18. Bayu ke Rumah

3K 840 107
                                        

Katanya kalau pacaran gak bertengkar, monoton. Gak ada tantangannya. Buat aku pernyataan itu dongo, kalau memang gak ada yang harus diperdebatkan gak usah mancing berantem. Kurang kerjaan banget jadi manusia.

Gak tau, tapi kayaknya aku dan Adi memang sama-sama lempeng. Dalam artian selama aku percaya sama dia dan dia gak berbuat apa-apa ya udah. Aku juga kalau ada apa-apa yang ganjel pasti langsung nanya, aku gak suka harus pura-pura biasa saja padahal kesal atau apa. Adi bilang itu bagus, memang seharusnya aku begitu katanya biar dia peka. Tapi suka sih aku ngambek gak mau bicara dengannya, nanti pasti dia bilang gini.

"Kalo kamu gak ngomong gimana caranya aku tau?" gitu.

"Euh, si Aa teh lagi keluar. Gak bilang mau ada Bayu ke rumah."

Larut bersama pikiranku tentang Adi, dari luar kamar kudengar Mama bicara sama orang yang bisa kutebak dia siapa. Lalu kau tau apa?

"Teh," Mama muncul dari balik pintu, langsung masuk ke kamarku.

"Apa?"

"Keluar dulu, ada Bayu."

"Gak mau, ah. Kenapa harus aku? 'Kan dia ada perlunya ke si Aa bukan ke aku." kataku.

"Iya temenin dulu atuh, sambil teleponin si Aa." kata Mama.

"Ya ditelepon disini aja gak harus nemenin dia juga akunya."

"Euh, ya udah sok telepon si Aanya!"

Aku telepon A Winan tapi katanya acaranya baru mau mulai jadi dia gak bisa pulang sekarang. Katanya A Winan gak ngasih tau Bayu acara A Winan hari ini jadi makanya Bayu ke rumah.






📞 "Aa gak akan sampe selesai da, diusahain cepet."






"Ya udah kamu diluar dulu, temenin Bayu." kata Mama.

"Gak mau, Ma. Aku belum mandi."

"'Kan tinggal temenin aja duduk didepan gak kemana-mana."

"Suruh pulang Bayunya." kataku.

"Andrea!"

Terpaksa aku ikuti maunya Mama. Bodo amat aku kelihatan kayak pembantu, 'kan Bayu bukan Adi. Kalau depan si Adi baru aku harus cantik kayak tuan puteri biar cocok bersanding dengan pangeran.

"A," gitu aja sapaku waktu dia lihat malah aku yang keluar.

"Anak perawan jam segini belum mandi, dasar!" kata Mama basa basi.

Bayu ketawa.

"Mau minum apa, Bayu?" tanya Mama.

"Gak usah repot, Bu, gak apa-apaㅡ"

"Eh! Jangan gitu, ah. Kopi suka?"

Bayu senyum lalu ngangguk, "Suka."

"Tunggu, ya." kata Mama sambil berlalu ke dapur.

Menyisakan aku dan Bayu di ruang tamu. Tapi karena gak tau harus ngapain ya sudah aku main ponsel saja sambil chating dengan pacarku.

"Anya gak ngampus?"

"Nanti sore."

"Oh..."

"Nih, kopinya..."

"Hatur nuhun, Bu."

"Iya, sok, diminum. Ada perlu apa sama si Aa?"

"Oh, ini, mau minta anter beli perabotan."

"Perabotan?"

"Iya."

"Buat Bayu? Baru pindah apa gimana?"

"Iya, Bayu 'kan berhenti kerja di Jepang. Kemaren waktu pulang masih ke rumah Ibu, sekarang mau nyobain sendiri."

"Oh, hebat udah punya rumah sendiri." puji Mama.

Aku disini ngapain, ya?

"Gimana kalo sama Anya aja perginya?"

Sontak aku nengok ke Mama.

"Gimana, Bu?" sahut Bayu.

"Iya si Aa takutnya lama, kasian Bayu perlu 'kan. Nyarinya sama Anya aja." kata Mama.

"Aku belum mandi." kataku.

"Gak apa-apa, Bu. Bayu nunggu Winan weh." kata Bayu.

"Ah, lama si Aa mah. Gak apa-apa atuh 'kan udah kenal?"

Astaga, Mama.

Bayu diam, lalu gak lama matanya mengarah padaku. Kelihatannya, tapi gak tau, entah dia kagok entah dia hayu-hayu aja dan menunggu jawaban aku.

"Sok kamunya mandi sekarang." suruh Mama. "Kasian Bayu nunggu si Aa mah lama."

Sepuluh Ribu SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang