بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kabar baik datang, disaat situasi dan kondisi kurang membaik.
RAVITA sedang mencuci piring bekas sarapan pagi ini. Hatinya tenang berada di kediaman Ustadz Bahri ini.
"Nduk, mau ikut Ibu nggak?" Wanita itu bernama Umi Salma. Baik hati dan cantik parasnya.
Ravita pun merapikan jilbab yang ia gunakan. Ya, ia berinisiatif sendiri ingin mengenakan jilbab.
Setelah, semalam ia bersenda gurau dengan Umi. Umi pun meminjamkan jilbab pada Ravita karena keinginan gadis itu sendiri.
"Kemana, Umi?" Tanya Ravita setelah meletakkan piring pada rak.
"Mengecek kelas-kelas yang ada di pondok putri. Gimana? Mau ikut?" Ravita tanpa berpikir pun langsung mengangguk semangat. Pikirnya, dibanding tidak ada kerjaan 'kan? Apa salahnya?
Ravita berjalan di belakang Umi Salma, "loh, Ning-" sapa seorang murid perempuan setelah mencium tangan Umi Salma.
Ravita mengerutkan alisnya, "duduk Ning kuwi, Nduk. Cah ayu iki jenenge Ravita. Panggil Mbak Ravita, ya!" (bukan Ning itu, Nak. Cewek cantik ini namanya Ravita. Panggil Mbak Ravita, ya!)
Umi mengenalkan Ravita pada murid yang salah mengira tadi. Ravita pun tersenyum dan menjabat tangan murid itu. Ia terkejut kala tangannya akan dicium, "eh, jangan.."
"Uwis, ora apa-apa." (Udah, nggak apa-apa).
Murid itu pun berlalu, "Umi, kalau saya boleh tahu. Ning itu siapa ya, Umi?"
"Dia putri Umi. Kapan-kapan Umi kenalkan," jawab Umi Salma sambil tersenyum
Lalu, mereka berdua pun melanjutkan kegiatan mereka mengecek satu persatu ruang kelas.
Hingga pukul sepuluh pagi, Umi menyuruh Ravita pulang terlebih dahulu karena Umi akan mampir ke rumah Gus Irsyad--putra pertamanya.
Ravita pun hanya mengiyakan.
"Ravita!" Suara Mas Azhar menyapa gendang telinga Ravita. Ravita pun menoleh ke kiri dan kanan, mencari sumber suara.
"Mas, Mas Azhar dimana?" Ravita menoleh lagi ke belakang dan menemukan sosok Mas Azhar yang mengejutkannya.
"Astagfirullah. Ngagetin aja, Mas!"
"Hahaha. Bisa istighfar juga, ya? Mas pangling sama kamu. Cantik juga kalau berjilbab," Ravita mengulum senyumnya.
"Oi adek berjilbab biru..
Cantik manis cak ulat bulu..
Dapat salam dari Aa Azhar..
Habis ini, siap melamar.." Mas Azhar bersenandung lagu dengan lirik yang ia rubah.Astagfirullah! Jangan tanyakan bagaimana kondisi wajah Ravita. Merah merona bak kepiting rebus.
Karena gemas, Ravita pun menepuk bahu Mas Azhar. Ia menjerit, "Mas Azhar!"
"Bukan muhrim, Ravita! Jangan diulangi lagi!" Mas Azhar menghardik Ravita dengan memunculkan wajah garangnya. Ravita pun sedikit berjingkat dan takut.
"M-maaf," Ravita menunduk dan takut dengan raut wajah Mas Azhar.
"Hahaha. Ya udah, besok Mas halalin," Mas Azhar mengedipkan sebelah matanya.
"Mas duluan ya. Lama-lama di sini takutnya semakin nggak tahan liatin kamu. Bawaannya pengen bawa pulang dan jadiin kamu menantunya Ibu. Assalamu'alaikum," Mas Azhar pun berlalu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kang Mas! [Completed]
SpiritualKisah cinta tiada dua-nya. Antara Ning dan Mas Aryo. Kemudian, juga tersedia "lika-liku kehidupan rumah tangga Ningrum yang berawal dari sebuah kisah perjodohan." Disertai pertanyaan : Akankah, cinta tumbuh diantara keduanya? Jawaban : *ada di ceri...