Kenapa berbeda? Padahal yang kemarin dan sekarang jelas-jelas orang yang sama.
Dan kenapa alasan mereka begitu konyol?
***
Hari ini aku sengaja berangkat lebih awal, berharap bisa mendapatkan kursi lain. Begitu sampai, kelas masih sepi. Aku memilih duduk di salah satu kursi dekat jendela no.2 dari depan.
Sekitar 10 menit kemudian anak-anak yang lain mulai berdatangan. Ga lama kemudian seorang gadis yang kutahu bernama Dian berjalan ke arah ku.
"Ini kursi ku."
Aku terkejut dengan ucapannya yang tiba-tiba dan cuma menatap nya. Kukira aku salah dengar.
"Hey! Kamu ga dengar ya?" Nadanya mulai kasar.
Ga gampang untukku mendapatkan teman. Karena itu, aku ga mau cari masalah. Aku segera berdiri sambil sedikit mengangguk kemudian mencari kursi lain.
Di sisi lain kelas aku melihat gadis lain yang sepertinya sedikit berbeda. Caranya menatapku lebih lembut. Aku segera menghampiri dan lagi kursi sebelahnya kosong.
"Bolehkah aku duduk di sini?"
Dia agak terkejut. "Sebaiknya kamu duduk di kursi mu kemarin. Aku udah punya teman sebangku. Dia bisa marah sama kita."
Aku ngerti. Dia ga bermaksud ngusir aku. Buktinya dia nyebut kita, yang berarti dia juga peduli sama aku. Dengan terpaksa aku duduk di kursi ku kemarin.
Sebenarnya aku bertanya, kenapa rasanya seperti masih di zaman SMA? Di mana semua selalu duduk di kursi yang sama selama setahun.
Tepat pkl 8 dosen teknik fotografi masuk ke dalam kelas. Seorang wanita dengan paras manis dan senyum yang ramah. Kalo perkiraan ku benar, usianya belum mencapai 30 tahun. Dari yang kutahu, namanya Bu Yunita. Dosen langsung mengabsen seluruh mahasiswa begitu sampai di mejanya.
"Chiara Renata!"
"Hadir Bu."
"Egha Rachman!" Ga ada yang jawab.
"Egha Rachman!" Masih belum ada yang menjawab.
Sampai yang ketiga kalinya. "Egha Rachman!" Nada suaranya mulai meningkat.
"Hadir Bu!"
Teriak seseorang. Aku terkejut karena mendengar suara tapi ga ada orangnya. Yang lain kayanya udah biasa. Terus kulihat Bu Yunita melirik ke arah pintu. Ga lama seorang pria masuk agak terburu-buru dengan senyum merekah yang ceria.
"Cantik." Berkedip genit pada dosen di depan kelas.
Aku terkejut melihat respon yang ditunjukkan si dosen. Bukan marah atau menegur, tapi malah terlihat senang dengan balas berkedip genit.
Ah... Aku benar-benar kecewa. "First impressionku salah." (Bisikku).
"Apakah aku terlambat?" Dengan nada manja dan barisan gigi putih yang masih dia pamerkan.
"Oh, ga kok. Sama sekali." Kata si dosen.
Kemudian dia berbalik menuju salah satu kursi. Yang membuat ku terkejut adalah, setelah kuperhatikan, ternyata dia adalah lelaki yang kulihat di taman kemarin. Tapi kenapa penampilan nya beda banget? Aku yakin mereka orang yang sama.
Dan lagi, dia menuju ke arahku. Ga mungkin karena dia mengenaliku kan? Aku bahkan berani taruhan dia ga nyadar aku ada di tempat yang sama dengannya. Jadi ga mungkin dia mengenaliku.
Aku cuma mau menghindarinya. Entahlah, ada di dekatnya membuatku merasa ga nyaman. Rasanya seperti melihat seseorang yang ingin kuhindari.
"Bruk..."
Suara seseorang duduk di samping ku. Spontan aku langsung menoleh.
"Jadi kamu mahasiswi baru itu?"
Aku cuma menatap heran ke arahnya. Ternyata dia menuju ke arahku karena dialah teman sebangku ku.
Lalu dia menjulurkan tangannya. "Egha!"
Aku menatapnya sesaat. Lalu kuraih tangannya, "Ara!"
Entah kenapa saat aku menjabat tangannya, Dejavu muncul. Rasanya genggaman itu ga asing untukku. Tiba-tiba mengingatkan ku pada seseorang yang pernah kukenal.
Masih menjabat tangannya, orang-orang yang berada di sekitar kami menatap aneh. Terutama para gadis. Padahal beberapa detik yang lalu mereka masih menatap kagum waktu Egha berjalan menuju kursinya.
Melihat reaksi itu, buru-buru kutarik tanganku menjauh.
***
Akhirnya jam pertama selesai. Anak-anak yang lain bergegas keluar ruangan menuju kantin dilantai 1.
"Apa kita saling mengenal?" Tanya Egha tiba-tiba.
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Dengan ragu aku menjawab, "Kita ketemu kemarin di taman kota."
"Kemarin?" Dia menelengkan kepalanya tanda bingung. Kuakui, saat itu ekspresinya terlihat imut. Hampir aku ga sanggup nahan senyum melihatnya. Jadi langsung kupalingkan wajah.
"Nggak-nggak, jauh sebelum ini. Rasanya aku pernah kenal kamu."
Dalam hati aku berkata, "Aku juga ngerasa gitu. Tapi aku ga ingat pernah kenal seseorang bernama Egha sebelumnya."
"Tunggu! Kamu bilang kita ketemu di taman kota kemarin?" Reaksinya mendadak berubah terkejut.
"Lebih tepatnya aku lihat kamu di dekat danau." Jawabku masih belum mau melihatnya.
"Apa yang kamu lihat?" Tanyanya dengan nada panik.
Aku menoleh begitu saja, memastikan aku ga salah denger. Belum sempat kujawab, seorang gadis memanggil namanya dengan manja.
"Egha... Ayo ke kantin."
Egha terkejut lalu menatap gadis yang kini sudah ada di sampingnya dan kembali menatap kearah ku. "Kita lanjutin nanti." Terus dia pergi dengan gadis itu bergelayut manja pada lengannya.
Lihat Egha sudah meninggalkan kursinya, gadis yang tadi mengkhawatirkan ku tiba-tiba duduk di depan ku.
"Maaf ya tadi aku nolak kamu." Katanya tiba-tiba.
Aku cuma tersenyum.
"Kamu ga marah kan?"
Aku menggeleng.
"Kenalin, Sasmytha. Kamu boleh panggil aku Mytha."
Aku menjabat tangannya dan tersenyum. "Kenapa kamu tolak aku? Tanyaku penasaran.
"Di sini udah tradisi, sekali kamu pilih kursi, itu akan jadi kursimu setidaknya untuk satu semester."
"Oh gitu." Aku cuma manggut-manggut tanda ngerti. "Oh iya, kamu tahu ga kenapa dari kemarin mereka liatin aku dengan ekspresi yang aneh?"
"Oh itu. Awalnya sih karena kamu orang baru." Jawabnya cuek.
"Awalnya?"
"Mmm... Kalo sekarang sih, menurutku lebih karena mereka iri."
"Loh kenapa?"
Mytha ga jawab cuma kasih isyarat berupa anggukan singkat ke sebuah kursi di sampingku. Jawabannya itu bikin aku otomatis ngerti.
"Oya, ada satu lagi. Jauhi Alif, jangan cari masalah sama Dian dan jangan sampe jatuh hati sama Egha."
"Alasannya?"
*To be continue*
*Menurut kalian kenapa Mytha kasih warning gitu ya? 🤔
Kalian bisa tulis jawaban di kolom komentar.
*Jangan lupa untuk selalu vote ya guys😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Summer Field (End)
General Fiction👑FOLLOW DULU GA RUGI KOK BESTIE👑 Selamat datang di cerita pertamaku 💙 "Summer Field" adalah kota kecil yang kupilih untuk melanjutkan hidup. Sampai aku melihatmu. Seseorang yang seperti sama dengan kamu. Seperti Dejavu. __________________________...
