut kehilangan Wonwoo, Mingyu yang selalu mengucap syukur pada Tuhan dan berkata bahwa ia teramat bahagia telah ditakdirkan untuk menemani hari-hari seorang Jeon Wonwoo. Lalu Wonwoo yang merasa jadi orang paling bahagia sejagat raya karena dicintai sebesar itu oleh pasangannya. Jadi, seperti apa sebenarnya bentuk cinta yang mereka jalani dan mereka janjikan?
Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa sejatinya memang benar manusia itu dinamis dan sebuah perasaan adalah hal yang fluktuatif. Sebuah grafik naik dan turun akan senantiasa mewarnai tiap-tiap potongan waktu yang dijalani oleh setiap anak manusia. Kita tidak bisa hidup dalam kesenangan terus menerus, namun Tuhan juga tidak akan memberikan kita kesedihan yang terus-menerus. Semua berjalan seimbang sesuai bagaimana cara penerimaan kita. Termasuk dalam cinta. Ia tidak serta-merta memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari berbagai macam emosi lainnya. Cinta setara dengan marah, setara dengan sedih, setara dengan emosi dan perasaan lainnya. Semua yang kita rasakan itu nyata dan harus diterima serta dikendalikan. Kita haruslah bijaksana menempatkan kata cukup dalam setiap perasaan itu. Tidak berlebihan, tidak juga asal dan sekadarnya.
~~~
p.s
Hai ...
cerita aunty kembali.
semoga teman-teman readers selalu sehat dan diliputi banyak cinta 🤍
terima kasih masih setia membaca cerita-cerita kehidupan yang sederhana ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet [Meanie] ✓
Hayran KurguBittersweet moment kehidupan pernikahan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, apa jadinya?
![Bittersweet [Meanie] ✓](https://img.wattpad.com/cover/160168260-64-k172050.jpg)