11. (a) Kesempatan kedua

778 156 229
                                        

"Hidup berakhir saat kita berhenti bermimpi. Harapan hilang saat kita berhenti percaya. Dan cinta gagal saat kita berhenti peduli.

Mei, 20, 2019.

*****

Chan benar-benar akan menikah besok lusa dan ini hari terakhir Kai mengurus segala orderan makanan yang akan dihidangkan pada acara resepsi.

Ditemani oleh Soojung, Kai mengendarai mobilnya menuju ke beberapa tempat hingga posisi terakhir yang mereka tuju adalah rumah milik ibu Baechu. Sekali lagi Kai ingin membicarakan mengenai pesanan kuenya yang harus sudah siap di lokasi sebelum para tamu undangan tiba disana.

"Siapa wanita itu?" begitu turun dari mobil dan melihat Baechu baru pulang bekerja, Soojung bertanya dengan nada ketus.

"Dia itu mantan pacar Sean, kau tidak perlu berpikir macam-macam. Dari dulu juga kami memesan kue untuk cafe Universe disini," Kai menautkan jemarinya pada jemari Soojung, kemudian mengajak gadis itu masuk ke dalam.

"Kenapa dia cantik?" masih belum percaya, Soojung lantas memberi lirikan sinis ke arah Kai sebelum akhirnya dia mendengus sebal.

"Sean dan aku kan hampir sama, kami memang memiliki selera yang tinggi terhadap wanita. Sudah, pokoknya bagiku kau itu gadis yang paling cantik dan sexy di dunia ini, Kle."

"Cih, awas saja kalau kau bohong!"

Baechu dan ibunya sudah berdiri berdampingan di teras sambil melempar senyuman hangat untuk menyambut kedua tamu mereka yang datang sore ini. Dan bukan Soojung namanya kalau tidak bersikap menyebalkan. Ketika Kai memperkenalkannya sebagai pacar, Soojung hanya bersedia membalas jabatan tangan dari ibu Baechu saja. Beruntung hal itu tidak menjadi masalah dan mereka berdua tetap dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu.

Saat Baechu sibuk membuat minuman, Kai dan ibunya membahas mengenai acara pesta pernikahan Chan. Sesekali itu nama Sean terucap dan kebetulan Baechu samar-samar mendengarnya.

"Kecelakaan? Ya Tuhan...!"

Baechu langsung berhenti mengaduk teh hangat yang dia buat. Sesuatu seperti menggelenyar di dalam dadanya begitu ibunya memekik tertahan. Dan alih-alih mengantarkan minuman tehnya ke ruang tamu, gadis itu justru bergegas masuk ke dalam kamar lalu bertindak seperti orang yang gugup serta gelisah.

Baechu paling anti mendengar kata 'kecelakaan'. Jujur saja, hal itu mengingatkannya akan kejadian beberapa tahun silam yang membuatnya nyaris seperti orang gila kambuhan. Sekarang begitu mendengar kata itu lagi dan ditambah itu menyangkut seseorang yang dia kenal, entah kenapa Baechu mendadak berkeringat dingin.

Benarkah Sean mengalami kecelakaan? Apa yang terjadi, bagaimana kabarnya sekarang?

Baechu meremas-remas jemarinya sendiri sampai telapak tangannya memerah. Dia juga berjalan mondar-mandir berusaha untuk tetap merasa tenang namun sepertinya gagal. Bayangan-bayangan buruk mengenai Sean terus berkelibatan cepat di pelupuk mata. Sudah cukup lama dia sebenarnya ingin melihat sosok pria itu, tapi harga dirinya yang terlalu tinggi membuatnya tidak bisa bertindak apapun.

Baechu kemudian berdiri di depan cermin, menatap pada sosok dirinya sendiri sambil berulang kali menghempas nafas kasar. Dia tidak pernah merasa bahagia setelah melepas kepergian pria itu. Dunia yang seharusnya membuatnya bebas, justru mengukungnya ke dalam satu penyesalan yang begitu dalam. Matanya pun selalu sembab karena terlalu banyak menangis. Hatinya seperti tercubit perih dihantui oleh rasa malu dan kecewa.

Cafe UniverseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang