"Cobalah dulu, baru bercerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirlah dulu, baru berkata. Dengarlah dulu, baru beri penilaian."
April, 6, 2019
*****
Mata Kai menyipit menatap pada Byun yang tengah bercanda dengan beberapa remaja di meja seberang konter dapur. Dua remaja itu sepertinya anak kuliahan yang sangat antusias mendengarkan candaan- candaan receh Byun mengenai dirinya yang tidak takut pada apapun. Jadi sekarang bibir Kai mencibir. Kalau sekarang Kai menunjukkan seekor serangga tepat di depan wajah Byun, Kai yakin Byun akan menjerit-jerit seperti remaja belasan tahun yang sedang diperawani.
Satu alasan kenapa Byun selalu melibatkan Kai setiap kali dia berkebun adalah, untuk membuat Kai menjadi pemburu serangga disekitarnya. Kedua tangan Byun mungkin sibuk memegang gunting tanaman, tapi bola matanya jelalatan kemana-mana. Dan ketika mendengar ada suara mendengung yang berasal dari suara serangga yang beterbangan sedikit saja, Byun akan bereaksi sangat berlebihan. Nafasnya langsung tersengal, wajahnya pucat, kemudian Byun akan menceritakan kejadian tersebut kepada Chan dan Sean seolah-olah serangga itu nyaris menelannya hidup-hidup. Padahal, besarnya serangga itu hanya sebatas kuku jari kelingkingnya saja. Begitu yang dia sebut tidak takut pada apapun? Cih!
"Wah, saking lamanya aku bercerita, minuman kalian sampai tandas begitu," jari Byun menunjuk pada dua cupmoccachino milik dua remaja di hadapannya. "Apa kalian ingin memesan minuman lagi, cantik?" dengan gayanya yang genit, Byun menjepit salah satu ujung hidung remaja itu.
Kalau Kai yang berada di posisinya, sudah pasti muka Byun akan langsung dia tempeleng sekeras mungkin. Anehnya si remaja itu malah menanggapi dengan sebuah anggukan kecil yang artinya dia setuju untuk memesan minuman kembali.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dari mana kau mendapat trik receh semacam itu?" Kai bertanya menyindir setelah Byun masuk ke dalam konter dapur kemudian menyerahkan kertas catatannya pada Kwangsu.
"Maksudmu?" Byun tidak mengerti dan malah acuh saja mencomot seiris kue dari piring yang ada di hadapan Kai. Dia rajin menggoda pelanggan kan memang untuk melariskan dagangan, bukan sejenis modus seperti yang Kai pikirkan.
"Yang bisa membuat Soojung kembali padaku."
Kai bermaksud ingin melakukan hal yang sama seperti Byun. Menggoda Soojung dengan celotehannya kemudian menyentuh gadis itu disana-sini tanpa terkena pukulan. Kai sempat berpikir, Byun pasti memperoleh bakat itu dari berguru pada salah seorang paranormal atau apa. Karena sejauh yang Kai perhatikan, nyaris semua wanita akan nyaman berada di dekat Byun.
"Seorang pria itu tidak harus memiliki sesuatu yang mengagumkan ataupun wajah setampan malaikat tak bersayap untuk bisa disukai oleh para wanita. Yah...tergantung bagaimana pria tersebut bertindak saja sih," kalimat itu Byun ucapkan dengan gayanya yang menyebalkan. Kemudian melirik Kai seolah rekan kerjanya itu hanya seonggok sampah yang menjijikan. "Masih lebih baik mulut yang banyak bicara daripada kelakuan yang main tusuk siapa saja."