"Gak dua-duanya. Eh gak tau lah. Pokoknya ada clash, kalo dilanjutin juga gak ngejamin." setelah bilang begitu dia hisap dulu rokoknya.
"Si Dery malah bilang nyantai dulu nyantai dulu, gak bisa nyantai. Aku butuh kerja, harus. Uang bidik misi belum keluar, akhir bulan harus ngirim Luki."
Luki, adik laki-lakinya, sebelumnya pernah kuceritakan dimana dia berada. Itu yang dia ceritakan waktu itu sekitar dua minggu lalu dan tau hari ini dia bilang apa.
"Aku mau ngejual rumah."
Aku diam, aku kayak masih bingung dia betulan atau bercanda.
"Serius?"
"Serius."
"Dijual ke siapa?"
"Gak tau sih dijual apa bukan, tapi mau mereka uangin. Kakaknya Ayah." katanya. "Dulu 'kan rumah itu hadiah nikahan Ibu sama Ayah dari Papi. Tapi Kakak-Kakaknya Ayah dulu ribut soalnya gak setuju si Ayah nikah sama Ibu. Jadi itu rumah mau diambil lagi sekarang, sebenernya juga katanya itu rumah warisan, tapi gak tau lah. Katanya mereka nyari sertifikat sama surat-suratnya ada dari taun kemarin. Nyari Ayah gak bisa dihubungin gak tau dimana, nyari aku juga susah katanya, padahal sertifikatnya di aku." setelah panjang lebar bersuara Adi tertawa.
Papi itu Ayah dari Ayahnya, Kakeknya.
"Tapi itu 'kan rumah buat Ibu, Di. Buat kamu juga lah. Mereka kenapa coba minta lagi udah lama ini, terus kenapa kamu mau?"
Aku yakin Adi dengar semua tanggapanku tapi dia mematung dulu, dia mainin sebatang rokok di tangannya sambil pemantik yang digenggam.
"Gak ada pilihan, An."
Aku diam.
"Dari pada rumahnya gak keurus, maksudnya, kalo cuma aku yang ngisi sendiri gak bisa keurus bener. Aku 'kan kuliah, kerja. Terus masalahnya aku lagi butuh uang." dia hisap rokoknya, kemudian ngacak rambutnya. "Ah, males panjang lebar, da kalo aku nolak juga gak bakal bisa apa-apa. Posisi aku juga sekarang masih nyari kerja butuh uang, bararingung." tuturnya.
"Terus kamu mau gimana?"
"Mau ngekost. Temen kerja aku 'kan Bapaknya punya kost-an, deket kampus lumayan."
"Ini serius, Di?"
Adi mengangguk, "Aku udah ngobrol sama Om, Amih, katanya udah aja ikutin maunya."
Om dan Amih yang dia maksud itu Om dan Nenek dari Ibunya. Aku cuma diam mengamatinya, kemudian kulempar pandangan ke depan sama sepertinya. Tapi aku masih tetap bisa lihat kalau Adi kemudian menoleh ke aku.
"Nanti kalo aku jadi ngekost disana, aku ajak biar tau dimana."
Aku cuma ngangguk.
"Naha baeud?" tanyanya usil dan diakhiri ketawa sambil megang rokok yang menyala. (Kenapa cemberut?)
"Kamu jadi jauh."
Adi ketawa lagi, "'Kan aku masih disini, An. Belom juga, jauh apa? Ck, deket. Kalo aku pindahnya ke Amerika, jauh."
"Tetep aja." kataku sambil sengaja mendelik.
"Jangan manja, ah. Santai, masih deket. Kamu mau ketemu tinggal ketemu, mau dijemput tetep bakal aku jemput."
"Kalo mau seblak?" tanyaku.
"Beli sendiri." katanya.
🌻
Seumur-umur aku ngerasa kayak aku ini gak gede gede alias pulang malem aja harus jam sembilan. Gak ngerti. Kadang aku sengaja nyebrang sampai jam sepuluh atau sebelas tapi lebih sering jam sembilan udah harus otw pulang pokoknya.
Tapi hari ini jam delapan aku sudah di jalan pulang. Tadi Adi katanya mau ketemu keluarga Ayahnya, mau bahas soal rumah dan itu ininya. Begitu aku buka pintu,
"Kenapa baru pulang, teh?"
Bentar, A, aku baru buka pintu ini.
"Emang baru selesai jam segini." kujawab A Winan jujur.
"Eh si Teteh udah pulang..."
Aku mendekat dan salim ke Mama, tapi Mama malah menuntun aku ke ruang tamu lagi.
"Salim juga atuh ke ini,"
Aku tau, begitu buka pintu juga aku lihat ada laki-laki yang duduk sama A Winan di depan. Gak mau panjang, aku kemudian berniat meraih tangan temannya A Winan mau kusalami, tapi dia menolak dengan menjabat tanganku biasa.
"Gak usah salim." katanya.
Menanggapi itu aku cuma senyum.
"Inget gak siapa?" tanya A Winan.
"Hah?" sahutku.
Mama ketawa yang lalu ditanggapi dengan senyum temannya A Winan.
"Temennya si Aa waktu sekolah, sering ke rumah dulu, ya?" kata Mama.
Temannya A Winan ngangguk.
"Oh..." aku cuma senyum seadanya dan berniat mau langsung ke kamar.
"Sok ngobrol dulu atuh, Tehㅡ"
"Capek, Ma. Lapar mau makan." bohongku sambil menghindar dari rangkuman Mama.
Sebagai aktris profesional setelahnya aku basa-basi nanya si Njun yang baru turun tangga sambil bawa gitar.
"Kamana, Jun?"
"Gitaran di Adam." jawabnya, Adam itu tetangga depan, teman seumurannya. "Ma, Njun ke Adam."
"Jangan kemaleman!" setelah bilang begitu Mama berbalik dan natap aku beberapa detik sebelum masuk ke kamarnya.
hampir 800 wordssss
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
pertanyaan yang saya dapati gak jauh dari,
'author/teh kapan sepuluh ribu senja up lagi'
nih, sudah dipenuhi. kalau begitu jangan lupa tinggalkan jejak disini