Chapter 4. Dunia Baru

900 172 423
                                        

"Tidak akan bisa disebut langit jika tidak ada awan mendung. Tidak akan bisa disebut cinta jika tidak pernah merasa rindu."

March, 27, 2019

*****

[Selesai bekerja, pulanglah ke rumah. Biar aku yang akan menemuimu disana, jangan ke cafe]

Mendapat pesan singkat seperti itu 10 menit sebelum jam kerjanya usai, Baechu tidak membalas apapun terkecuali langsung merasa panik. Sesuatu seperti telah menonjok perutnya sampai ke ulu hati dan itu membuatnya harus bolak-balik pergi ke toilet hingga membuat karyawan lain menatapnya dengan curiga.

Baechu tidak ingin buang air kecil atau melakukan apapun disana, melainkan hanya berdiri menghadap pada cermin besar. Sebentar-sebentar dia menepuk kedua pipinya yang memerah sambil mencoba sekuat mungkin untuk tidak tersenyum lagi pada udara kosong.

Pun begitu saat dirinya sampai di rumah, rasa-rasanya pipinya masih saja terasa panas padahal udara sore semakin dingin. Baechu jadi takut Namju akan berkomentar macam-macam tentang dirinya yang sekarang terlihat seperti orang gila.

"Tumben kau sudah pulang," Namju tentu saja heran melihat kakaknya yang terbiasa pulang malam, sekarang sudah sampai di rumah tepat pukul setengah 6 sore. Itu keajaiban menurutnya. "Cafe itu tidak ambruk kan?"

Pertanyaan bocah itu mengundang Baechu untuk menoleh ketika akan memasuki kamar.

"Maksudmu?"

"Ya cafe pacarmu itu. Tidak mungkin kau melewatkan satu hari saja tanpa pergi kesana kan? Serius memang ambruk, atau bagaimana?" dengan gayanya yang santai Namju merangkai sebuah mainan robot sementara kakinya berselonjor di atas meja.

Ibu memang saat ini sedang tidak ada di rumah, mungkin itu sebabnya Namju tidak kelayaban kemana-mana dan memilih berkutat di rumah dengan sekotak mainan bekas masa kecilnya.

"Cafe itu adalah salah satu cafe terbaik yang ada di Seoul, kau jangan bicara sembarangan ya!"

"Wah...pacar yang baik membela sampai sebegitunya ya," sekarang Namju menggelengkan kepala salut tapi dia tetap fokus pada robot mainannya yang sudah hampir jadi.

Mendengar Namju menyebut kata 'pacar' sampai dua kali membuat Baechu jadi berpikir sesuatu. Gadis itu kemudian masuk ke dalam kamar, menutup pintunya rapat-rapat lalu menelepon seseorang setelah dia duduk di tepian tempat tidur.

"Apa yang sudah kau katakan pada Namju?" Baechu langsung melontarkan pertanyaan begitu panggilan teleponnya tersambung.

[Mengatakan apa?] suara di seberang sana terdengar bingung.

"Soal itu...," malu mengatakannya, Baechu berpikir sebentar untuk mencari kata yang lebih tepat. "Yang tadi itu, yang tadi siang..."

[Apa?]

"Ck!" sekarang Baechu berdecak, kesal karena lawan bicaranya seperti pura-pura bodoh tidak mengerti maksud yang sedang dia bicarakan. "Kau tidak mengatakannya pada siapapun kan?"

[Aaah...yang itu. Iya belum, kenapa? Apa kau sudah pulang? Aku baru saja memberi makan kucing Byun yang sedang hamil. Kau sedang apa sekarang?]

Itu sebenarnya hanya pertanyaan biasa saja. Anehnya, pipi Baechu sekarang kembali memanas dan kenapa suara di seberang sana rasanya sangat enak di dengar?

Cafe UniverseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang