Chapter 6. Pengertian

775 176 363
                                        

"Pria seringkali mengatakan bahwa wanita itu selalu benar; benar-benar ingin dimengerti, benar-benar ingin diperhatikan dan benar-benar ingin dipahami."

April, 17, 2019

*****

Kerjaannya hanya melamun, duduk diam, menatap kosong ke depan, bahkan sampai mengabaikan panggilan dari siapapun. Sudah lebih dari tiga hari ini sikap Sean selalu uring-uringan. Biasanya saja jika Mako datang mendekat ke arah kakinya, Sean akan dengan senang hati menggendong kucing hamil tersebut sambil memberinya makan. Kali ini ekor Mako malah diinjaknya kuat sampai membuat Byun memaki tidak terima dan langsung membawa Mako sejauh mungkin dari jangkauan pria malang itu.

"Dia itu kenapa sih? Apa setelah membeli mobil semua uangnya habis sampai-sampai dia harus sesedih itu setiap hari?" Byun memasukan Mako ke dalam kandang kemudian mendekat ke arah Chan yang sedang mengiris wortel.

Siang nanti rencananya Chan akan kembali menjenguk Rose dan karena Rose tidak menyukai makanan Rumah Sakit, Chan berencana akan memasakan makanan favorit gadis itu.

"Dia tidak bercerita apa-apa padaku," jawab Chan santai. "Pacarnya juga tidak pernah lagi muncul di cafe. Tidak mungkin kan mereka putus?"

"Putus??" Byun membelalakan matanya terkejut. "Apa adikmu itu sejenis Kai yang sebentar-sebentar putus nyambung begitu? Kenapa sih orang tampan sukanya begitu?"

Chan melirik Byun dengan sinis. "Jangan menyamaratakan penilaian semacam itu pada semua pria di dunia ini. Kau kan tahu aku ini juga tampan, tapi aku tidak begitu."

Byun hanya menanggapi kenarsisan Chan dengan memutar dua bola matanya malas. Siapa yang tidak tahu kalau Chan adalah tipe pria yang begitu bangga akan dirinya sendiri melebihi apapun. Wallpaper di ponselnya saja adalah fotonya sendiri saat sedang bermain gitar di studio. Dan kalau orang lain mungkin akan memasang poster-poster band kesayangan mereka di dinding kamar, Chan hanya akan memajang fotonya sendiri yang dia cetak nyaris sebesar pintu rumah. Artis saja bukan, tapi tingkat kepercayaan diri pria itu menurut Byun memang sudah berada pada level sangat tidak tertolong.

"Ngomong-ngomong, apa kau memasak ini semua untuk Roseanne? Bagaimana kondisinya sekarang?" iseng Byun mencomot seiris wortel yang ada di dalam piring kemudian memakannya sambil menatap Chan ingin tahu.

"Lumayan membaik, dokter bilang besok dia sudah boleh pulang."

Byun mengangguk-angguk mengerti dan sekali lagi, saat dia mencoba mencomot irisan wortel, Chan sudah melotot galak ke arahnya.

"Apa itu tandanya kalian sudah balikan?" pertanyaan itu rupanya Byun utarakan untuk mengalihkan perhatian Chan, padahal jarinya yang lentik sedang berjalan ke arah piring untuk meraih irisan wortel yang tadi tidak jadi diambilnya.

Chan kebetulan sedang memanaskan air dan terlambat melihat aksi licik itu. Saat dia melirik Byun, rupanya satu irisan wortelnya sudah lenyap lagi dari dalam piring.

"Kalau aku balikan dengannya, memangnya kau mau apa?"

Bersiap-siap akan menagih Chan untuk mentraktirnya makan, kedatangan Kai yang seperti orang kebakaran jenggot membuat dahi kedua pria itu berkerut.

Kai menjadikan nampan yang dia bawa untuk menutupi kepalanya, kemudian dia berjongkok tepat di sisi kaki Chan.

"Sttt!" buru-buru Kai meletakan jari telunjuknya di bibir, meminta keduanya untuk tutup mulut sebelum mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Cafe UniverseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang