Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan tapi aku merasa dia tak perlu mengetahuinya. Bagaimanapun kita semua penuh berhak atas apa-apa yang sudah diciptakan untuk kita. Begitu pula dia, dia yang mampu terus hidup sampai hari ini. Dia yang berhak akan bahagia, dimana berserakan tawa seluas lapang dadanya.
"Matanya kenapa banjir?" tanyanya.
Tak kujawab, aku cuma nutup wajahku.
"Siapa yang bikin kamu nangis, An?" tanyanya lagi.
Kuturunkan tanganku sedikit.
"Emang kenapa?"
"Kalo cowok aku tonjok,"
"Kalo cewek?" tanyaku.
"Kamu yang tonjok." jawabnya.
Tapi aku malah pengen ketawa. Gimana sih!
"Jangan nangis. Nanti dikiranya nangis gara-gara aku? Nanti dikiranya kita lagi berantem." katanya sambil nurunin tanganku dan ngusap pipiku.
Aku masih di tempat yang sama, dimana tadi ada Yeri dan Sian disini. Yeri memilih pergi, setelahnya Sian yang memang ada janji. Matanya menatapku lamat, lalu dia buka suara lagi.
"Aneh kamu mah, nangis tapi cantik." katanya.
Aku gak mau ketawa, ya!
Rasanya gak enak setiap ada orang yang seenaknya bicara tentang dia. Dia, laki-laki sulung yang biasa ibunya panggil Adi. Alasan kenapa aku nangis pun karena aku gak enak dengar semua yang masuk ke telingaku perihal apa-apa tentang Lugas. Rasanya seperti aku yang bicara begitu meskipun aku cuma dengar.
"An,"
"Hm,"
"Jujur sama aku, kenapa nangis?" tanyanya lagi.
"Gak kenapa-kenapa..."
"Kenapa atuh nangis?!" tanyanya.
Aku makin nangis. Dia punya banyak ahli, dia yang selalu berdiri diatas kakinya sendiri. Dia yang kurasa seharusnya banyak orang lebih melihatnya dibanding aku meskipun beruntung bagiku bisa melihatnya sedalam ini.
"An..."
"Apa,"
"Kenapa..." tanyanya lagi dan lagi.
Aku gak bisa kasih tau, Adi!
"Masalah sama temen?" tanyanya.
Buru-buru aku ngangguk.
"Aku boleh tau siapa orangnya gak?" tanyanya lagi.
Aku nggeleng. Dia diam, tapi kemudian...
"Ya udah,"
Maafin aku.
"Aku mau jadi telinga," katanya lagi. "Telinga buat kamu. Aku mau jadi telinga kalo yang lain sibuk sama dunianya. Makanya, An. Aku gak maksa, tapi kamu juga harus tau aku gak pernah keberatan kalo kamu cerita. Atau ada butuh apa, bakal aku usahain semuanya." jelasnya.
Aku cuma diam dengar penuturannya, masih susah atur nafas. Kenapa sampai begini sih nangisnya? Tak sengaja atensiku menangkap arah dua kenarinya, dia lagi menatapku.
"Aku gak suka liat kamu nangis, An, asli. Gak enak hati, kayak gara-gara aku."
Lugas menatapku, dengan jelaga penuh asa pada matanya. Seolah berbicara, bahwa aku akan selalu baik-baik saja selama dia ada. Kualihkan pandangan. Melihat wajahnya lamat-lamat malah membuat rekaman-rekaman menyebalkan itu berkelebatan didalam kepala.
"An,"
"Apa,"
"Udah makan belum?"
"Belum,"
"Liat dulu sini,"
Terserah kalian mau menganggap dia kurang romantis, bagiku dia selalu lebih dari cukup. Bagaimana bicara dan tindakannya selalu berbanding lurus yang berhasil membuatku betul menyayanginya.
"Sayang,"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"inih kimi mih, ningis tipi cintik."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.