Telu | Tiga

6.5K 394 5
                                    

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

SIANG hingga sore ini, Maisha masih tetap berada di dekapan Ningrum. Mengajar ngaji pun, ia membawa serta Maisha. Beruntunglah, para murid-muridnya sangat senang dengan kehadiran gadis mungil berpipi gembil itu.

"Nyuwun sewu, Ning. Dipadosi kalih tiang." (Mohon maaf, Ning. Dicari sama orang). Ningrum mengerutkan dahinya.

Siapa yang mencarinya?

Mbak Malika? Tidak mungkin. Jika Mbak Malika, dia tidak akan menyuruh santriwati untuk menyampaikan pesan ke tempat Ningrum mengajar. Mbak Malika akan langsung menghampirinya.

"Sopo, Dek?" (Siapa, Dek?). Santriwati itu tidak menjawab. Entah, sepertinya dia sedang menyimpan sesuatu yang enggan disampaikan kepada Ningrum.

Santriwati itu pun undur diri.

Ningrum tanpa sadar berjalan meninggalkan tempat mengajarnya. Mengikuti pesan yang tadi disampaikan oleh salah seorang santriwati padanya.

Di depan gerbang Pesantren, Ningrum semakin gugup. Ia melihat seorang lelaki memakai celana berbahan kain hitam dan baju koko berwarna putih tak lupa dengan songkok hitam.

"Ekhmm.." Deheman Ningrum berhasil membuat lelaki itu membalikkan badannya.

Mata Ningrum membulat seketika. Dia? Lelaki yang beberapa waktu lalu datang ke rumahnya bersama orangtuanya. Lelaki yang meminangnya, sosok yang akan menjadi imamnya dua hari lagi. Bagaimana bisa ia berada disini? Bagaimana jika Abi dan Umi tahu? Dirinya kan tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Mas Aryo--calon suaminya.

"M-maaf. Kamu pasti terkejut dengan kehadiran saya." Mas Aryo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gugup? Jelas.

"Ada apa?"

"Ini.." Mas Aryo menyerahkan kotak persegi panjang berwarna cokelat kurang lebih berukuran 23 X 7 dengan pita berwarna pink di atasnya.

Jujur saja, hati Ningrum sedikit melunak. Ternyata, Mas Aryo sangat romantis. Belum jadi istri saja.. sudah dibelikan hadiah.

'Iki mesti isine kalung. Ketaran soko kotak e, dowo.' (Ini pasti isinya kalung. Kelihatan dari kotaknya, panjang). Batin Ningrum menerka-nerka.

Ningrum tak sadar jika ia sedari tadi memandangi kotak yang telah berada di tangannya itu dengan tersenyum. Mas Aryo yang melihatnya pun jadi.. bergidik ngeri.

Apa iya Ningrum kesurupan?

"Ning?"

"Ee-eh.. matur suwun, Mas." (Terimakasih, Mas). Ningrum menunduk.

"Sama-sama. Ya udah. Saya balik, ya.. sampaikan salam saya sama Abi dan Umi." Ningrum hanya mengangguk.

Saat Mas Aryo memasukki mobilnya, barulah saat itu Ningrum menegakkan kembali kepalanya. Ia melihat mobil hitam milik Mas Aryo melaju semakin jauh. Kemudian, tidak terlihat.

Ningrum pun berbalik hendak kembali ke kelas. Kelas? Memikirkan soal kelas, Ningrum baru sadar. Jika ia meninggalkan Maisha di dalam kelas tempat ia mengajar ngaji tersebut, "Astagfirullah.. Maisha." Ningrum menepuk dahinya. Ia pun berlari kecil menuju kelas.

•• KANG MAS! ••

Ningrum yang tergesa-gesa berhenti tatkala matanya menangkap sosok gadis kecil yang ia cari di kelas namun tak ada. Maisha. Keponakannya itu asyik bermain dengan bapaknya--Gus Irsyad.

Kang Mas! [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang