Limo | Lima

6.4K 360 8
                                    

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Hidup itu nggak bisa diputar, dijilat apalagi dicelupin.

PAGI ini merupakan pagi yang berbeda di antara seribu paginya yang lalu. Bagaimana tidak? Ningrum terlonjak kaget saat mengerjapkan matanya mendapati sosok lelaki yang tidur dengan bertelanjang dada.

Astagfirullah! abs :v

"Astagfirullah!!" Ningrum berjingkat dan langsung duduk.

Sedangkan, Mas Aryo yang tadinya masih sangat pulas. Akhirnya, terbangun karena teriakan Ningrum. Dengan mengerjap-ngerjapkan matanya, "Kamu kenapa, sih?" Tanya Mas Aryo sedikit kesal.

"Itu.. kenapa Mas nggak pake baju?" Ningrum masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menoleh ke samping--bertolak belakang.

Mas Aryo menghembuskan napas kasar, "Aku kira apa? Jangan teriak seperti itu, Ning. Aku kaget. Tadi malam aku kegerahan, jadi ya aku lepas baju." Jelas Mas Aryo.

"...celana-ku masih, kok." Goda Mas Aryo.

Ningrum melempar bantal yang ada di sampingnya dan tepat mengenai Mas Aryo, "Mas lain kali jangan telanjang dada!" Titah Ningrum, yang membuat Mas Aryo mengerutkan dahihnya.

Why? Kenapa? 为什么? Emang napo?

"Kenapa emangnya?"

"Y-yaa.. p-pokoknya!"

"Kok kamu gugup, Ning."

Mas Aryo menarik kedua tangan Ningrum hingga tubuh gadis itu jatuh tepat di samping dirinya yang masih dalam posisi tidur, "..pipimu merah, Ning." Lagi-lagi Mas Aryo menggoda Ningrum.

"Digigit nyamuk ini." Jawab Ningrum cepat.

Ningrum semakin gugup dibuatnya. Di jarak yang begitu dekat ini, badannya panas-dingin. Jantungnya lari marathon.

•• KANG MAS! ••

Setelah adegan menye-menye tadi pagi. Ningrum kini sendiri di dalam kamar, mengemasi barang-barang yang hendak ia bawa pulang. Pulang? Kemana?

"Ning, hari ini kita pindah ya.." Ningrum rupanya tahu maksud dari Mas Aryo. Ya.. memang kodratnya seorang istri selalu mengikuti kemanapun kaki suami melangkah.

"Iya, Mas." Ningrum pun membalasnya dengan senyum tipis. Sebentar lagi, ia akan memulai kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.

Begitulah akhir dari kegiatan tadi pagi yang menguras jiwa. Ningrum menatap tas-tas besar yang di dalamnya berisi keperluannya hidup.

Ceklekk.. pintu kamar terbuka menampakkan sosok Mas Aryo yang rupanya sudah rapi.

"Sudah, siap?" Ningrum pun menganggukkan kepalanya.

Mas Aryo pun mendekat dan menggandeng tangan kanan Ningrum. Serta meraih tas yang Ningrum bawa, "Ayo, humairahku.."

Oksigen. Oksigen.

Pipi Ningrum bersemu merah. Oh astaga! Panggilan mesra yang biasanya Nabi Muhammad SAW gunakan saat memanggil Aisyah RA karena rona pipinya yang kemerah-merahan.

Kang Mas! [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang