Pitu | Tujuh

5.8K 374 5
                                    

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Duri-duri kecil bermunculan.

DINGINNYA malam tak membuat Mas Aryo menyerah untuk meneruskan pekerjaannya mengurus beberapa dokumen penting untuk rapat besok.

Selang waktu, ia pun menyelesaikan semua pekerjaannya dan segera bangkit dari kursinya menuju ke kamar.

Ceklek! Pintu kamar yang terbuka membuat Ningrum mengalihkan pandangan ke arah pintu. Menampakkan sosok Mas Aryo dengan muka kusutnya. Matanya menyorotkan kelelahan dan letih.

Ningrum yang duduk di ranjang pun bangkit hendak menawari Mas Aryo untuk sebuah kopi misalnya.

Belum sempat Ningrum menyapa Mas Aryo, lelaki itu sudah lebih dulu mengambil sebuah handuk yang bertengger di lemari dan ngacir ke kamar mandi setelah meletakkan ponselnya di atas meja.

Ningrum pun menghela napas pasrah. Mungkin, Mas Aryo kelelahan hingga mengabaikannya.

Ningrum kembali duduk di ujung ranjang di samping meja kecil dimana Mas Aryo meletakkan ponselnya.

Ting! Layar ponsel Mas Aryo terbuka. Menampilkan sebuah notifikasi pesan yang seketika membuat hati Ningrum panas.

Ravita : Mas, besok jadi kan?

Besok? Hah! Mau ngapain?

Benak Ningrum dipenuhi berbagai pertanyaan yang menjerumus ke arah kecurigaan. Apalagi setelah ia tahu siapa sosok Ravita itu.

Ningrum menunggu jawaban dari Bu Anjar--mertuanya, "Ravita itu teman dekat Mas Aryo. Tapi, entah kenapa orang-orang mengira mereka menjalin hubungan asmara."

Bu Anjar menatap Ningrum yang sepertinya masih menunggu kelanjutan cerita darinya.

"Awalnya Ibu sempat kaget. Bagaimana bisa? Ibu tak bisa tinggal diam mendengar gosip yang beredar, menyebar luas di sana sini. Akhirnya, Ibu putuskan untuk mengintrogasi Mas Aryo."

"...dan kamu tau apa jawaban dia?" Bu Anjar mengajak Ningrum bermain tebak-tebakkan yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Ningrum.

"Ravita-lah yang menyukainya. Namun, entah ia juga tak tahu kenapa berita yang tersebar 'aneh'. Dan, Ibu juga gak tahu.. gimana perasaan Mas Aryo sama Ravita. Tapi, Ibu yakin. Mas Aryo itu lelaki baik-baik, jika dia sudah bersedia menikahimu.. berarti dia punya alasan tersendiri. Seperti CINTA. Untuk lebih jelasnya.. kamu bertanya saja pada dia."

Ningrum menyimpulkan, "jadi, Ravita yang suka sama Mas Aryo?" Ibu mertuanya itu hanya menganggukkan kepala.

Begitulah teka-teki Ningrum tadi pagi terjawab. Tapi, yang sampai saat ini menjadi pertanyaannya. Apakah Mas Aryo menyimpan rasa yang sama dengan Ravita?

Pesan yang baru saja bertengger di layar ponsel Mas Aryo sedikit membuat hati Ningrum teriris. Akan kemana mereka berdua? Memangnya ada acara apa? Kenapa Mas Aryo tidak memberitahunya?

Bukankah sebuah hubungan harus dilandasi oleh sebuah keterbukaan. Di kitab uquudulujain juga dijelaskan bahwa "baik suami maupun istri jika hendak keluar rumah atau kemana pun.. haruslah izin terlebih dahulu. Pamit--mungkin itu singkatnya".

Kang Mas! [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang