Songo | Sembilan

5.3K 327 3
                                    

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Petasan yang siap meledak!

HENING menjadi teman bagi keduanya. Seorang lelaki yang pikirannya tak lain sedang memikirkan istrinya yang kini duduk dan berusaha konsentrasi menyetir kendaraan beroda empat itu sesekali menghela napas.

Pertemuannya yang tanpa disengaja ini membuatnya harus membantu temannya. Ravita, gadis itu memintanya untuk mengantar ke rumah sakit karena sang Ibu mengalami kecelakaan.

Kondisinya yang panik membuat Mas Aryo iba dan memilih mengantarkannya ke rumah sakit. Namun, ia lupa dengan janjinya pada Ningrum--istrinya.

'Ning.. tunggu Mas.' Batinnya terus bergemuruh.

Sedangkan, jam ditangannya sudah menujukkan waktu menjelang magrib. Mas Aryo menurunkan Ravita di depan rumah sakit.

"Mas, apa Mas nggak bisa ikut masuk?" Tanya Ravita dengan masih terisak.

Mas Aryo pun memutar otak untuk memberikan jawaban yang sekiranya tidak menyinggung Ravita yang dulu merupakan temannya, "Maaf, Vita. Mas-"

"Mas.. yang lalu biarlah berlalu. Aku pun sudah melupakan perasaanku. Karena aku tahu.. kamu sudah beristri." Ravita memotong ucapan Mas Aryo.

Vita, panggilan yang selalu Mas Aryo tujukan untuk Ravita. Entahlah, ia lebih suka memanggilnya Vita daripada Ravita. Lebih mudah katanya.

"Bukan itu-"

"Lalu, apa? Mas, ibu pasti nyariin Mas kalau beliau sakit. Aku tahu.. Mas sudah beristri. Tapi bisakah sekali ini Mas membantuku?" Lagi-lagi Ravita membuat Mas Aryo merasa kasihan dan tidak enak jika menolak ajakan Ravita.

Ravita pun turun dari mobil. Mas Aryo? Tentu saja mengekorinya.

Ravita membuka pintu ruang inap dengan perlahan, "assalamu'alaikum, Bu." Ucap Ravita saat mengetahui Ibunya sedang terjaga.

"Waalaikumsallam." Senyum cerah tercetak jelas di wajah Bu Ratih.

"Le, kamu ikut to?" Mas Aryo hanya mengangguk, ia tak menyangka. Jika, kehadirannya benar-benar membuat Bu Ratih begitu antusias.

Mas Aryo meraih tangan kanan Bu Ratih untuk di cium, "gimana keadaan, Ibu?"

"Alhamdulillah.. sudah lebih mendingan. Makasih ya, Le. Sudah mau datang.."

"Iya, Bu. Maaf tadi mendadak, saya tidak sempat membeli buah-buahan." Mas Aryo menggaruk tengkuknya.

*Sungkan ; merasa tidak enak.

Ibu Ratih mengibaskan tangannya, "kamu itu.. kayak sama siapa aja"

Mereka pun tertawa bersama.

Menjelang magrib, Mas Aryo izin undur diri. Mas Aryo teringat janji pada istri terkasihnya. Ia pun mengemudi dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di area pesantren.

Setibanya di area pesantren, Mas Aryo menepikan mobilnya di samping masjid pesantren. Mengingat waktu magrib hampir habis, ia pun memutuskan untuk pergi ke masjid terlebih dahulu sebelum menuju ke rumah bapak dan ibu mertuanya.

•• KANG MAS! ••

"Piye, Nduk? Apa Mas Aryo iseh durung iso ditelfon?" (Gimana, Nak? Apa Mas Aryo belum bisa ditelfon?) Tanya sang Umi membuyarkan lamunan Ning.

Ning memang tadi sengaja sholat di rumah dan berharap seusai menunaikan sholat magrib, suaminya itu menjemput ke rumah. Tapi, nyatanya belum ada tanda-tanda kedatangan Mas Aryo. Ningrum pun memutuskan untuk menunggu Mas Aryo di depan rumah.

Kang Mas! [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang