Aku terbangun hanya disambut oleh hembusan angin hangat yang menghilir masuk melewati pintu kaca balkon kamar, sinar mentari terang yang menghujani wajahku, dan... ruang kosong disisiku.
Joohyun tidak ada.
Menghela nafas panjang; aku mengusap wajahku yang lelah lalu perlahan terduduk diatas ranjang, meregangkan otot-otot kaku-ku sebelum menunduk dan melihat kemeja yang semalam kupakai tergeletak di karpet tak jauh dari sisa pakaianku yang lain.
Aku memanjat turun dari ranjang, mencari celana dalamku lalu memakainya juga kemeja ku asal; melangkah keluar kamar sembari menyisiri rambutku yang kusut dengan jemari tangan.
Wewangian yang menggugah selera seketika menggelitik penciumanku; kedua kaki telanjangku terus mengambil langkah disepanjang lorong yang menuntunku ke ruang tengah dan juga dapur.
Tempat Joohyun berada saat ini.
Aku menelan ludahku gugup begitu melihatnya dengan santai, namun cekatan; mempersiapkan beragam hidangan dari atas ketel kedalam piring diatas counter. Ia kembali berbalik untuk meletakkan ketel keatas kompor lalu memeriksa magic jar disampingnya, setelah itu ia mengambil gelas dari dalam kabinet.
Tubuh kecilnya bergerak dengan begitu cepat lihai dan itu karena pada dasarnya; ia menguasai dapur ini.
Joohyun menutup kabinet lalu bergeser kearah kulkas berpintu dua itu; membuka bagian kiri lalu mengambil sekotak jus jeruk dan kembali menghadap counter untuk meletakkan mereka.
Itulah saat ia akhirnya menyadari keberadaanku. Joohyun menatapku yang sekilas tertunduk, kuintip ia menyimpan gelas dan kotak jusnya dengan dentingan pelan lalu melangkah keluar dapur; menghampiriku dengan ekspresi datar.
"Sarapan sudah siap," katanya tenang namun terkesan dingin; membuatku mengadah sedih kearahnya. Kulihat tubuhnya yang terpeluk oleh sweater itu berjalan sedikit tergesa hingga mendekatiku dengan lebih cepat. "Makanlah."
"Tunggu dulu," cegahku lembut hampir terdengar memelas; mencengkram pergelangan tangannya lembut begitu ia melewatiku. "Kau tidak akan makan bersamaku?"
Joohyun membuang nafasnya kasar; tangannya yang kugenggam ia tarik kembali dengan delikan mata kesal. "Aku sibuk. Aku harus mencuci sprei."
"Yah, Joohyun-ah~" melasku pelan dengan suara selembut mungkin, mataku memandangnya sedih begitu Joohyun lanjut melangkah menuju kamar dan meninggalkanku sendirian.
Oke. Semalam kami memang baik-baik saja, bukan? Well, I messed up.
Mungkin orang-orang bilang jika "After Sex Talk" adalah hal atau waktu yang tepat untuk menciptakan suasana yang tenang dan romantis; menikmati momen intim dengan obrolan ringan atau saling mengutarakan betapa cintanya kalian pada pasangan.
Namun sepertinya Joohyun tidak dapat mentolerir pada apa yang aku ceritakan soal bosku semalam. Soal Anna, Mexico City... dan Bar itu.
Flashback
"Aku punya pengakuan."
Aku mendengar Anna berujar gugup; menghindari tatapan mataku yang penuh tanda tanya. Kuputar tubuhku sepenuhnya agar mampu menghadapnya dengan benar, berusaha untuk tidak merasa gugup.
Namun melihat bosku yang sedang ke-gugupan membuatku malah semakin gugup...
"Apa itu, bos?" Kataku pelan, lalu menelan ludah. Anna lanjut bergerak-gerak tak nyaman di kasurnya sembari menggigit bibir bawahnya, helaan nafas ia keluarkan sebelum akhirnya ia balas menatapku.
"I'm sorry." Ujarnya hampir berbisik dan lagi-lagi membuang mukanya saat aku mengernyitkan dahiku bingung.
"... Maaf? Untuk apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[M] Into You 2
Fanfiction⚠MATURE CONTENT [gxg, NC] "A little less conversation and a little more touch my body."
![[M] Into You 2](https://img.wattpad.com/cover/181388060-64-k22526.jpg)