Rey, pria berwajah tampan dengan rambut berwarna hitam. Dan tak lupa tinggi badan yang begitu ideal. Ia menghembuskan nafasnya berkali-kali, rasa khawatir telah menyelimutinya kali ini.
Nay, setelah aksi perdebatan nya tadi dimana gadis itu? Rey yakin kekasihnya pasti sedang marah dengannya. Pasalnya gadis itu tidak membalas pesannya.
"Udahlah Rey, palingan juga balik. Kita makan lagi lah masih laper gue." vano memegangi perutnya "Ntar kalau gue mati, Lo nggak punya temen lagi."
Rey menghela nafas nya pelan, mungkin Vano ada benarnya bahwa Nay sudah pulang dan sedang ada di perjalanan "Ya udah lah yok." Ajaknya.
"Yes, yes, yes, gitu dong Rey. Jadi tambah sayang deh."
"Anjir, jijique." Rey menatap jijik Vano "Gue masih normal bege, yang seksi-seksi masih doyan gue." Ujarnya.
Vano memutar bola matanya malas "Gue aduin ke Naya gimana ya?" Ia Melirik Rey sebentar "Pasti bakal ada drama-drama an." Vano cekikikan.
"Awh. Cakit abangku." Pekik VAno saat Rey menonyor kepala nya.
"Gila."
Rey berjalan meninggalkan Vano, sungguh kalau saja dia bukan sahabatnya pasti udah dari dulu ia memutilasi nya.
BRUGHH
"Awh." Sengaja atau tidak Rey menabrak seorang gadis hingga tersungkur.
"Eh-eh, Lo nggak papa?" Ia membantu gadis itu berdiri "Sorry ya." Rey tersenyum.
"Makanya jalan tuh liat-liat, jalan pake kepala ya gitu."sindir Vano.
"Emang bngst lu, nggak liat tadi gue jalan pake apa? Ya kali kaki gue di atas kepala gue dibawah, emang mau atraksi."
Gadis di depannya itu tersenyum kikuk mendengar celotehan kakak kelasnya, sungguh terlihat lebih tampan jika dari dekat. Sungguh indah ciptaanmu Tuhan.
"Eh-eh, nama Lo siapa?" Rey melirik sebentar lutut gadis itu "Lutut Lo berdarah, biar gue obatin." Ujarnya.
Dia tersenyum kikuk "Eh-eh bentar kak, nama aku Dinda. Buat lutut ini nggak papa kok, lagian cuma dikit aja."
"Nggak bisa gitu, ntar kalo infeksi gimana? Jadi ribet deh gue nantinya." Rey menolak "Bisa jalan sendiri ke UKS?" Rey bertanya, Dinda mengangguk ragu.
Rey menghela nafasnya "Gue nggak percaya." Pria itu mencondongkan tubuhnya, menggendong Dinda ala bridal style.
Si gila tuh cewek.
Anjir apaan tuh ganjen banget.
Rey gue astaga.
Apaan tuh, padahal dia tadi sengaja nabrak Rey.
Para kaum hawa menatap tidak suka ke arah Dinda. Bagaimana tidak? Gadis itu mencari kesempatan dalam kesempitan.
~~NAYARA~~
N
ay duduk selonjoran di ranjang UKS bersama dengan kedua sahabatnya. Badannya sungguh lelah apalagi batin dan hatinya sangat-sangat lelah. Rey, entah mengapa dia seakan-akan di terpancar kecemburuan yang begitu besar. Dan bingungnya, ini pertama kali Nay seperti ini. Biasanya? Ia hanya diam dan tak ingin ikut campur atas ulah Rey dengan gadis lain. Tapi kali ini? Entahlah, mungkin rasa takut kehilangan.
"Nggak usah bengong Mulu ogeb, ntar kesambet lo." Omel Aleta.
Nay terbangun dari fikirannya, huftt..
Ada apa sih dengannya? "Jangan cemburuan Nay, jangan cemburuan." Batinnya sendiri.

KAMU SEDANG MEMBACA
NAYARA'
Teen FictionNayara, gadis cantik yang menempuh pendidikan SMA, ia telah berpacaran dengan pria selama 1 tahun lamanya. Siapa sangka, ia selalu ingin merahasiakan hubungan mereka, hanya orang-orang terdekat yang mengetahuinya. Permasalahan terus terjadi dihubung...