🎶
Intentions
Pamungkas
Setelah kujelaskan masih saja ia,
"Aku masih marah sama kamu." dia terjeda dulu. "Kalo kamu gak ngasih tau, jadi mikir yang enggak-enggak aja aku."
"Maaf, tapi sejauh kenal emang gak ada apa-apa."
"Aku percaya sama kamu tapi tetep aja aku cemburu."
"Maaf."
"Jangan minta maaf terus, 'kan udah tadi." katanya.
Aku diam lagi, harus bicara apa, ya? Biar dia gak terus merasa begitu?
Pura-pura gak sadar saja aku, dia beringsut duduknya mendekat padaku. Aku masih menatap lurus setengah menunduk, yang terlihat diujung mata adalah Lugas menatap ke arahku sambil ikut menunduk. Lebih ke dia seperti mau bicara tatap mata lagi denganku. Dia makin dekat, sampai satu tangannya bertumpu pada bahu disusul bibirnya mencium pangkal lenganku.
Betul, dia mau bicara sambil ditatap matanya. Lantas menoleh aku karenanya.
"Biasanya kamu apa-apa bilang, yang ini enggak. Aku mikirin itu. Maaf."
Tangannya kemudian terangkat ke hulu, menyelipkan anak rambut kebalik telingaku.
"Aku gak bisa ngedengerin kamu sampe beres kalo lagi ngomong, kamu jadi susah ya ngejelasinnya? Maafin aku, ya?"
Aku cuma diam menatapnya lamat.
"Aku minta maaf. Kadang kamu gak tau apa-apa tiba-tiba aku marahin. Harusnya aku minta maaf dari dulu. Maaf ya, An, yang dulu-dulu aku pernah mukul kamu atau sampe yang kemaren aku ngebentak. Maaf aku belum jadi laki-laki bener."
Ini yang mau aku dengar, tadinya. Sekarang 'kan sudah berlalu.
"Maaf kalo kamu mau ditemenin kemana tapi aku gak bisa. Kamu tau aku sibuk apa, itu aku pengen belajar hidup bener, An. Aku pengen bisa hidup bener buat diri aku sendiri, buat kamu juga nanti."
Aku jadi mau senyum-senyum, tau gak?
"Lanjutin ya, An?"
Kukira soal bicaranya saja, maka aku mengangguk.
"Lanjutin bantu aku terus jadi baik." katanya. "Soalnya sejauh ini aku gak bakal bisa jadi baik kalo gak punya pacar yang baik."
"Gandeng."
"Serius," katanya lagi. "Maaf aku lempeng."
Aku mengangguk, "Iya, lempeng. Tapi aku juga sama jadi ya udah, kita sama-sama belajar aja."
"Maaf aku belum bisa ngasih kamu apa-apa." katanya.
Kau tau, ada yang membuatku lega lagi malam itu. Saat dia mengganti kata enggak dengan belum. Mungkin kalau seperti biasanya dia bakal bilang 'maaf aku gak bisa ngasih kamu apa-apa'.
"Selama aku gak minta kamu jangan pernah mikir kesana." kubilang.
Lagipula aku gak akan pernah berani minta apapun pada Adi terkecuali kalau sudah jadi suami.
"Jawab."
"Apa?"
"Kamu kenapa bisa tau Bayu?"
"Tau lah." jawabnya yakin. "A Winan pernah pasang foto kalian bertiga, A Winan juga suka foto sama dia. Terus tadi waktu aku ke rumah, Daren bilang kamu dijemput temennya A Winan, aku nebaknya langsung bener."
