"Satu-satunya hal yang lebih menyedihkan dari dibenci adalah diabaikan."
March, 16,2019
*****
"Aku...ingin kita bersama..."
Baechu membanting tubuhnya di atas sofa yang menghadap ke arah meja tv. Tidak ada yang salah dengan kalimat yang meluncur dari mulut Sean beberapa menit yang lalu, tapi anehnya dia merasa kesal.
Salah satu alasan kenapa mereka membatalkan rencana untuk menonton film- selain karena terlambat-adalah karena pernyataan bodoh pria itu. Awalnya Baechu pikir Sean hanya bercanda saja, tapi melihat dari cara Sean menatapnya, Baechu benar-benar tidak habis pikir.
"Dasar modus!" decaknya dengan kesal.
"Siapa yang modus?" tahu-tahu Namju sudah muncul di ambang pintu. Sepertinya dia juga baru kembali dari suatu tempat dan berpikir umpatan Baechu tadi tertuju untuknya.
"Bukan kau, tapi dia."
"Oh, pacar barumu itu. Maklumlah, dia kan masih lebih muda darimu. Paling tidak, kalau dia belum tahu bagaimana cara memperlakukanmu dengan baik, kau kan bisa mengajarinya," selesai berkata, lantas Namju mendekat. Remaja itu lalu memutuskan untuk duduk di lantai sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana jinsnya.
"Siapa yang pacar siapa?!" Baechu semakin kesal. Dia langsung menepuk pundak adiknya dengan keras, membuat Namju jadi meringis kesakitan. Mau membalas balik, tapi Baechu sudah lebih dulu menatapnya horor.
"Kalau kau bukan pacarnya, kenapa kau harus bertingkah seperti kau itu pacarnya sih? Sudah sering sekali kau bertindak seperti ini, apa kau tidak sadar? Kau bahkan mengkhawatirkannya saat sedang sakit, kau juga marah-marah kalau dia datang terlambat mengambil kue kemari. Untung dia sabar."
Sekarang Baechu merasa tidak memiliki kalimat apapun untuk membantah ucapan adiknya. Kalau diingat-ingat, dia memang sering mengomeli Sean selama mereka berteman dan Sean tidak pernah membalas satu pun perkataannya yang ketus. Kalau tidak diam saja, paling pria itu hanya akan meminta maaf dan membiarkan Baechu mericuh sampai kata-katanya habis.
Ah, tapi semua itu modus! Baechu buru-buru meralat asumsinya mengenai Sean yang dinilai baik dimata Namju maupun ibunya.
"Lihat saja, kau pasti akan marah-marah lagi kalau dia tidak muncul satu atau dua hari ke depan. Aku ini adikmu, Nuna...," Namju menunjuk-nunjuk dadanya sendiri, "Segala sesuatu tentangmu aku ini sudah hapal. Bau kentutmu saja aku paham."
"Pokoknya kami hanya berteman, titik!"
Namju langsung memasang ekspresi jengah, berlagak bosan, " Hey, Nuna...teman itu bisa jadi sahabat, teman bisa jadi saudara, teman bisa jadi musuh, teman bisa jadi pacar dan bahkan banyak sekali kisah pertemanan yang berakhir menjadi cinta. Kalau kau memang memilih dia untuk tetap menjadi temanmu saja, kau tidak perlu sepeduli itu padanya. Dasar aneh!"
Malas meladeni ocehan Namju, Baechu segera beranjak dari rebahannya dan memilih masuk ke dalam kamar. Disana, dia duduk menatap deretan foto-foto Yunho yang masih tertepel rapi di dinding.
Baechu berpikir, tidak pernah ada pria manapun yang setara jika dibandingkan dengan Yunho. Pria yang begitu gagah, sangat bertanggungjawab, serta mampu membuat Baechu selalu merasa terlindungi jika ada bersamanya.
"Maaf kalau hari ini aku melupakanmu lagi."
Selalu kalimat itu yang Baechu gumamkan sendiri setiap kali pikirannya selalu dipenuhi akan segala sesuatu tentang Sean. Kemudian dia teringat lagi akan ucapan Namju yang kerap menohok hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cafe Universe
RomanceKisah perjalanan cinta empat pemuda yang ingin meraih mimpi-mimpi mereka di dalam satu ruang yang disebut persahabatan. #Chan-Sean-Kai-Byun#
