Chapter 3. Trauma

873 185 355
                                        

"Tidak masalah untuk tidak merasa baik-baik saja. Tidak masalah untuk merasakan takut. Tidak masalah jika harus bersedih dan menangis. Tidak apa-apa, itu hal biasa untuk manusia."

March, 23,2019

*****

Sean baru saja memarkirkan mobil Chan di garasi cafe ketika melihat Kai keluar dengan menenteng tas berisi baju-bajunya yang kotor untuk dibawanya pulang.

Pria itu acuh saja melangkah masuk membiarkan Kai berjalan melewatinya. Tapi begitu dirinya sampai di ambang pintu, Sean menoleh.

"Besok pagi, tolong kau jangan terlambat datang kemari. Chan mengajar sampai siang dan Byun harus berbelanja ke toko buah. Aku mengandalkanmu, dude."

"Hmm, oke...," hanya itu yang Kai suarakan tepat ketika dirinya membuka pintu mobil lalu melempar asal tasnya ke bangku belakang.

Karena ulah Byun, lagi-lagi Kai harus merasa luar biasa jengkelnya. Emosinya sudah hampir meledak, tangannya sampai gatal ingin menebas leher orang akibat dirinya yang tertipu habis-habisan. Kalau hanya Mako yang dihamili oleh kucing lain, seharusnya Byun tidak perlu seheboh itu menanggapinya. Semua jenis kucing dimanapun hampir sama saja kan kelakuannya. Mereka kadang bermain di halaman, pergi entah kemana dan kembali dengan sudah membawa beban di perutnya. Lagipula, kucing juga butuh teman sesama kucing dan mereka bebas untuk jatuh saling cinta seperti manusia pada umumnya. Kalau Byun tidak terima, kenapa bukan dia saja yang menghamilinya.

Malas melihat wajah Byun berseliweran di sekitarnya, Kai yang tadinya ingin menginap di cafe jadi berubah pikiran. Terlebih saat mengetahui dia nyaris kehabisan baju-bajunya yang ada di dalam lemari. Ini saja dia memakai celana dalam bekas pakai yang sengaja dia balik.

"Kai..."

Pria itu sudah duduk dan hendak menutup pintu mobil ketika suara lirih itu memanggilnya. Kai menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada siapa-siapa disana.

"Kai...."

Suara itu terdengar lebih keras dari panggilan yang pertama tadi, jadi kali ini Kai mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Lalu matanya menangkap sosok seorang gadis yang tertangkap dari kaca spion. Pria itu kemudian memutuskan untuk keluar dari mobil dengan kedua matanya yang memincing.

Itu Soojung, berdiri sendirian di ambang pintu gerbang tepat di bawah lampu penerangan. Kalau saja gadis itu memakai pakaian serba putih, Kai yakin dirinya pasti akan mengira bahwa Soojung semacam makhluk halus yang sedang menunjukan keberadaannya. Tapi bukan itu yang sekarang Kai pikirkan, dia hanya bertanya dalam hati apa yang sedang gadis itu lakukan malam-malam begini?

Ketika Kai mendekat, Soojung masih berdiri disana. Sikapnya berubah canggung, apalagi mata mereka kini saling beradu disaat jarak keduanya kian menipis.

"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Kai menyapa lebih dulu, terlihat santai meski sebenarnya dalam hati jantungnya berdegup tidak karuan. Pria itu juga menyunggingkan senyuman tipis, berakting agar hidupnya terlihat bahagia.

"Aku...tidak merasa baik-baik saja dan karena itu aku datang kemari untuk menemuimu," Soojung mengatakannya dengan ragu-ragu sebelum akhirnya menurunkan pandangan matanya ke bawah.

Yang dilakukan Kai tidak lebih dari sekedar menatap Soojung cukup lama, sampai suara hempasan nafasnya yang kasar terdengar berulang kali. Kalau boleh bicara jujur, Kai jauh lebih merindukan Soojung, lebih ingin bertemu dengannya, lebih menderita dari siapapun. Tapi mengingat bagaimana sikap kakak Soojung beberapa waktu lalu yang memukul serta merendahkannya, tiba-tiba saja semua perasaan itu lenyap dan berganti menjadi benci.

"Kau...ada waktu?" tanya Soojung setelah memberanikan diri untuk mendongak, berharap Kai juga menginginkan hal yang sama seperti dirinya.

"Kau tahu ini jam berapa kan? Apa pantas seorang gadis baik-baik dari keluarga terpandang kabur dari rumah hanya untuk menemui seorang pria brengsek yang sangat tidak pantas untuknya?"

Cafe UniverseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang