Chapter 2. Kembali ke Titik Awal

912 171 266
                                        

"Ketika kau belum mendapatkan hasil dari apa yang kau harapkan, mungkin kau butuh usaha yang jauh lebih keras. Jangan menyerah..."

March, 19, 2019.

****

"Sudah?" Sean tersenyum-senyum sendiri ketika melihat Baechu yang sedang berpikir pion mana yang harus dia geser untuk bisa mengalahkan lawannya.

Gadis itu tahu tentang semua aturan bermain dalam catur, tapi untuk melawan Sean rasa-rasanya itu mustahil. Dua bentengnya saja sudah dimakan, sekarang posisi kudanya juga ikut terkunci.

"Ah sudahlah, iya aku tahu aku kalah," saking kesalnya, Baechu malah sengaja merobohkan semua pion yang masih berderet acak di atas papan catur kemudian membuat benda-benda kecil itu menggelinding berjatuhan ke lantai.

Sean langsung berinisiatif untuk merapikan semua pion dan mengakhiri permainan mereka. Baechu kan memang sering bertindak seenaknya, untung saja pria itu sudah terbiasa menghadapi moodnya yang naik turun tidak jelas.

Kebetulan ini malam Minggu, dimana Baechu memilih menghabiskan waktunya dengan mengunjungi cafe Universe sejak sore hari tadi.

Teras itu menghadap pada kebun kecil yang dipelihara dengan baik oleh Byun. Dan karena di dalam sedang ada pertunjukkan rutin dari band Indie selama kurang lebih dua jam ke depan, Sean yang tidak begitu menyukai keramaian kemudian mengajak Baechu untuk berpindah tempat mencari suasana yang lebih tenang.

Sebenarnya itu merupakan cara halus Sean untuk kabur dari pekerjaan di konter dapur yang nyaris tidak memberinya waktu beristirahat. Lagi pula, entah kenapa dia malu setiap kali melihat kakaknya ikut tampil dan menyanyi di atas panggung.

Suara Chan bagus, tapi gayanya yang sok artis membuat Sean ingin membenturkan kepalanya ke permukaan dinding. Benar-benar tingkat narsisme pria tinggi itu berada pada level sangat memuakan. Menawarkan siapa saja yang ingin bersedia menyeka keringat di keningnya, atau menjulurkan tangan mengajak mereka bersalaman padahal tidak ada yang terlihat menginginkannya. Bersumpah demi apapun, Kai saja kadang langsung sakit perut dan ingin muntah.

Berbeda dengan reaksi Byun yang malah seperti penonton bayaran. Dia sering kedapatan heboh sendiri, bertepuk tangan menggila sampai lupa bahwa kadang yang ditepuk-tepuknya adalah lengan milik orang lain. Dan kalau sudah kena omelan atau ancaman bahwa dia akan ditempeleng oleh pengunjung yang merasa terganggu dengan tingkahnya, Byun hanya akan duduk menyendiri di konter dapur sambil memangku Mako seperti anak yang hilang dari ibunya di pasar swalayan.

"Kakak-kakakmu nanti bisa menyalahkanku kalau kau meninggalkan tugasmu di dalam. Aku kan jadi tidak enak."

"Chan hanya akan memotong gajiku," sambil menaruh papan catur di bawah meja, Sean menjawabnya dengan nada santai.

"Wah...sekejam itu, kau juga kan pemiliknya."

"Hmm...memang," sekarang Sean menegakkan duduknya kembali sementara matanya menatap lurus ke depan. "Tidak ada yang diistimewakan diantara kami dan karyawan lain. Yang salah akan mendapatkan hukuman, yang lembur akan mendapatkan gaji tambahan. Bahkan kami semua beristirahat dan makan dengan menu yang sama, membagi pekerjaan dengan sama rata. Itu bertujuan untuk menghindari kesenjangan maupun kecemburuan sosial. Kalau hanya aku sebagai pemilik tunggal cafe ini, mungkin aku bisa saja bertindak semauku. Tapi karena ada kami berempat ditambah dengan karyawan lain disini, mau tidak mau, kami pun harus bisa menahan ego masing-masing."

"Lalu, apa yang membuat kalian merintis bisnis cafe ini kembali? Maksudku...setelah apa yang sudah terjadi kemarin-kemarin itu...," Baechu merasa tidak enak untuk melanjutkan dan hanya mengedikkan bahunya kecil.

Cafe UniverseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang