Paginya aku bangun pagi sekali, aneh. Seperti disihir hingga tiba-tiba semangat mengerjakan itu ini, siap menghadapi hari, namun bingung waktu sorenya dijemput ke rumah oleh Adi.
"Eh? Di? Kamu libur?"
Sebab serius, dia gak bilang apapun, aku gak tau. Tiba-tiba saja sore ini dia datang ke rumah. Kalau kukira shift pagi, meski pulang sore dia biasa bukan pulang jam segini, masih ada satu jam lagi.
"Sini,"
Adi kemudian duduk pada kursi di teras, dia taruh helm didekat kakinya.
"Taro sini atas meja."
"Udah gak apa-apa."
Disusul tangan kanan menyibak rambut legamnya yang sekarang jadi lebih jabrik.
"Ikut yuk, ke studio?"
"Kamu libur kerjanya?"
"Kerja apa?" tanyanya.
Loh?
"Kamu gak kerja?"
Dia diam dulu.
"Aku resign, ada mau seminggu."
"Hah? Kok aku gak tau?" kutanya.
"Gimana aku mau ngasih tau?"
"Eh kita berantem belum seminggu ini, ya. Tapi aku gak tau, terus kamu gak ada ngobrol apa-apa."
Lugas diam lagi, dia kelihatan mencari jawaban.
"Iya, maaf. Waktu itu aku gak kepikiran mau ngobrol, lagi kesel." jelasnya.
Aku agak... enggak deh. Ya udah. Kalau harus jadi posesif maka aku bakal tanya selama hampir satu minggu itu dia kemana saja selama aku mengira dia bekerja? Gitu. Betulan gak ada mau kasih tau aku? Maksudnya biar aku gak perlu khawatir karena dia bisa kemana saja atau justru biar dia merasa lega karena aku gak tau? Gitu.
"Ya gitu, aku resign." ulangnya.
"Kenapa?" kutanya saja akhirnya.
"Nanti aku ceritain."
"Sekarang."
"Nanti..."
"Sekarang, Lucas."
"Apalagi manggil aku kayak gitu, gak jadi aku kasih tau."
"Kok gitu?!"
Dia ketawa, "Mau ikut, gak?!"
"Mau!"
"Ya udah, siap-siap!" katanya.
Aku berdiri dan meninggalkannya di luar pintuㅡeh!
"Sini, nunggunya di dalem."
"Mama ada?" tanyanya.
Aku tersenyum, gak tau, tiba-tiba mau.
"Ada."
Adi kemudian berdiri dan mengekorku masuk rumah.
"Panggilin, aku mau izin." katanya pelan.
Aku mengangguk. Kali ini, rumahku akan lebih sangat terbuka buat dia kapan saja. Kalau kamu masih ragu tanya aja ke Papa. Kupanggil Mama sore itu, Adi kemudian mau bicara dengan Mama yang sewaktu kutungguin, dia malah menatapku dengan tatapan kayak;
"Gak usah ditungguin. Siap-siap, sana!"
Maka aku meninggalkan mereka berdua. Aku siap-siap gak begitu seadanya. Eh, aku mau kelihatan cantik ya didepan dia! Selesai bersiap aku keluar. Mama sudah gak ditempatnya menyisakan Adi sendirian. Harusnya aku tau ini bakal kejadian...
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepuluh Ribu Senja
Cerita PendekLebih baik jadi dirimu sendiri. ©anyanunim 2019
