Happy Reading 😊😊
🍀🍀🍀
Terinya sinar Matahari tak menyurutkan niatku untuk menemani Wonwoo di kantornya.
Lelaki berkacamata itu terkadang akan melupakan apapun jika sudah berkutat dengan pekerjaannya.
Ah bahkan lobby kantor ini sudah tak asing lagi untukku,hanya beberapa aksen interior yang sedikit mengalami perubahan. Bahkan beberapa karyawan disini kerap kali menyapaku.
Aku melangkahkan kakiku menyusuri koridor lantai dua. Aku terlebih dulu bertanya pada sekretaris Wonwoo yang berjaga diluar,ia bilang Wonwoo sedang menghadiri rapat yang kemungkinan akan selesai dalam kurun waktu lima belas menit lagi.
Ruangan miliknya tak ada yang berubah,masih didominasi dengan warna hitam kesukaannya dengan beberapa lukisan karya Minghao yang ia pajang.
Aku menaruh makanan yang kubawa diatas meja dan mebaruh tasku diatas sofa lalu aku melangkahkan kakiku untuk sekedar melihat-lihat ruangan kerjanya sembari menunggunya.
Mataku langsung tertuju pada meja kerjanya,tak ada hal yang aneh hanya ada tumpukan kertas yang kuyakini itu adalah kumpulan berkas-berkas pekerjaan.
Aku mendudukan diriku dikursi kerja miliknya dan ya,kurasa ini cukup nyaman.
Aku memperhatikan sekitar namun sebuah foto yang ia pajang diatas meja kerjanya membuatku merasa tertarik dan melihatnya lebih seksama.
Foto kami yang diambil saat kelulusan SMA tapi entah kenapa hatiku terasa menghangat.
"Kenapa tiba-tiba datang tanpa mengabariku dulu?"
Suara berat dari arah pintu masuk membuatku mengangkat kepala dan melihar Wonwoo yang tengah berdiri disana,tangannya membawa beberapa berkas dan menaruhnya dihadapanku.
"Kurasa kau terlalu sibuk untuk aku hubungi. Tak perlu khawatir,Joshua yang mengantarku kemari."
Jawabku saat aku tau arti dari tatapan matanya yang seolah menanyakan bagaimana aku bisa kesini.
"Lain kali hubungi aku dulu"
Wonwoo membalikan kursiku lalu ia bersimpuh menyamakan posisinya denganku.
"Kau sudah tak ada rapat lain kan?"tanyaku memastikan
"Hanya ada satu rapat lagi nanti sore,jam 5." Wonwoo menjawab sambil memainkan tanganku yang kutaruh dipangkuanku.
"Sudah makan?"
"Belum."
Sudah kuduga,ia akan melupakan jam makannya jika sudah berkutat dengan pekerjaannya.
Wonwoo menaruh kepalanya dipangkuanku dan itu membuatku refleks mengusap surai hitam legamnya.
"Ayo makan,aku membuatkan kimbab kesukaanmu."
"Benarkah? Perutku rasanya sudah lapar."
🍀🍀🍀
Wonwoo menghabiskan bekal yang kubawa dengan begitu lahap. Wonwoo melepaskan kacamatanya dan sedikit memijat area sekitar matanya. Aku yakin ia pasti kelelahan bekerja hari ini.
"Mendekatlah kemari,biar kupijatkan"
Namun bukannya mendekat,Wonwoo malah mengangkat tubuhku dan membuatku duduk dipangkuannya,tangannya melingkari pinganggku lalu memejamkan matanya.
Tanganku dengan telaten menijat area sekitar mata dan pelipisnya. Ini bisa sedikit mengurangi rasa pusingnya.
Wonwoo membuka matanya dan menatapku dengan seksama.
"Cantik."
Gumannya pelan namun masih dapat kudengar dengan jelas.
Lalu kemudian ia mencuri sebuah kecupan dibibirku.
"Terima kasih."
"Untuk?" Tanyaku padanya yang kini menaruh kepalanya diceruk leherku.
"Semua, semua yang kau berikan padaku. Terima kasih"
Aku menepuki dan mengusap punggungnya pelan.
"Saranghae"
"Eumm,Nado."
Wonwoo melepas pelukannya dan sedikit merapikan rambutku lalu mengecup pelipisku.
"Aku harus segera rapat kembali,tunggulah disini. Kau bisa istirahat diruang pribadiku jika bosan atau mungkin melihat-lihat perusahaan. Kita pulang bersama nanti"
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya lalu mengantarnya sampai di depan pintu.
"Semoga rapatmu berjalan lancar"
Namun bukannya membalas ucapanku Wonwoo malah menunjuk pipinya menggunakan telunjuk. Aku paham artinya itu, aku memberi isyarat agar ia sedikit menunduk dan mencium pipinya.
"Terima kasih tuan putri, aku pergi dulu.".
🍀🍀🍀
Aku mengelilingi perusahaan seperti apa yang Wonwoo intruksikan padaku,ia benar-benar mengganti beberapa interior persusahaan. Memang tak banyak yang dirubah tapi ini cukup memberikan kesan baru.
"Seungrin-ah"
Aku menoleh kearah asal suara yang memanggil namaku.
Seungcheol,ia berjalan mendekat kearahku.
"Bisa kita bicara sebentar,ada hal yang ingin kusampaikan".
Aku mengangguk menanggapi ucapannya lalu ia membawaku ke kafetaria dilantai dasar kantor.
"Duduklah,akan kubawakan teh lemon madu untukmu"
Pria itu bergegas pergi lalu kembali dengan dua gelas teh lemon madu.
Kami duduk berhadapan,penampikannya sedikit berubah. Entah apa yang ia alami tapi dilihat dari penampilannya kurasa ia sedang dalam situasi yang tak baik.
"Bagaimana kabarmu?"
Tanyanya mengawali pembicaraan.
"Baik,bahkan terbilang cukup baik kurasa. Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat" Seungcheol menjawab pertanyaanku lalu menyesap teh ditanganya.
"Maaf"
Aku hanya melihatnya tanpa menjawab ucapannya,aku tahu ia akan melanjutkannya
"Maafkan aku,aku terlalu banyak mempunyai kesalahan padamu. Aku tahu kau mungkin membenciku setelah apa yang kulakukan padamu selama ini. Maaf karena kenyataannya aku tak mampu menepati janji yang kubuat sendiri. Kurasa memang benar,penyesalan selalu datang diakhir cerita. Dan aku merasakannya sekarang."
"Tak apa,aku mengerti. Aku mengenalmu bukan hanya setahun Seungcheol,jadi aku tau sifatmu"
"Semuanya berawal dari sikapku yang pengecut. Maafkan aku karena sudah terlalu banyak menyakitimu. Rasanya hatiku selalu terasa mengganjal dan hidupku terasa tak tenang. Aku ingin menebus kesalahanku padamu,aku harus bagaimana sekarang? Hidupku tak tentu arah setelah kau meninggalkanku."
"Aku sudah memaafkanmu, yang lalu biarlah berlalu. Kau hanya perlu membuka lembaran baru dalam hidupmu. Seungcheol,mungkin dulu kau sering menyakitiku tapi aku tak pernah merasa seperti itu. Kita memang tak mungkin untuk kembali tapi aku tetap ada untukmu bukan sebagai pasangan melaikan sebagai teman,teman yang selalu ada untukmu"
"Maaf."
"Berhentilah meminta maaf padaku. Seungcheol aku melepasmu agar kau bahagia. Kembalilah seperti dulu, dimana Choi seungcheol yang berwibawa dan baik hati?. Aku sama sekali tak membencimu. Sekarang kita teman, ok?"
"Ya,kita teman. Dan sekali lagi terima kasih."
"Kau harus berbaik hati padaku mulai sekarang!".
Aku tersenyum memberinya sedikit candaan,sebelum ponselku bergetar dan tertera nama Wonwoo disana.
Ia pasti sedang mencariku sekarang.
"Kurasa aku harus kembali,Wonwoo mencariku. Oh satu lagi,ubahlah penampilanmu. Kau terlihat seperti pengangguran dibandikan CEO. Aku pergi dulu,sampai jumpa~"
Aku sedikit melambaikan tanganku padanya.
🍀🍀🍀
"Dari mana saja?"
Wonwoo langsung menanyaiku saat aku kembali keruangannya.
"Menemui seseorang"
"Siapa?"
"Kau tak perlu tahu,ayo pulang. Kau harus segera beristirahat"
Wonwoo menggenggam tanganku dan membawaku pulang.
Sejatinya memanglah seperti itu. Penyesalan memang selalu datang diakhir cerita. Kau tak perlu menyesali,yang berlalu biarlah berlalu. Kau hanya perlu membuka lembaran baru dalam hidupmu tanpa sebuah penyesalan yang menghantuimu.
TBC.
01/05/2019
Story by Rin
And hello mei~~
Semoga harimu selalu menyenangkan.
See you next part.~
KAMU SEDANG MEMBACA
Starry Night | S.coups
Fanfiction'bisakah kau melihat keberadaanku di sampingmu untuk sekali saja.. kau tau,betapa sakitnya aku saat melihatmu bersamanya.. aku memang memiliki tubuhmu tapi tidak dengan hatimu' Since 30 Oktober 2018 - (...) Sempiternal Starry Night. #seluruh hak cip...
