"Kamu mah macem-macem da jadi rokok aku dikorbankan, baru beli!" katanya waktu dijalan pulang.
Maafku padanya adalah sebesar langit senja hari ini. Tapi padanya, kuberikan sepotong saja kali ini. Haha, hihi. Kepada si cinta, maaf aramku melebihi mendungnya rabu. Maaf karena cuma antap yang dapat kau tangkap.
Kali ini betul-betul pulang. Alasan kenapa aku begini, aku juga gak tau. Stress tugas, anak-anak gak solid, aku kena peringatan sama dosen, Lucas sibuk, mama banyak nuntut. Gak tau, ah! Pusing!
"Makanya jangan ngerokok!" gitu aja kataku.
Di jalan pulang aku cuma nyeruput kopi sambil lihatin jalanan tanpa banyak bincang dengannya seperti bagaimana seharusnya. Tapi tiba-tiba mataku jatuh ke gantungan yang ada di resleting ranselnya. Gangtungan kayu dengan nama pemilik yang tertulis disana.
Adimarga Lugas Mahatma
Aku ingat perkenalan pertamaku dengannya, kelas satu SMP waktu pulang sekolah kejebak hujan deket gerbang komplek di pos satpam.
"Adiknya a Winan, ya?" tanyanya.
"Iya, kenapa tau?"
"Tau atuh, suka liat minggu pagi beli bubur deket blok L 'kan?"
"Ih kok tau?!"
"'Kan peramal," katanya.
Dulu dia kurus dan tinggi, pake ransel dan almamater yang dipegang karena kebasahan.
"Oh tau, aku! Suka main sama a Winan 'kan kamu? Di rental psnya om Idong!"
"Itu tau..."
"Kamu Luki?"
Dia noleh waktu itu, lalu ketawa.
"Itu mah adik aku." koreksinya.
Tapi yang kudengar waktu itu namanya Lucas, sampai hari ini kupanggil dia begitu. Orang-orang di sekitarnyapun begitu sampai hari ini.
"Andrea 'kan?"
"Anya." koreksiku.
"Oh, oke."
Dulu aku sering diledekin temen-temenku gara-gara namaku kayak cowok katanya. Tapi saat itu satu-satunya orang yang gak aneh dengan namaku adalah Lucas.
"Bagus namanya kayak artis OVJ." katanya.
"Hah?"
"Andrea Taulany."
"Andre itu mah!!!"
"An, aku bikin salah?" tanyanya.
"Enggak,"
"Maaf ya kalo aku hari ini ada salah. Bukan hari ini aja sih, kemarin, kemarinnya lagi. Aku gak tau, soalnya kamu gak pernah jawab kalo ditanya juga."
Tetap gak aku jawab, aku tiba-tiba ngerasa sakit.
"An? Dimaafin enggak?"
"Bentar, sakit."
"Sakit apa? An? Kenapa?" Lucas berusaha nengok belakang.
"Liatnya kedepan aja, ih!" kalau nabrak gimana dasar bego.
"KAMU SAKIT APA?!" tanyanya.
"Gak sakit!"
"TADI KATANYA SAKIT!"
Ah, sumpah berisik banget Lucas. Aku pengen cepet-cepet nyampe rumah aja ini sumpah perutku sakit banget.
"Ngebut bisa gak?" tanyaku.
"SAKIT APA?!"
"MENS!"
"OH, YA."
Kami melaju di jalanan Bandung yang agak lengang padahal biasanya merayap. Sesampainya dekat rumahku kita berhenti dan aku langsung turun.
"Pantesan!" katanya setelah lepas helm.
"Pantesan apa?"
"Galak,"
"Dih?"
"Jangan marah-marah, capek gak? Capek kalo aku jadi kamu. Kalo aku ada salah ngomong ya, takutnya nanti aku gak tau."
Gak aku jawab.
"Hei,"
"Hmmm."
"Liat dulu sini, An."
"..."
"Andrea!"
Aku tetap gak mau natap dia tapi kopi darinya aku minum.
"Andrea Yara!"
Aku noleh.
"Maafin aku. Aku bikin salah, ya? Kalo iya, maaf. Nanti aku pikirin salah aku apa, ya?"
"Kamu gak salah."
"Kalo gak salah kenapa jadi galak atuh?"
Aku diam. Betul, kenapa setiap ditimpa banyak perkara aku jadi malas bicara dengannya. Ditambah aku akhir-akhir ini tiba-tiba kesal sebab sadar bahwa kadang bertemu dia gak jadi urusan yang mudah meski semua ini bukan salahnya. Tapi dia ngeyel! Dia suka bertingkah gak jelas kalau aku lagi kesel kayak sengaja, tau gak? Tapi aku egois, harusnya aku gak begini juga sih.
"Maaf,"
"Jangan minta maaf, 'kan kamu lagi marah. Kenapa yang marah minta maaf ey?"
Dengar itu entah kenapa aku malah ingin ketawa, keinget juga kejadian tadi waktu di kedai kopi dan driver gojek yang bingung banget mukanya. Udah dituduh minta line orang lain, dituduh anak kabur dari rumah juga! Semuanya keputer di otakku kaya rekaman video yang bikin aku jadi ketawa.
"Gak marah!"
"Kenapa gak ngeread lima hari?"
"Gak tau, ah."
"Jangan marah-marah wae, mulai besok gak bakal ketemu alig."
"Kamu mau kemana?" tanyaku.
"Kerja, tapi mau dikebut biar dapet bonus."
"Oh, jaga kesehatan."
"Iya lah, kalo aku sakit nanti siapa yang melindungimu?"
"Ah, masa Dilan bentukannya kayak gini?"
"Emang aku kenapaaaa?"
Giliran, lantas aku ketawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sepuluh Ribu Senja
Historia CortaLebih baik jadi dirimu sendiri. ©anyanunim 2019
