Warn : Konten dewasa dengan bahasa yang eksplisit. Part ini juga panjang tapi diakhir chapter ada catatan author yang penting banget, harus dibaca pokoknya >:(
"... Five, six, seven, eight !"
Suara instruktur yang nyaring bergema memenuhi seisi ruangan; sebuah sinyal untuk kelima gadis yang tengah membentuk formasi di depan cermin raksasa itu mengakhiri gerakan mereka, berbarengan dengan berhentinya lagu yang menjadi pengiring.
"Semuanya ambil break sebentar, setelah itu kita ulangi lagi." Ucap sang instruktur di pojok ruangan seraya melangkah ke pintu keluar. "Gerakan kalian masih kurang sinkron, terutama di bagian lengan."
"Nde~" kelimanya menyahut disela-sela nafas mereka yang terengah, setidaknya bisa tersenyum lega walaupun hanya sebentar.
Irene sang leader mendesahkan nafas panjang, menggunakan punggung tangannya untuk mengelap keringat di dahi dan pelipisnya sembari berjalan ke sisi ruangan; menghampiri sofa panjang yang terlihat begitu menggoda untuk di duduki.
"Ini, minumlah dulu." Sebuah tangan pun menyodorkan botol air mineral, dan begitu Irene melihat sosok dihadapannya; senyuman pun timbul di bibir pinknya.
"Terima kasih," ucap Irene menerima pemberian Seulgi lalu akhirnya duduk diatas sofa, disusul olehnya tak lama setelah itu.
Joy dan Wendy juga ikut terduduk tak jauh dari mereka, meneguk minuman dan menyeka keringat mereka; berusaha untuk merilekskan badan. Sementara Yeri berdiri di depan mereka, alisnya berkerenyut dalam seakan bingung.
"Sepertinya aku salah dalam melakukan gerakan yang ini," ucap sang maknae sembari memperagakan gerakan yang dimaksud. "Apa itu salah? Bagaimana gerakan yang betul?"
"Ah, seharusnya lenganmu bergerak seperti ini." Joy yang sudah meneguk airnya sampai setengah habis menjawab, menunjukkan sang adik gerakan yang benar.
"Kau juga tidak seharusnya bergerak terlalu cepat." Wendy menambahkan, menyisir rambut pirangnya kebelakang dengan jari tangan. "Kau harus menunggu gerakanku dulu."
"Ah, arrasseo." Yeri mengangguk paham. "Seperti ini?"
"Ya, begitu." Wendy mengangguk mengiyakan, tangannya mengambil botol baru di dekat kaki sofa untuk ia berikan pada si bayi. "Sudahlah, istirahat dulu. Ini."
Di sisi yang lain, Irene dan Seulgi diam-diam memperhatikan mereka bertiga dengan senyuman samar. Begitu Yeri duduk ditengah-tengah Joy dan Wendy (dengan paksaan hingga mereka tertindih), keduanya pun saling tatap dan tertawa kecil.
"Mereka bekerja keras," ujar Irene sambil terkekeh, meletakan botol minumnya kesamping kemudian menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa. "Kita juga harus."
"Kita semua bekerja keras," timpal Seulgi disertai anggukkan, mengangkat tangannya untuk mengelap sedikit keringat dari pelipis sang leader. "Terutama kau."
"M- Mwoya." Irene merespon, bibirnya mencibir remeh dan matanya mengerling bosan, sontak membuat Seulgi tertawa puas karena telah berhasil membuat member tertuanya ini jengkel plus salah tingkah.
Mereka memang tengah mempersiapkan album baru dan sekarang ini tengah melatih gerakan tari untuk title track mereka; rasanya melelahkan harus menari selama berjam-jam, walaupun sudah terbiasa tetap saja, otot-otot dan tulang mereka seakan melonggar setiap latihan.
Irene meringis kecil, memijat-mijat lengan kanan bagian atasnya pelan; lagi-lagi menarik atensi Seulgi di sebelahnya yang refleks bergeser mendekat. "Wae ? Lenganmu sakit?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[M] Into You 2
Fanfic⚠MATURE CONTENT [gxg, NC] "A little less conversation and a little more touch my body."
![[M] Into You 2](https://img.wattpad.com/cover/181388060-64-k22526.jpg)