Pria manis itu berguling-guling tidak tentu arah di ranjangnya yang terasa luas. Maklum, Mingyu belum juga pulang dari Jepang karena ternyata suami tampannya itu harus menjadi pembicara dadakan sebuah workshop yang diadakan setelah rangkaian acara festival makanan itu selesai. Perihal rindu, Wonwoo termasuk yang mudah rindu jika berada jauh dari Mingyu. Pelukan pria itu seperti rumah baginya, jika ada Mingyu maka Wonwoo akan berubah seperti koala yang terus-menerus menempeli dan memeluk suaminya itu. Kemanapun Mingyu melangkah, maka Wonwoo akan mengikutinya dari belakang. Memeluk erat tubuh tegap Mingyu, bahkan ketika pria itu sedang menyikat giginya di wastafel kamar mandi mereka. Wonwoo akan mengusakkan ujung hidungnya pada punggung lebar sang suami. Maka kini yang ia lakukan hanya menghidu aroma tubuh Mingyu yang menempel di bantal sebelahnya. Akhirnya Wonwoo mengalah, meruntuhkan segala dinding gengsi yang mengungkung, diambilnya ponsel dari nakas tempat tidurnya dan segera menekan speed dial nomor satu.
Calling Mr. Perfect 🍃💕 ...
Tak berapa lama panggilan yang ia lakukan diangkat dengan kekehan renyah suara berat sang suami. Mendengar itu senyum Wonwoo mengembang dengan manisnya.
"Ya sayang, ada apa?"
"Eumm ... Gyuie sedang apa?"
"Aku baru saja sampai di kamar hotel dan berniat meneleponmu, tapi kau sudah menelepon lebih dulu. Ada apa, Love?"
"Percaya tidak kalau sekarang aku ingin memelukmu?"
"Eh, kenapa kok tiba-tiba ingin peluk? Kau tidak sedang sakit 'kan?"
"Tidak kok, aku tidak sakit. Hmm, kenapa ya? Hanya ingin saja. Your arms like home for me."
"Haruskah aku pulang sekarang?"
"Tidak Gyu, tidak. Rinduku masih tahu diri."
"Sampai kapan bisa kamu kontrol rindunya? Aku tidak tega, katakan."
"Sampai kamu pulang, lekas selesaikan pekerjaanmu secepatnya. Lalu segera pulang, aku menunggu."
"Akan kulakukan. Dan setelahnya terserah kamu, mau diapakan aku."
"Baiklah, kalau begitu kau harus memegang janjimu. Semuanya terserah aku. Aku mencintaimu, Mingyu."
"Aku lebih mencintaimu, Wonwoo. Kau istirahatlah, besok masih ada pertemuan dengan kolega bisnis, bukan?"
"Ah iya, aku hampir saja lupa. Baiklah, kututup ya Gyu. Bye."
"Bye Sweety, bye Love."
~~~
Setidaknya malam ini Wonwoo bisa mengendalikan rasa rindu yang menderanya setelah berbicara dengan Mingyu meski tidak terlalu lama. Mereka memang tidak terbiasa mengungkapkan perasaan hanya dalam sebuah panggilan telepon, pertemuan dan interaksi langsung menjadi suatu hal yang amat berharga dalam hubungan pernikahan mereka. Sikap Wonwoo yang rumit kadang membuat Mingyu lebih baik tidak memilih berkomunikasi dengan telepon apalagi kalau hanya sekadar berkirim pesan singkat, sungguh sangat tidak rekomendasi. Mingyu lebih memilih berkorban untuk menemui sang istri jika mereka sedang sama-sama berada pada puncak kesibukan.
Detik yang berdetak pada jarum jam kamar tidur yang luas itu menambah kesan sunyi yang Wonwoo rasakan. Biasanya, ia menjadikan waktu sendirinya sebagai sarana instrospeksi diri. Kehidupan pernikahan nyatanya tidak selalu indah seperti yang terlihat dari luar. Sedikit demi sedikit Wonwoo harus berubah menjadi lebih dewasa, karena selama ini ia merasa bahwa Mingyu lebih banyak berkorban untuknya. Mingyu lebih sering berkompromi untuk memahami sikap rumit dan overthinking yang ada pada dirinya. Wonwoo meyakini dirinya sendiri bahwa ia benar-benar harus berubah agar Mingyu tidak meninggalkannya, padahal tanpa usaha keras pun sang suami tidak akan pernah meninggalkannya. Mingyu pernah berjanji pada Wonwoo yang saat itu sangat sulit membuka hati dan menerima keberadaannya.
"Mencintaiku, tidak akan pernah membuatmu lemah Wonwoo. Aku janjikan itu."
Mengingatnya, Wonwoo kembali tersenyum. Memang rindu bisa sebegitu kurang ajar menelusup diam-diam di relung hati keduanya. Ia tidak tahu bahwa di belahan bumi yang lain, Mingyu juga sedang tersenyum melihat foto-foto wajah Wonwoo yang ada di galeri ponselnya. Mingyu masih ingat ketika pertama kali Wonwoo menyerah pada perasaannya dan mengungkapkan semua yang ia rasakan pada Mingyu malam itu.
"Aku jatuh cinta padamu, Mingyu. Dan kuharap kau juga begitu."
Tipikal Wonwoo yang sangat jauh dari kata romantis. Padahal Mingyu sudah menyiapkan kalimat-kalimat penuh cinta untuk pujaan hatinya itu saat mereka masih dalam masa saling mengenal. Ah, Mingyu jadi ingin memeluk istri manisnya itu. Merindukan Wonwoo hingga candu sepertinya akan menjadi hobi baru untuk seorang Kim Mingyu. Pada akhirnya mereka berdua jatuh tertidur di bagian bumi yang berbeda dengan rasa rindu yang melingkupi dada masing-masing.
~~~
Pukul tujuh pagi, calon CEO Jeon sudah duduk manis di kursi kebesarannya. Pertemuan dengan kolega bisnis sang Ayah membuatnya harus mempelajari presentasi yang akan ia lakukan nanti. Sebuah tender besar yang jika bisa ditaklukkan, maka Wonwoo akan diizinkan oleh sang Ayah untuk memegang kendali sepenuhnya atas perusahaan. Jika Wonwoo memiliki kendali penuh 'kan ia tidak perlu hadir di kantor setiap hari. Ia hanya akan menggunakan telunjuknya untuk meminta orang-orang kepercayaannya agar datang ke berbagai macam pertemuan ini itu. Lalu Jeon Wonwoo? Ia akan mengekori Mingyu kemanapun pria tampan itu pergi. Dasar pemikiran bocah!
Pintu ruangan miliknya terdorong, memperlihatkan sosok sang Ayah yang hendak memasuki ruangannya. Tuan Jeon dengan dua orang bodyguard-nya masuk dan duduk manis di sofa khusus untuk menerima tamu di ruangan Wonwoo.
"Pelajari materinya Wonwoo, tender ini akan sangat penting bagi kelangsungan jabatanmu." Tuan Jeon dengan suaranya yang berat memecah hening dalam ruangan itu.
"Oh, dengan senang hati Ayah. Karena aku tidak sabar menjadi CEO." Kekehan Wonwoo yang seperti anak kecil itu mengundang seringai dari Tuan Jeon.
"Anak Ayah sudah besar rupanya. Aku senang bahwa kau sangat berambisi dalam membangun perusahaan. Kau pasti akan memimpin lebih baik karena mengawasi mereka secara langsung, tidak seperti Ayah yang jarang datang ke kantor." Sang Ayah memberikan penekanan pada tiap kata yang keluar serta memberi senyum mengejek ke arah Wonwoo.
"Apa aku masih harus datang setiap hari meskipun sudah menjadi CEO?" Wajah Wonwoo yang melongo menjadi hiburan tersendiri bagi sang Ayah.
"Tentu saja, sayang. Pemimpin yang baik harus mengawasi kesejahteraan pekerjanya secara langsung." Tuan Jeon terkekeh.
"Ayaaaaah. Aku 'kan ingin selalu bersama Mingyu." Tanpa sadar, pria manis itu merengek layaknya bocah lelaki yang meminta dibelikan mobil mainan.
Sang Ayah hanya terkekeh mengejek sambil bangkit dari duduknya, mengibaskan tangan untuk berpamitan pada anak manisnya yang sedang mencebik kesal dan sesegera mungkin menghilang di balik pintu. Gagal sudah rencana kekanakkan yang Wonwoo susun karena sang Ayah terlalu mengenali dan memahami akal bulusnya. Ia mendengus dan tertawa sendiri, ternyata rindu bisa sangat sebodoh ini. Wonwoo kembali memandang pigura di atas meja kerjanya yang memajang foto pernikahan dirinya dengan Mingyu, pria itu benar mencintai harusnya tidak membuat lemah.
~~~
P.S
Semua dialog pada saat Wonwoo menelepon Mingyu adalah benar adanya. Whehehehe. Janji Mingyu ke Wonwoo juga itu beneran ada. Saya kok merasa bahwa chapter ini so cheesy sekali ya? Salahkan rasa rindu yang tiba-tiba menyerang kayak negara api. Masih tahan sama kemanisan work ini nggak? Kalau nggak, boleh lambaikan tangan ke kamera yaa.
Selamat membuka kotak Pandora! 🍃
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet [Meanie] ✓
FanfictionBittersweet moment kehidupan pernikahan Jeon Wonwoo dan Kim Mingyu, apa jadinya?
![Bittersweet [Meanie] ✓](https://img.wattpad.com/cover/160168260-64-k172050.jpg)