Sederhana, dia adalah penciptaan paling cukup dari segala secukupnya. Kalau menatap manik legamnya, rasanya aku mau pergi kemana saja asal dengannya. Rasanya aku mau sembuhin seluruh lukanya dan pergi keliling dunia berdua agar aku bisa lihat dia berhenti bahagia pura-pura.
"Baru pulang kerja?" kutanya.
"Kok tau? Aku bau keringet, ya? Haha..."
"Iya!" aku sedikit ketawa, disusul dia. "Enggak lah, canda."
"Aku gak keburu pulang sih, kamu keburu ajak ketemu." katanya.
Wajahnya sedikit mengilat karena keringat, dia pakai jaket parasut disaat angin bulan ini sedang dingin-dinginnya.
"Kamu udah makan?" tanyaku.
"Udah, udah."
"Kapan?"
"Terakhir tadi siang, tapi aku makannya banyak jadi gak laper lagi. Kamu?" alasannya...
Bohong.
"Udah tadi. Kalau besok aku bikinin makanan malem-malem begini terus kamu udah makan, gak bakal kamu makan dong?"
"Aku makan lah, pasti aku makan."
Aku sebetulnya sangat bersyukur atas Mama yang cuma tau bahwa aku dan Lucas cuma sebatas teman. Begitupun A Winan dan Renjun yang sebetulnya lebih ke biasa aja. Mama ngiranya aku mau ke Lucas, tapi emang bener kok. Aku mau sama Lucas.
Kalau ada pertanyaan sekaya atau setinggi apa keluargaku sampai mama berani mengkategorikan orang-orang jawabannya adalah, aku bahkan bingung. Aku bukan anak yang terlahir dari keluarga kaya raya tajir melintir. Cuma kalau ingin makan apa, bisa. Itu alasannya kenapa Mama mengharapkan segala langkah dan segala yang datang bisa menjamin kualitas masa depan dari hidup masing-masing anaknya. Jangan malah anjlok! Begitu kata beliau.
"Kamu kok bisa keluar malem-malem? Gak dimarahin?"
"Enggak, aku gak bilang. Lagian gak ketauan, sampe sekarang gak ada yang nanyain tuh." kataku sambil lihatin layar ponselku.
Drrtㅡ Drrtㅡ
Drrtㅡ Drrtㅡ
Lucas nahan ketawa waktu layar ponselku mendadak nyala.
a winan: dimana? keluar? pinjem flashdisk ya
a winan: ya sok a
a winan: sip makasih
Satu-satunya manusia yang nanya tapi selalu dijawab sendiri adalah manusia yang muncul kayak iklan sebelumnya. Balik lagi ke laki-laki dihadapanku ini, dia sekarang lagi ngecek hpnya.
"Aku udah isi paket internet, jadi sekarang bisa teleponan." katanya dengan senyum sumringah.
Padahal dia gak bisa dihubungi cuma tiga hari, aku tahan kali kalau cuma segitu. Eh, boleh jadi dia perlu sama yang lain. Kok aku bisa sepede ini sih?
"Gaya,"
Lucas ketawa.
"Besok hari apa?" kutanya.
