Songo Las | Sembilan Belas

5.4K 248 3
                                    

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Gerakan super cepat, anti gugat!

MAS ARYO mendelik tatkala mendengar permintaan Mas Azhar yang disalahartikan itu. Hendak terjadi baku hantam namun ter-cancel karena Mas Azhar sudah lebih dulu membayar cicin yang ia pilih.

Ningrum pun segera menarik tangan Mas Aryo keluar Mall setelah berpamitan dengan Mas Azhar.

"Mas! Kenapa, sih?"

"Kamu masih tanya kenapa!!?? Dia itu buta atau apa sih!! Kamu itu sudah bersuami. Kenapa dia nekat bilang seperti itu. Di depanku lagi!!!"

Sungguh, parkiran yang untungnya sepi itu tak membuat malu Ningrum. "Mas! Kita selesaikan di rumah!"

Ningrum sudah lebih dulu masuk mobil. Kemudian, Mas Aryo mengalah.

Selama perjalanan pulang, rasanya terik matahari yang menyengat tidaklah sebanding dengan panasnya hati Mas Aryo.

Kesalahpahaman yang membuat Ningrum gemas itu ingin sekali ia usaikan saat ini juga. Tapi, kondisi Mas Aryo yang berapi-api sepertinya tidak memungkinkan untuk dirinya berkata dan menjelaskan segalanya.

Sesampainya di rumah, "Mas? Tunggu dulu. Kamu nggak mau bawain belanjaan aku?"

"Ringan 'kan?"

"...." dengan bodohnya Ningrum hanya mengangguk karena ekspresi Mas Aryo sangatlah datar -_-

"Cuman SKINCARE doang! Bawa sendiri bisa 'kan?" Lanjut lelaki yang egonya tengah tersentil itu.

Ningrum menghentakkan kakinya, kesalll. Bagaimana tidak? Mas Aryo berjalan mendahuluinya. Seakan-akan tidak betah lama-lama berada disisinya.

Ceklekkk.. Ningrum membuka pelan pintu kamarnya.

Di ranjang, Mas Aryo terlihat tengah sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan segala celotehan Ningrum. "Mas! Kamu nggak dengerin aku?"

"Kamu kenapa, sih Mas?"

"Mas!!??" Ningrum memukul-mukul lengan Mas Aryo pelan.

Mas Aryo yang hendak bangkit dari ranjang terhenti. Tatkala Ningrum berkata, "Mas nggak sayang Ning? Kalau Mas berani turun dari ranjang, berarti Mas beneran nggak sayang Ning sama dedek."

Deg! Dedek!! What?

Oke. Alhamdulillah. Kini Ningrum tengah membujuk Mas Aryo dengan mengikutsertakan dedek dalam gerakan, meluluhkan hati Mas Aryo yang tengah kebakaran.

"Duduk! Dengerin Ningrum dulu.." titah Ningrum yang lembut berhasil menghipnotis Mas Aryo.

Mas Aryo kembali pada posisinya awal. Ponsel yang ada digenggamannya kini raib disita oleh Ningrum.

"Dengerin baik-baik, Mas."

"Mas itu salah paham! Tolong ya, Mas. Mana mungkin Mas Azhar itu mau melamar Ning yang notabene-nya sudah bersuami. Mabuk khamr apa dia??"

"Mas, kemungkinan besar..sosok yang akan menjadi calon pendamping hidupnya adalah salah seorang murid pondok pesantren, murid Umi dan Abi."

"Jadi, tolong ya Mas. Pikiran Mas yang kotor tentang Mas Azhar itu.. tolong dibuang jauh-jauh! Mas Azhar lelaki baik-baik Mas."

"Dan, yang terakhir. Yang paling penting ini. Dengerin baik-baik!"

"AKU CUMAN SAYANG SAMA, MAS. SUAMIKU. Yang insya'allah kelak akan menjadi kekasih surgaku."

Kang Mas! [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang