lugas ♡: aku udah di bandung
Katanya, setelah dia pulang dari Bogor hari itu dan sampai sekitar jam sembilan malam di Bandung. Lalu besoknya, dia ajak aku ketemu karena kebetulan kerjanya shift pagi. Dia bawa aku pergi sore-sore stelah dia pulang kerja, tapi gak kemana-mana, cuma diam di satu tempat.
"Gak capek?" kutanya.
"Enggak."
Kemudian aku mengangguk, selanjutnya kuaduk minuman pakai sedotan.
"Gak ada acara?" kutanya lagi.
"Enggak."
"Kenapa?"
"Hm?" Adi terlihat agak heran, kalau kutebak dia mencari jawaban beberapa detik. "Ya... emang enggak." terdengar ragu di telingaku.
"Oh, kirain."
Beberapa saat saling diam, tanpa kuduga Adi melontarkan tanya.
"Maksud kamu apa?"
"Maksud aku apa apanya?"
"Enggak, itu maksud kamu nanya kayak gitu apa?"
Lantas ikut heran aku, aku 'kan cuma nanya? Pikirku waktu itu.
"Gak ada maksud apa-apa cuma nanya."
"Kamu kemarin mau pergi kemana?"
"Gak kemana-mana, emang kenapa?"
"Oh, kirain." katanya.
Entah meledek entah meniru, terdengar sedikit nyebelin buatku. Pernah gak sih kubilang Adi bisa jadi menjengkelkan? Kalau belum, mungkin kamu bakal tau sebentar lagi.
"Maksudnya?"
"Iya, kirain kamu mau pergi kemana terus gara-gara aku gak bisa kamu jadi gini sekarang."
"Kamu kenapa?" kutanya.
"Kamu yang kenapa." katanya.
"Dih?"
"Gini, An. Kamu ada unek-unek, gak? Ke aku? Kalo ada keluarin sekarang."
Sumpah!
"Banyak!"
Mendadak diam dia, kemudian dua kenarinya dilempar ke arah lain disusul menunduk kepalanya.
"Tapi aku cuma pengen ketemu kamu, gak ada niat pengen ngeluarin unek-unek." kubilang.
Dua alisnya naik, "Katanya banyak? Keluarin aja satu masa gak bisa?" malah begitu dia bilang.
Dia nantangin? Kupikir, "Oh? Jadi harus dikasih tau?"
Adi menatapku dengan air muka yang disembunyikan, percuma, aku tetap bisa lihat reaksi tipisnya yang campur aduk. Namun diluar dugaan dia mengangguk.
"Iya lah. Emangnya aku bisa cenayang?"
"Aku gak mau ngeluarin unek-unek ke kamu, ini tentang kita aja. Aku sadar kita gak kayak orang lain—"
"Gak kayak orang lain?"
Kalau dipotong waktu lagi bicara tentu langsung diam aku.
"Iya emang bener 'kan?"
"Maksudnya gak kayak orang lain?" tanyanya.
Aku diam lagi, gimana cara jelasinnya, ya? Sekarang gak perlu ditebak konversasi ini menuju kemana arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepuluh Ribu Senja
Cerita PendekLebih baik jadi dirimu sendiri. ©anyanunim 2019
