Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Part 6

500 63 0
                                        

Rose pov

Entahlah sudah berapa keringat yang aku keluarkan untuk berlari. Bola mataku tak henti hentinya melihat jalanan.

Aku berhenti di pinggir trotoar. Kali ini aku rasa dadaku sesak, kakiku keram karena terus berlari tanpa henti.

Aku mengusap bulir bulir keringat di dahi dan pelipisku, rasanya lelah sekali. Sekarang aku merasa batang trakeaku mulai mengering dan membutuhkan air untuk menghilangkannya.

Ku perhatikan baik baik benda yang sedari tadi kugenggam erat erat. Haruskah aku mengembalikan benda ini, pikirku.

Ya, aku harus mengembalikannya, itu miliknya mungkin dia membutuhkan benda ini untuk kepentingan dirinya. Aku mulai berdiri dari posisi duduk lalu melanjutkan berlari tanpa tujuan.

Seketika mataku melebar dan kakiku terhenti saat melihat sosok jankung yang sedang berjalan santai di gang sempit. Saat aku ingin mengejarnya, laki laki itu memasuki gedung tua.

Aku menaikkan alis, bingung. Mengapa dia memasuki gedung yang sudah tak berpenghuni, apakah dia akan melakukan pembunuhan? atau...sebuah misi.

Otakku mulai tak berfikir jernih karena rasa penasaran mungkin. Karena rasa penasaranku terlalu kuat kakiku berjalan perlahan mendekat ke arah gedung tua itu, tanganku tetap memegang earphone putih miliknya.

Saat sudah di depan bangunan bertingkat tak terurus itu, aku merasa takut untuk memasukinya. Tapi mau bagaimana lagi, inilah resiko jika menjadi orang baik.

Kuberanikan diri untuk masuk ke gedung itu, aku berjalan dengan hati hati karena di sini banyak sekali paku yang masih menancap.

Samar samar ku dengar suara orang sedang mengobrol, mungkin. Ku pejamkan mata untuk mendengar suara itu lebih jelas.

Kakiku melangkah semakin jauh, bahkan sepertinya sekarang aku sudah berada di tengah tengah bangunan ini.

Suara itu semakin jelas terdengar, kulihat dari balik tembok. Astaga ternyata banyak sekali laki laki di sini, apa yang mereka lakukan di tempat ini.

Apakah rencana pembunuhan itu akan dimulai?.

Kali ini rasa takutku menyebar heboh ke seluruh tubuh, aku takut jika ketahuan tentang rencana pembunuhannya aku akan di bunuh oleh mereka.

Pikiranku terhenti saat sepasang bola mata tajam bertabrakan dengan bola mata hitam milikku.

"Siapa itu?,"ucapnya, yang membuat aktivitas di sana terhenti.

Orang orang di sana buru buru menatap tajam ke arah pria itu.

"Kau kenapa?,"tanyanya.

"Aku merasa sepertinya ada yang memperhatikan kita, aku akan mengeceknya ke sana,"

Aku langsung berlari saat mendengar ucapan itu, astaga lihatlah tanganku sudah bergetar dengan hebat.

Namun saat mataku fokus ke belakang, tiba tiba aku menabrak benda keras yang membuat tubuhku terhuyung ke belakang.

"Rose?,"ucap seorang laki laki di hadapanku.

Rose pov and

"Ngapain lo di sini,"Rose tak menyangka jika Renjun ada di sini.

Mengapa pria baik ini ada di sini, apakah dia juga akan ikut dalam rencana pembunuhan itu?. Pikiran Rose terhenti saat seorang pria jangkun itu sudah di sampingnya.

"Mau lari kemana lo?,"laki laki itu tampak mengatur nafasnya yang tak beraturan, Rose berdiri sambil menatap pria itu dengan takut.

"Lo mau ngapain di sini?,"tanyanya dingin.

EveryLasting | TaeyongCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang