Kita belajar banyak mengenai luka. Menapaki satu-persatu titik sakit yang tidak terdefinisi.
Kita belajar banyak mengenai rasa. Melewati satu-persatu takdir yang tidak terkira oleh memori.
Kamu baik, tapi aku tidak.
Kamu bahagia, tapi aku tersiksa...
"Hanya demi ego, mereka nekat mencelakai orang lain. Meski dengan cara licik sekalipun."
🎧🎧🎧
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
CAN TRY
Kurang ajar!
Itulah kata yang bisa menggambar isi otak Keva sore ini. Cewek itu melemparkan tas di atas rumput taman, lalu membanting tubuhnya sendiri di satu sisi yang lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sialan!"
Sudah tujuh kali Keva mengucapkan kata itu, dia benar-benar kesal terhadap perlakuan Tania yang terkesan bossy.
Sambil terus mengumpat, cewek hazel itu memijit kakinya yang kebas. Kakinya serasa ingin patah pasca kejadian menyebalkan beberapa menit yang lalu.
"Lari sepuluh kali, keliling lapangan penuh."
Kata-kata itu terus mengiang di pikiran Keva, sampai-sampai membuat cewek itu frustasi dan ingin berteriak.
Sebenarnya Keva bisa saja melaporkan Tania ke ruang guru. Tapi apa daya kalau cewek centil itu adalah seorang keponakan dari Pak Surya, guru olahraganya?
Kalau sudah begitu, maka tidak akan ada satupun yang akan menganggapnya serius.
"DASAR CABE!"
Selama lima menit ia berdiam diri di taman itu, Keva memutuskan untuk mengambil ponselnya.
Ia pun berbalik dan meraih backpack yang tadi dia banting. Tetapi, bukannya tas yang Keva lihat, matanya justru terpusat pada semak yang tiba-tiba bergerak.
"Apaan itu? Kok gerak-gerak sendiri?"
Mata Keva memicing sesaat, meneliti apa yang akan keluar dari sana.
Baru dua detik, mendadak pekikan kaget keluar dari bibirnya.
"AAAAA!"
Secepat mungkin Keva menyambar tasnya sambil mengucap doa tiada henti. Ketika ia berhasil menemukan sweeter wol putih, Keva pun langsung melemparkannya pada sosok itu.