Bathroom Haze

3K 464 27
                                        

Mandi air hangat selalu menjadi favorit Wonwoo maupun Mingyu saat lelah melanda. Dan prosesi mandi bersama adalah hal yang wajib untuk membangun kelekatan emosional hubungan mereka. Memijat kepala Mingyu, menggosok punggung lebar itu, dan mengecupi bahu belakang suaminya selalu membuat semua beban Wonwoo seharian menguap begitu saja. Jangan tanya betapa senangnya Mingyu diperlakukan seperti itu. Se-ajaib apapun tingkah Mingyu yang kekanakkan rasanya tidak akan membuat Wonwoo jengah menghadapinya, malah ia ingin selalu memanjakan bayi besarnya itu setiap waktu. Setelah sekian lama mereka tidak memiliki waktu berdua, akhirnya kali ini Mingyu mengalah. Pria tampan berkulit kecokelatan itu mengikuti perjalanan bisnis Wonwoo untuk pertama kalinya. Berkali-kali ia berdecak melihat tampilan semi-formal Wonwoo pagi ini, teman hidupnya itu terlalu manis, jiwa protektif Mingyu berteriak kencang. Rasanya ia ingin menyembunyikan pesona Wonwoo di dalam selimut saja seharian ini.

"Kalau mau kemana-mana kabari ya Gyu ..." Wonwoo berkata sambil membenarkan kerah kemeja biru mudanya yang dibalut vest berwarna mocca dan celana slim-fit dengan warna senada.

"Ck! Iya, lagipula aku hanya akan di kamar hotel seharian ini sambil menunggu dirimu selesai meeting." Decakan Mingyu mengundang kernyitan penuh tanya pada dahi Wonwoo. Seakan mengerti apa maksudnya, Mingyu segera berkata lagi ... "Jangan terlalu manis, Darl. Nanti banyak yang melirikmu!"

"Oh astaga, aku kira apa. Memangnya aku manis?" Senyum licik penuh kemenangan tersungging di bibir tipis Wonwoo, pasalnya Mingyu sangat jarang memujinya, maka ketika Mingyu menurunkan pride-nya seperti saat ini, Wonwoo merasa senang dan ingin meledeknya.

"Apa aku bilang manis tadi?" Mingyu malah membalas keadaan dan tetap mempertahankan gengsinya.

"Terserahlah, aku ke meeting room dulu." Bibir merah muda itu mengerucut sebal.

Melihat Wonwoo merajuk, Mingyu terkikik dan langsung bangun dari tempat tidur untuk memeluk pria manis bermata rubah itu, menumpukan dagu lancipnya pada bahu lebar milik Wonwoo, menghidu dalam-dalam aroma yang menguar dari leher jenjang itu.

"Kau manis, tidak perlu kau tanyakan lagi. Aku hanya malu untuk mengatakannya secara langsung padamu dan lagi, kau tahu 'kan bahwa aku bukan orang yang banyak bicara." Seloroh Mingyu sambil memejamkan mata. Tubuh tinggi suaminya yang masih bertelanjang dada dan hanya memakai celana piyama, membuat Wonwoo rasanya tak ingin pergi ke meeting room.

"Mandilah, Gyu." Otak Wonwoo sudah tak bisa memproses kata-kata lagi karena bisikan seduktif Mingyu barusan. Tangannya refleks mengelus bisep yang terbentuk gagah milik Mingyu, lalu tanpa menunggu lama, Wonwoo membalikkan tubuhnya agar berhadapan dan menenggelamkan tatapannya pada tatapan teduh yang dalam milik suaminya itu. Dengan kecepatan cahaya, Wonwoo menyatukan bibirnya dengan bibir tebal Mingyu, mengecup dan melumatnya dengan perlahan dan penuh kelembutan.

"Darl, nanti kau terlambat." Mingyu melepas tautan itu sambil tersenyum menantang.

"Ah! Kau ini, benar-benar! Aku jadi tidak ingin menghadiri pertemuan, bagaimana kalau kita cuddling saja seharian?" Wonwoo mencebikkan bibir tipisnya.

"Hush! CEO Jeon harus profesional. Ayo sana pergi, aku akan menunggumu di sini. Kau tahu obatnya kalau kau lelah 'kan?" Mingyu membujuk dan Wonwoo hanya mengangguk patuh. "Pergilah, air hangat dan diriku akan menunggumu nanti."

Binar mata seperti anak kecil yang terpenuhi keinginannya terpancar dari mata rubah sipit milik Wonwoo. Bagaimana bisa ia berhenti mencintai pria di hadapannya ini?

"Aku mencintaimu Mingyu." Wonwoo mengatakan itu dan menghilang di balik pintu kamar hotel tempat mereka menginap.

"Aku lebih mencintaimu ..." Mingyu berbisik lirih.

Bittersweet [Meanie] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang