Ini cuma beberapa penggalan yang kudapati disela-sela merutuki diri sebab pernah kusanggupi menyayangi dia sampai habis seisi bumi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
kau adalah penciptaan paling sempurna dari segala secukupnya. pula aku mencintaimu sesederhana kau ada, tapi, lebih dari cintanya kau pada warna merah muda, atau pada polet motormu yang jingga, atau pada buah mangga yang katamu manis kalau aku yang kupas kulitnya.
merah muda mengingatkanku pada cinta. meski kau bilang merah muda adalah warna bibir atau pipiku kalau sedang merona. merah muda seperti memaksaku untuk terus tinggal didalamnya, didalam rentang ruang yang kau cipta namun kubutuhkan untuk jatuh dan cinta apa adanya.
merah muda mengingatkanku jua pada warna bibirmu yang kadang kala pucat namun tetap ingin kulumat. mendadak aku ingin jadi batang-batang rokokmu, atau jaket kulit hitam yang memelukmu. atau apapun itu asal terus didekatmu, aku mau.
sayang, entah dirasuki apa aku apabila kau dengar sayup ceracauku menguar hingga langit-langit kamar. kiranya serta sarwa terjaga, kau paham kita jua tak lebih dari cangkang anomi. filantropi tanpa pondasi ini kerap jerat kau dan aku jumpai tirani. kau tahu sebenar- benarnya aku cuma mau jadi pendamping yang mengerti, adi. aku mencintaimu seperti riak riuh pagi hari, setinggi matahari, seperti ke bulan lalu balik lagi, sampai habis seisi bumi