11.(b) Kesempatan Kedua

1K 151 327
                                        

"Aku dengan kesempatanku, kau dengan kesempatanmu. Lalu, adakah takdir yang membuat kesempatan kita menjadi sama?"

Mei, 23, 2019

*****

"Jika kau pergi, jangan pernah berharap untuk bisa kembali lagi."

Kedua mata Baechu terpejam dalam, sebutir kristal bening berhasil meleleh lambat membuat aliran sungai kecil di pipinya.

Dia sadar, kalimat Sean yang menamparnya barusan tidaklah setara dengan kata-kata menyakitkan yang pernah dia ucapkan sebelumnya. Baechu merasa dirinya memang pantas untuk menerima balasan kebencian dari pria itu. Jadi tanpa harus berpikir lebih jauh lagi, Baechu mencoba kembali melanjutkan langkahnya diiringi dengan bulir-bulir air mata yang saling jatuh bersusulan.

"Dasar bodoh!"

***

Semenjak gadis itu menjatuhkan harga dirinya di hadapan banyak orang, semenjak itu pula Sean memilih untuk mundur secara teratur. Lagipula, seberapapun besarnya rasa sayang yang dia miliki, hal itu hanya akan berakhir sia-sia jika orang yang dia cintai tidak sedikit pun bersedia untuk membalas perasaannya. Nasehat ibu dan Chan akhirnya menjadi satu-satunya jalan yang dapat Sean lakukan sejauh ini.

Mungkin 3 hari pertama dia seperti orang frustasi yang kerjaannya tidak lebih hanya sekedar minum-minum saja di sebuah pub sampai pagi buta. Selanjutnya, dia akan pulang dan tidur sampai siang hari mengabaikan segala pekerjannya di cafe hingga Chan marah-marah dan mengamuk padanya. Tapi, siapa yang peduli?

Kai mungkin akan menjadi orang pertama yang tahu. Sayangnya Kai bukan seorang penghibur yang baik. Ingat kan disaat sedang merasakan patah hati saja, Kai jadi sulit membaca, pandangannya memburam, atau dia akan berubah jadi zombie. Baru di hari selanjutnya, Byun mengetahui kabar itu. Dan karena Byun orang yang sangat pengertian, maka dia banyak memberi masukan pada Sean termasuk menasehati Sean agar pria itu tidak larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Byun kerap menemani Sean bercerita setelah cafe mereka tutup. Juga membantu Sean menyibukan diri agar dia bisa sedikit melupakan masalahnya.

Sean akan terlihat tegar dihadapan orang-orang. Melempar senyum terbaiknya ketika melayani pengunjung dan bersikap layaknya seorang pria single yang hidupnya cukup bahagia, padahal tidak. Rupanya hari-hari seperti itu telah dia lewati sekitar kurang lebih tiga minggu, benar-benar tersiksa.

Dan jika saja Baechu tidak datang menemuinya hari ini, Sean yakin semakin hari berat badannya akan semakin menurun. Ada semacam perasaan aneh yang terus mengganjal di hatinya. Terlebih saat melihat Baechu menangis meminta maaf di sisinya. Bukan Sean tidak mau melihat, tapi pemandangan itu membuat rasa sakit hatinya kembali muncul. Dia ingin marah, anehnya itu tidak bisa dia lakukan. Jadi selama gadis itu terus berada di sisinya dan berbicara macam-macam, Sean hanya dapat menatapnya lekat-lekat. Itu sebenarnya merupakan tindakan terbaik yang bisa Sean lakukan daripada dirinya harus memaki atau bagaimana.

Sekarang Sean tidak perlu lagi mengingat apa saja yang sudah terjadi. Menaklukan hidup tidak semudah membalik telapak tangan, pun saat seseorang menjalani sebuah hubungan. Jadi dengan gerakan singkat yang Sean lakukan, dia langsung menarik satu lengan gadis itu, memutar tubuhnya, lalu mendorongnya hingga punggung Baechu sukses membentur pada permukaan dinding.

"Kubilang kau tidak akan pernah bisa kembali, tidak akan kubiarkan."

Dan dalam sekejap, ucapannya yang tajam terhapus sudah dengan bibirnya yang meraup bibir Baechu seketika. Dia tengah meminta pertangungjawaban atas apa saja yang sudah gadis itu lakukan. Baik kepergian maupun kedatangannya secara tiba-tiba, ternyata telah membuat Sean harus menahan rasa sakit yang dinamakan rindu.

Cafe UniverseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang