4. New Life, New Routine

13.7K 822 64
                                        

Suara alarm yang berdering nyaring diatas nightstand membujuk kelopak mataku untuk terbuka, mengembalikan kesadaran penuhku dan menarikku kembali dari dunia mimpi untuk memulai hariku.

ugh...

Dengan erangan lemah, tanganku menyelinap keluar dari dalam selimut dan mematikan jam digital yang terus berdering dengan sangat menyebalkannya kemudian kembali meringkuk diatas ranjang; menarik tubuh hangat Joohyun kedalam pelukanku dan kembali tidur.

Joohyun menghela nafasnya; menandakan kalau ia sudah terbangun. Walaupun begitu, ia memutuskan untuk mengusap tanganku yang melingkari pinggangnya dan menguap malas.

"Buenos días, Seulgi-ya."*  sapanya parau sebelum kembali menguap dan menggeliat lemah dalam pelukanku.

(*Selamat pagi.)

Aku terkekeh mendengar ucapannya, bibirku tak ragu untuk menempelkan ciuman singkat di bahunya yang terlihat lalu mengeratkan pelukanku.

"Buenos días, sayang." balasku dengan tawa kecil. Joohyun lanjut meregangkan tubuhnya lalu perlahan menyingkirkan pelukanku; tubuhnya menjauh dan ia pun terduduk dengan punggungnya menghadapku.

"Saatnya bangun~" ujarnya lalu menggunakan jemari tangan untuk menyisir helaian rambutnya yang kusut. "Aku buatkan sarapan."

"Tunggu." cegahku dengan genggaman lemah disekitar lengannya. Joohyun memutar tubuhnya untuk menghadapku, alisnya terangkat heran.

"Hm? Wae?"

"Kau tidak mau memberikanku ciuman selamat pagi?"

Ujung bibirnya terangkat naik membentuk senyuman, Joohyun menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinga lalu mendekat kearahku; menutup kelopak matanya lalu tak ragu menekan bibirnya lembut keatas milikku.

Aku tersenyum dalam ciumanntya, balas menekan bibirnya yang lembut kemudian melumatnya pelan. Namun Joohyun tak mau berlama-lama sepertinya; ia segera menjauhkan wajahnya lalu bangkit berdiri.

"Bersiaplah." katanya singkat lalu melenggang pergi ke pintu keluar sambil  mengikat helaian rambutnya yang tergerai panjang.

"Aaaaaah~" aku mengerang malas sembari meregangkan tulang dan ototku yang kaku, menggaruk kepalaku yang rambutnya kusut tak teratur sebelum turun dari ranjang dan berjalan lunglai menuju kamar mandi.

Air segar mengucur deras dari shower dan berjatuhan membasahi sekujur tubuhku, aku sedikit meringis sakit begitu air dingin itu menyentuh luka-luka cakaran yang di punggungku.

Ah, rupanya luka-luka itu belum mengering sempurna. Sepertinya Joohyun benar-benar tidak kuat menahan diri, atau aku yang terlalu kasar padanya setiap diatas ranjang?

Aku menggeleng untuk mengusir dugaan kotor itu lalu segera menyelesaikan kegiatan mandiku lalu berjalan keluar dalam balutan bathrobe... lalu tersenyum hangat.

Kemeja ku sudah tergantung rapi di hanger, sangat rapi.

Aku hanya bisa terkekeh dalam hati begitu tahu bahwa pasti; Joohyun yang sudah menyetrika pakaianku sampai terlihat mulus dan lembut begitu.



-



"Berhati-hati dalam berkendara, patuhi aturan lalu lintasnya." Joohyun berujar selagi mengantarkanku ke pintu depan; bersiap untuk meninggalkan rumah. "Kau sudah mengerti bahasa Spanyol dasar, kan?"

Aku tertawa lalu memutar tubuhku untuk menghadapnya, melihat kerutan khawatir yang terpasang didahinya dengan cengiran kecil.

"Iya, sayang." jawabku dengan kekehan, mengambil alih tas laptop yang ia pegang lalu mengusap pipinya lembut. "Jangan khawatir, kau seperti seorang ibu yang khawatir pada hari pertama sekolah anaknya saja."

[M] Into You 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang