pandangan mingyu melekat pada kedua iris mata sang adik yang tertimpa cahaya matahari. warna cokelat dengan binar yang indah, walaupun mengeluarkan setetes air mata.jinwoo menangis, namun bibirnya masih bisa menarik senyuman.
"bunda..."
ia melirih, menunduk sambil meletakkan bunga mawar berwarna kuning di atas makam tersebut.
"bunda, ini jinu..."
mingyu mengusap pelan punggung sang adik, berusaha sebisa mungkin untuk tidak ikut menangis.
"aku kesini sama kakak."
mingyu tersenyum, meletakkan lengannya di belakang bahu sang adik. ia tersentak saat merasakan sebuah tangan menyentuhnya, dan hal berikutnya yang ia tahu, itu tangan yohan.
mereka berdua saling memeluk sang adik.
"kak yohan, dan kak mingyu."
yohan melirik mingyu, menunjukkan senyuman kecilnya.
flashback...
"kamu beresin kamar kak yohan lagi?"
mingyu melipat kedua lengannya, berdiri di depan jinwoo yang menunduk, tak berani bertatapan dengan sang kakak.
"kenapa?"
"aku... beres-beres rumah..." jinwoo menjawab, dengan suara yang sangat pelan.
"tadi pagi kan sudah." mingyu menghela napas, "jangan begini terus, kamu mau dimarahin ayah lagi?"
"kak yohan pasti capek habis latihan taekwondo." jinwoo menggaruk pelan lehernya, "aku mau rapikan kamarnya saja, kok, kak."
"kak yohan nggak bakal berterima kasih sama kamu, jinu." mingyu berjongkok di depan sang adik, mempertemukan pandangannya dengan milik jinwoo.
"jangan harap apa-apa dari kak yohan.""aku nggak berharap apa pun," jinwoo menggeleng, "aku cuma mau tahu kak yohan senang."
mingyu tertegun, tangannya seakan membeku saat itu juga.
"nggak perlu bilang makasih padaku..." senyum mulai muncul di wajahnya,
"yang terpenting..."ia menjeda, "kak yohan senang."
end of flashback...
setelah selesai berdoa, ketiga bersaudara itu menyeret langkahnya menuju mobil. mingyu menelepon sang ayah, mengabari bahwa mereka akan pulang.
yohan menatap sang adik yang berjalan di sebelahnya, merangkulnya.
"kalau kakak udah selesai ujian, kita ketemu bunda bareng-bareng lagi, ya." ucapnya, yang langsung diangguki oleh jinwoo.
"mhm." jinwoo mendongak, "badan kakak panas... kakak demam ya?"
"iya. kayaknya karena kehujanan kemarin." yohan mengangkat kedua pundaknya.
"istirahat."
yohan mengangguk, "iya."
"terus... kak lala... gimana? maafin kakak?" tanya jinwoo, agak berbisik, setelah memasuki mobil.
"um..." yohan memutar kunci, "iya. tapi..."
jinwoo mengernyit.
"kak lala nggak pantes sama kakak."
"ngomongin apa?" mingyu yang duduk di belakang, membuat mereka berdua terperanjat.
"taekwondo!" jinwoo berbohong, langsung disusul oleh tawa kecil yohan.
"i-iya, taekwondo."
mingyu manggut-manggut, terfokus kembali kepada ponselnya. mobil mulai berjalan maju, dan mereka bertiga hanyut dalam pikiran masing-masing.
apa yang mereka pikirkan hampir sama, yaitu... membayangkan jika sang bunda ada bersama mereka sekarang.
pasti beliau akan tersenyum bahagia, melihat hubungan persaudaraan mereka yang telah terobati. luka lama yohan sudah sembuh, dan ia merelakan kepergian sang ibu tanpa menyalahkan siapa pun.
yohan juga menyadari semua kesalahannya di masa lalu, dan mencoba menjadi seorang kakak yang lebih baik dari sebelumnya.
kalau mingyu bahagia dengan lala, maka,
aku akan merelakannya."mingyu." yohan bersuara, membuat adiknya sontak menoleh.
"you should ask her out."
❁
haiii!!!! maaf aku udah lama banget gak update dan ini pendek banget :(
masih gak nyangka jinwoo ke elim, sedih banget. but i'll always support him wherever he is, kalian juga ya! let's give our haenami lots of love <3
thanks for reading, sebentar LAGIII kita menyentuh ending! have a great day/night! ❤️

KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings ✓
Fanfictionsemua orang tahu kim yohan dan kim mingyu adalah dua kakak beradik yang tidak pernah akur. yohan bahkan tidak mau menganggap si bungsu, jinwoo, sebagai adiknya. xyla, sahabat kedua kakak beradik itu, selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. seben...