"Diam ketika marah, tidak selalu diartikan takut atau mendendam. Tapi karena kita paham, kekerasan bukanlah jawaban untuk menyelesaikan suatu masalah"
April, 24, 2019
*****
Rumah itu nyaris menyerupai istana dengan pilar-pilar tinggi dan ukiran-ukiran unik disetiap sisi dindingnya. Ketika Byun melewati pintu gerbang, dia sudah disambut hangat oleh seorang pelayan yang mengantarkannya duduk di ruang tamu.
Byun terbiasa melihat rumah-rumah mewah dan sebesar ini hanya di sebuah drama atau film-film. Sekarang begitu menyaksikannya secara langsung, bulu halus di kedua tangannya malah meremang.
Bayangkan, sofa yang didudukinya saja seperti singgasana Raja dan luas ruang tamu yang dihuninya saat ini hampir sebesar ruangan di lantai ketiga cafenya. Jadi Byun membayangkan akan sebesar apa ruangan-ruangan lain di rumah ini dan akan berapa lama pelayan membutuhkan waktu untuk membersihkannya setiap hari.
Pria itu terus mengedarkan pandangan ke segala penjuru sambil mengagumi guci-guci mahal yang menghiasi setiap sudut ruangan. Bisa jadi harga satu guci itu setara dengan harga mobilnya atau bahkan jauh lebih mahal. Kemudian Byun mulai berandai-andai, jika saja mereka hanya memiliki satu toilet di dalam rumah, bukankah itu akan sangat merepotkan kalau salah satu penghuninya sedang mengalami sakit perut. Pemikiran-pemikiran konyol seperti itu justru terus bermunculan di dalam kepalanya.
Suara seseorang berjalan menapaki anak tangga membuat Byun menoleh ke belakang. Pelayan yang tadi membawanya kemari mengatakan padanya supaya Byun bersedia menunggu beberapa menit lagi sebelum si pemilik rumah menemuinya. Dia disuguhi segelas minuman dingin dan beberapa cemilan yang tersaji di atas meja.
Tidak memiliki aktifitas apapun saat menunggu, pikiran Byun kembali pada kejadian dua hari lalu ketika Kai mengajaknya berbicara empat mata di teras belakang cafe.
Byun menatap pada secangkir kopi yang baru saja Kai berikan untuknya sebelum pria itu duduk menyebelahi. Tidak ada yang bersuara selama tiga menit ke depan, terkecuali hanya terdengar hempasan nafas mereka diantara suasana malam yang sunyi.
Byun tahu jika ekspresi Kai terlihat tenang, itu berarti apa yang akan mereka bahas adalah sesuatu yang serius. Untuk itulah Byun hanya terdiam menunggu sampai Kai yang lebih dulu memulai obrolan.
"Aku dan Soojung memutuskan untuk kembali bersama."
Byun menoleh, namun tidak terkejut karena kedatangan Soojung siang tadi ke cafe sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
"Tadinya aku ingin menyerah saja, tapi setelah dipikir lebih jauh lagi, aku benar-benar tidak bisa mengabaikan Soojung. Aku tidak bisa berhenti menginginkannya, aku yakin kau pasti paham tentang perasaan semacam itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cafe Universe
RomansaKisah perjalanan cinta empat pemuda yang ingin meraih mimpi-mimpi mereka di dalam satu ruang yang disebut persahabatan. #Chan-Sean-Kai-Byun#
