SXCPD III : Sneaky Quicky

16.6K 668 89
                                        

Warn : Smut, NC, konten eksplisit dengan bahasa tak pantas. Anak kecil jauh-jauh, close wp-nya terus buka Google Classroom dan selesain tugas kalian, okay?😁👍











Hari mulai gelap saat Red Velvet akhirnya selesai dengan Showcase Stage mereka untuk album The Perfect Red Velvet; para penonton yang hadir perlahan mengosongkan venue dan hanya menyisakan petugas kebersihan untuk membersihkan kekacauan yang mereka buat selagi menyaksikan sang idola diatas panggung.

Staff, serta kru acara juga akhirnya hampir selesai dengan pekerjaan mereka di belakang layar; kebanyakan mereka terlihat sedang duduk-duduk santai si sofa ruang ganti, atau merokok di lorong. Sementara para member sendiri tengah berganti baju untuk bersiap pulang dan beristirahat setelah hari yang panjang.

"Yah, aku ingin makan ssamgeopsal..." Yeri bergumam selagi melepas atasan cropped top hitam yang kali ini menjadi kostumnya; membuat helaian pirangnya makin berantakan.

"Kalian mau makan terlebih dahulu sebelum pulang?" tanya salah satu stylist mereka dibalik masker yang ia pakai; menggenggam ponselnya erat di dekat pintu. "Aku akan memberitahu manajer kalau begitu."

"Bagaimana?" Yeri melirik rekan sekaligus kakak-kakaknya yang sedang melepas pakaian mereka itu bergantian, "Kalian juga lapar, kan?"

"Aku akan ikut kalian saja," sahut Wendy selagi melepas dasi hitam dari kerah kemejanya; kemudian melempar potongan kain itu ke sofa sebelum membuka kancingnya satu persatu. "Kalau kalian ingin makan dulu aku ikut, mau langsung pulang juga tidak apa-apa."

"Yasudah, kita makan dulu saja," Joy menimpal, memperbaiki tali bra-nya yang sedikit melorot setelah kemejanya terbuka. "Yeri akan merepotkan kita kalau dia lapar, lagi pula Irene-unnie dan Seulgi-unnie belum kembali."

"Ah, kau benar." Yeri mengangguk setuju, kemudian menatap pintu ruang ganti sambil mengernyitkan dahi. "Lagipula kemana mereka berdua? Tiba-tiba menghilang tepat setelah acara selesai."

"Tidak tahu," Joy mengangkat bahu sambil membuka resleting rok-nya, "Nanti juga kembali."

Mendengar percakapan kedua anggota termuda grup itu, Wendy hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa; tapi dari sorot mata dan juga ekspresi wajahnya, sepertinya ia tahu betul apa yang sedang kedua orang hilang itu lakukan.

"Ya, jangan khawatir." gumamnya pelan namun terkesan jengkel. "Mereka akan segera kembali."

-

"Kemana kau akan membawaku?" Irene bertanya dalam bisikan pelan, memperhatikan punggung tegap main dancer grupnya itu dengan tatapan cemas; namun dengan mata yang berkilat nakal.

Boots-nya sedaritadi hanya mengikuti langkah Seulgi di hadapannya; merasakan cengkraman tangannya yang erat di pergelangan tangan, dan juga hawa panas yang menyelimuti mereka.

Lorong belakang panggung yang tengah mereka susuri sekarang memang sempit dan gelap; agak kotor, dan juga pengap. Namun alih-alih merasa takut, Irene malah merasakan geli didalam perutnya karena senang.

"Suatu tempat," Seulgi menjawab ambigu, akhirnya menghentikkan langkahnya tepat di depan pintu kayu berdebu yang terlihat jarang di datangi. Irene memperhatikkan matanya yang melirik keadaan sekitar; memastikan situasinya sudah sepi dan aman sebelum akhirnya membuka kenop pintu.

Irene hanya bisa pasrah saat Seulgi mendorongnya masuk kedalam ruangan yang baru saja mereka temukan itu; disambut oleh debu dan juga bau yang aneh.

Seulgi tanpa basa-basi langsung mencari akal untuk mengunci pintunya dari dalam; ia menemukan sebilah kayu tua untuk menghalangi kenop pintu, dan mereka pun akhirnya terjebak di dalam; berdua.

[M] Into You 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang