Dia pernah janji kalau hari Minggu ini dia kosong tapi katanya malah ada kerjaan, bayarannya langsung cair jadi dia bilang sayang kalau dia gak ikut. Jadinya sekarang, Sabtu sore. Sayang, bersamaan jarum jam diam pada angka sembilan, Lucas ajak aku pulang. Kutolak lah, aku masih mau dengannya.
"Mau kemana lagi?"
Bisa-bisanya dia pake kata'lagi'disaat aku dan dia bahkan cuma datangi dua tempat.
"Ke Amerika, ke Mesir, ke Korea."
Lucas noleh lalu dia akting sok kaget,
"Jangan sekarang, aku masih nabung!" katanya.
Sebagai jawaban kucubit perutnya, tapi dia gak meringis malah ketawa!
Gak aku jawab, aku cuma nyumpal dua lubang telingaku pake telunjuk sambil bilang,
"Aaaaaaaa... gak denger."
Lucas narik tanganku, mukanya geram tapi dia nahan ketawa.
"Angin! Dingin!" katanya waktu berhasil lepas tanganku. "Aku 'kan pake motor," sambungnya.
Mama, lihat. Gara-gara mama Lucas jadi ngomong gini 'kan. Gara-gara Mama aku sama Lucas jadi gak bisa lama-lama.
"Gak dingin!"
"Dingin!"
"Enggak!"
"Dingin, dingin, dingin, dinginㅡ"
"Enga, nga, nga, nga, ngaㅡ"
Kita sampai dimana motornya keparkir, dia naik kemudian disusul aku dibelakangnya.
"Gak dingin," kataku.
"Iya lah, terserah." jawabnya pasrah.
Lalu kupeluk dia, kubilang, "Gak dingin."
Beberapa detik Lucas gak jawab, bahkan sampai kita mulai melaju di jalanan.
"Kalo begini aku yang dingin," katanya. "Merinding lagi,"
"Emangnya gue setan!"
Setelahnya ada yang ketawa usil, gak tau! Bukan aku! Di pukul sembilan itu adimarga lengang, bak mobil-mobil dan motor itu ranap dilahap agar perjalanan pulangku dengan Lucas jadi cepat. Ini salah jam sembilan berarti, aku jadi gak bisa lama-lama sama Lucas!
"Cekiiiiit." katanya waktu kita berhenti didepan rumahku.
Aku turun, lalu Lucas nyerahin box isi roti kukus yang dia beli sebelum pulang. Udah aku bilang gak usah! Dia ngotot beli buat orang rumah katanya.
"Makasih, ya." kataku akhirnya.
Lucas ngangguk, helm full face itu jadi bikin aku gak bisa lihat wajahnya!
"Buka helm," suruhku.
"Hm?"
"Buka dulu."
Lucas lepas helmnya.
"Lupa,"
"Peluk dulu," kataku.
"Nanti ada yang liat." katanya.
"Gak bakal dih,"
"Ya udah sini,"
Dia senyum, kemudian dia rentangin tangannya disusul aku yang peluk dia.
Aku bukan gak mau, tapi mending Lucas gak usah ketemu Mama kalau Mama gak mau ngerubah sikapnya.
"Dah ah, bawel! Yuk," Lucas jalan ngeduluin aku.
Sesampenya didepan pintu kuketuk pintunya, "A? Jun?" di ketukan kelima ada yang jawab.
"Bentar,"
Cklekㅡ
"A," sapa Lucas.
"Eh, Cas. Masuk dulu,"
"Gak sekarang, A. Udah malem."
"Mama mana, A? Lucas mau pamit." tanyaku.
"Udah tidur."
"'Kan..." ini kataku ke Lucas.
"Oh, ya udah. A, pulang dulu."
"Oke tiati, Cas."
Aku dan A Winan masuk, Lucas menjauh kemudian pintu ditutup.
"Weh, bawa apa tuh?"
"Nih, dari Lucas."
"Pas pisan, Aa lagi laper."
"Bagus lah,"
"Jun!"
"Hmmmmm,"
"Turun sini, ada makanan."
Aku masuk kamar waktu Renjun turun dari kamarnya. Iya, kamarnya sama kamar a Winan di atas, kamarku di bawah. Aku langsung jatuhin diri di ranjang, lalu kunyalakan ponsel.
luvcas
makasih ya | aku seneng | 21:37
| sama | apalagi aku 21:40
seneng? | 21:40
|engga haha
21:42
stress | 21:42
|seneng lah apalagi aku 21:42
gaboleh jatuh cinta sama dia YA!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.