Malam Cokelat

1.6K 232 14
                                        

Eskalator Perpustakaan Starfield terus bekerja membawa orang-orang yang hendak berpindah lantai. Ada yang cukup berdiam pada satu titik, menunggu untuk sampai di ujung eskalator─umumnya sembari melihat-lihat atribut interior perpustakaan ini yang konon memiliki lebih dari 50 ribu judul buku, atau ada yang justru mengejar ujungnya, seakan kecepatan konveyor eskalator begitu lambat.

Tidak jauh dari lukisan raksasa, presisi di sentral Perpustakaan Starfield, Mingyu berdeham sebelum membisikkan kata-kata kepada sepupu kecilnya, Ye-seung, “Yeodongsaeng, kamu lihatlah eskalator itu."

Ye-seung yang baru saja mengikat kembali tali sepatunya yang sudah tak bersimpul, kepalanya tiba-tiba diarahkan oleh Mingyu untuk memandang eskalator, “Eskalator itu ramai, Mingyu-oppa, ada apa, kau mau mencopet ya?”.

“Kau yang mencopet, aku yang mengawasi, Ye-seungie.”

“Kau akan mengeskploitasiku, aku kira kau kakak yang baik, Mingyu-oppa.” tukasnya cemberut.

“Belajar dari siapa kau berprasangka seperti itu, aku hanya ...”, sejurus kemudian perkataan Mingyu dipotong oleh sepupunya itu, “Belajar dari kau, Mingyu-oppa."

“...” Mingyu menatap datar Ye-seung. Tidak ada lagi kata-kata.

“Tidak Oppa, aku bercanda, ada apa sebenarnya?” rayu adik sepupunya itu dengan bertindak bagai koala, bergelayut di lengan Mingyu.

“Ye-seungie, boleh kamu ingat atau tidak, tapi kau perlu tahu, kita, tidak dapat memenangkan hati semua orang. Bahkan eskalator yang diciptakan untuk memudahkan aktivitas manusia─secara konsisten, masih ada saja yang tidak puas padanya. Aku hitung selama 5 menit, ada 9 orang yang tetap berjalan di tangga berjalan itu.”

“Berarti 9 orang itu menunjukkan ketidakpuasan terhadap kerja si eskalator?”

Précisément, kau pintar, pasti belajarnya juga dari kakakmu ini 'kan?” tanya Mingyu menyeringai.

“Belajar dari Wonwoo-oppa.” Ye-seung menarik tangan Mingyu, keluar perpustakaan. Setelah 3 jam di dalam. Ye-seung jenuh. Sedang Mingyu melenguh. Kalah.


~~~

7.16 PM.

Temperatur pada LG Watch Urbane yang dikenakan oleh Wonwoo menunjukkan angka 78° F. Presipitasi 17% dengan kecepatan angin 10 km/jam. Keadaan cuaca seperti ini disebut Mingyu sebagai ‘malam cokelat’. Pernah suatu waktu Wonwoo menanyakan istilah yang dipakai Mingyu perihal itu, tetapi suaminya hanya merespon dengan gesture tidur sambil meregangkan kaki dan tangan lalu merapatkannya secara bersamaan, setelahnya diregangkan kembali. Berulang sampai sekitar 5 kali. Dalam benaknya, Wonwoo berkata,

“Seseorang memang tidak pernah tahu apa yang ada di dalam permukaan air yang tenang. Dan di dalam pembawaan Mingyu, yang luarannya tenang, entah beruntung atau sial, aku menemukan sosok anak periang, sekaligus anak yang suka bersembunyi di dalam sosoknya.” Wonwoo mengusap lengan kanannya. Apa arti malam cokelat yang dimaksud Mingyu, entahlah.

Budae Jiggae dengan porsi besar terhidang di atas meja lesehan berbahan kayu Mindi. Seharian ini Mingyu dan Wonwoo dititipi Ye-seung oleh bibi Mingyu. Bibi dan pamannya sedang menjenguk kolega di Busan, sementara kakak Ye-seung sedang mengikuti camp pramuka di sekolahnya.

Bittersweet [Meanie] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang