Jingga merah muda absolutkan bumantara bentala pada burit setelah pukul lima begitu tadana adanya. Dijadikannya aku mengira-ngira jika senja anak manusia maka tajam semua inderanya. Adiwarna, bahagia, rupa-rupa, nian sederhana nan lokatara.
"Adi,"
"Apa?"
"Kamu sayang aku gak?"
"Angger..." katanya.
"Jawab!"
"Sok atuh ulang."
"Bener sayang aku?"
"Sangat, Andrea." jawabnya.
"Bohong." kataku.
"Ya udah atuh bohong."
"Ah, kamu mah!"
"'Kan kamu yang bilang bohong!" katanya.
Gak tau, ah. Kesal. Aku mendelik sengaja, pura-pura juga. Lalu tangan dia menelusup dibalik punggungku, merangkulku dari samping.
"Seneng gak jadi pacar aku?"
Aku diam dulu. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling aku ingat, pertama kali dia menanyakannya adalah pada hari ketiga setelah kami pacaran. Dia nanya begitu sewaktu pulang sekolah dan dia jemput aku.
Dulu kujawab, "Enggak."
"Kenapa enggak?"
Waktu itu kujawab karena dia gak seganteng artis Korea.
"Sangat." kujawab.
Dia tersenyum, dalam dekap senyumnya membuatku begitu lengkap. Biar kutebak candra mengintip malu-malu di redum cakrawala. Pendar suamnya semarak ain pacarku yang dua.
"Bohong." katanya.
"Ya udah atuh bohong!" kataku, ngikutin dia juga.
Setelahnya sama-sama kita tertawa. Bisa gak, ya? Selamanya waktu seperti ini saja? Biar dia gak lelah bekerja, biar aku gak bosan merindukan dia, biar aku dan dia terus saling jatuh dan cinta apa adanya.
Pelan-pelan wajahnya menepis jarak, mendekat hingga udara disekitar penghiduku enggan menyeruak. Lalu bibirnya, ah, bisa gila. Aku gak mau kasih tau bagaimana rasa dari bibirnya jika jadi satu dengan bibirku, nanti kamu mau!
"Lipstik kamu manis." katanya.
"Liptint. Emang, yang ini aman kalau ketelan."
"Gitu? Coba sekali lagi."
Aku dorong sambil ketawa, sambil deg-degan, sambil pusing, sambil gemetaran, sambil merasa nano-nano, sambil berharap dia tetap mendekat lagi setelah kudorong.
Deretan gigi rapinya nampak dengan tawa tanpa suara, "Di pipi, di pipi."
Kemudian benar, bibirnya menapak pada pipiku yang kanan, lalu yang kiri, lalu pada bibir lagi.
"Dih!" kudorong lagi.
"He he..."
"Aku gak mau jadi pacar kamu lagi, ah!" kubilang.
"Jadi istri mau?"
"Mau!"
"Ya udah, tunggu." dia bilang begitu.
Meski cuma berduaan di rumahnya, gak membuat aku dan Adi berpikir macam-macam. Macam-macamnya paling dia seduh kopi lalu aku bikin Indomie sama, oh iya, dia cuci baju dulu tadi. Betulan, apel enak di rumah, bebas. Irit biaya tentunya.
Ini fakta yang tidak penting tapi ingin aku sampaikan sebagai pembenaran bahwa laki-laki dengan nama Lugas itu lempeng adanya. Maksudnya, dia gak suka jaga image atau basa-basi. Seperti bagaimana dia gak pernah melarang aku kalau cuci piring bekas makan kita sendiri, gak melarang aku sapu-sapu atau bantu dia membereskan sesuatu apapun itu.
Oke, itu wajar. Tapi maksudku, bahkan di rumah nenek atau teman, aku kadang dipandang tidak seharusnya melakukan beberapa pekerjaan itu karena dianggapnya aku sebagai tamu. Tapi Adi lebih suka menjadikanku pacar rangkap babu. Ha ha, enggak, bercanda. Dia betulan biasa saja. Malah dia pernah bercanda,
"Tuh beres-beres udah bisa, masak bisa gak?"
"Bisa lah!" kujawab.
"Tuh, tinggal ngurus anak." katanya yang berhasil membuatku merona sampai ingin jungkir balik rasanya.
Saking lebaynya.
"Laper gak?" tanyanya.
"Tadi makan."
"Mau jajan lagi gak?"
Aku menggeleng.
"Mau tidur disini." kataku.
"Jangan sekarang."
"Kenapa?"
"Aku belum siap." dia bilang.
"Aku 'kan bilang mau tidur disini doang gak bilang mau bikin anak."
"ANYA!"
saya menerima dm di wattpad di instagram minta sepuluh ribu senja diupdate. tp begitu saya update mereka malah seperti hantu *bingungjungkirbalik*
