Chapter 9. Pengakuan

702 151 233
                                        

"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu."

Mei, 15,2019

*****

Wanita itu sibuk berdandan dan  lima menit yang lalu suaminya baru saja menelepon dari Macau. Begitulah suasana yang ada di rumah itu, seluruh penghuninya selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kai lupa kapan terakhir kali mereka semua berkumpul di meja makan atau bersantai bersama agar terlihat seperti sebuah keluarga. Sayangnya hal-hal manis semacam itu nyaris tidak pernah Kai rasakan lagi semenjak dirinya masuk ke sekolah dasar hingga seusianya sekarang.

Sejak tadi Kai hanya berdiri di ambang pintu kamar ibunya sambil memandangi wanita berusia setengah abad lebih yang masih terlihat sangat cantik dan segar. Baru setelah ibunya menoleh, Kai melempar senyuman tipis.

"Kenapa berdiri saja disitu?"

Mendapat respon yang baik dari ibunya, Kai melangkah masuk lalu memeluk ibunya dari belakang untuk bermanja-manja sebentar disana. Ibunya jadi merasa aneh karena Kai jarang bersikap seperti ini.

"Bisakah hari ini ibu tidak pergi kemana-mana?" tanpa melepas pelukannya, Kai bertanya dengan nada seolah dia memang tidak ingin ibunya pergi dari rumah.

"Ibu harus menghadiri acara amal untuk yayasan yang dimiliki oleh salah satu teman ibu di Gangnam, acaranya akan berlangsung sekitar satu jam lagi. Kenapa?"

Sekarang Kai meletakan dagunya di  pundak wanita itu sementara bibirnya mengerucut kecewa. Dia terdiam untuk beberapa saat, membuat ibunya terus mengerutkan kening merasa curiga.

"Bu...," Kai akhirnya memanggil lirih.

"Hemm...??"

"Bisakah sehari ini ibu ada dirumah saja? Aku ingin makan masakan buatan ibu, bubur ayam yang setiap pagi jadi menu sarapanku saat aku masih kecil, ibu masih ingat kan?"

Ibunya tentu saja masih mengingatnya dengan jelas, bahkan dirinya tidak pernah absen menyuapi putra satu-satunya itu saat mereka sarapan bersama.

"Aku suka melihat ibu mengenakan apron di dapur, aku juga suka ibu yang sibuk berberes di rumah. Aku ingin ibu memiliki kegiatan seperti ibu-ibu yang lain yang setiap aku pulang, ibu akan menyambutku di depan pintu."

Mendengar Kai menuturkan keinginannya dengan ekspresi sedih, mata ibunya jadi berkaca-kaca. Yang dia tahu, putra semata wayangnya itu adalah pria yang mandiri, seorang anak yang jarang mengeluh ataupun menceritakan kisah-kisah hidupnya diluaran sana. Dia pun tidak banyak menuntut dan selalu mengatakan iya pada apa saja perintah yang kedua orang tuanya berikan. Beberapa masalah yang dia timbulkan hanya urusan sepele. Jadi ibunya pikir, Kai benar-benar menikmati kehidupannya hingga detik ini.

"Kau...ada sesuatu yang ingin kau ceritakan pada ibu?"

Tidak butuh waktu lama untuk Kai mengangguk mengiyakan. Tidak pantas memang di usianya yang ke 24 ini, dia bertingkah seperti bocah yang berusia 5 tahun. Kai yakin jika Byun mengetahuinya, sudah pasti rekan kerjanya yang bermulut super licin itu akan mencibirnya dengan berbagai kata-kata sindiran yang menyakitkan. Tapi masa bodoh, untuk saat ini Kai sangat membutuhkan seseorang yang mau memberinya support dalam hal apapun. Termasuk ketika dia mengatakan tentang hubungannya dengan Soojung.

Ibunya lantas menghempas nafas panjang, melepas kalung etnik berhias batu-batu mutiara sebelum akhirnya mengajak Kai duduk berdua di ruang tengah. Wanita itu sudah tidak memikirkan lagi untuk pergi menghadiri sebuah acara amal, melainkan fokus mendengarkan putranya berkeluh kesah. Sesekali tangannya mengusap lembut punggung Kai, tindakan sepele yang membuat putranya jauh merasa lebih nyaman dibandingkan saat dirinya memberi segepok uang.

Cafe UniverseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang