Part 1

479 13 0
                                        

Setelah kelahiran kedua putranya yakni anaknya bersama Risa yang diberi nama Fikram dan juga anaknya bersama Ziya yang di beri nama Juan, Langgeng merasa kehidupannya sempurna. Memiliki 1 putri dan 2 putra dengan kondisi keuangan yang bisa di bilang lebih sekedar cukup membuat Langgeng bersyukur. Kehilangan 4 anak dari Risa rasanya begitu perih, tapi sekarang dia memiliki buah hati yang memberikan semangat untuk kehidupannya.

Langgeng berencana menunaikan ibadah haji bersama kedua istrinya sebagai rasa syukur terhadap Allah. Namun dana yang ia butuhkan masi kurang, hanya bisa memberangkatkan 2 orang saja. Bingung?  Tentu saja pasti. Dia ingin segera melaksanakan rukun Islam yang ke 5 secepat mungkin,tapi siapa yang harus dia gandeng terlebih dahulu, Risa atau Ziya. Langgeng merasa bersalah jika harus meninggalkan salah satu istrinya.

Di sore yang cerah tersirat warna jingga yang menenangkan Ziya dan Langgeng duduk di bangku taman di temani sejuknya angin sore.
"Ziya aku ingin membicarakan sesuatu" ucap Langgeng sambil meggenggam tangan Ziya.
"apa yang ingin kamu bicarakan mas?"
Langgeng terlihat sedikit gusar untuk menyampaikannya.
"ungkapkan saja agar hatimu tenang, aku akan mencoba mengerti" Ziya berkata dengan lembut dan senyum yang tulus dan meneduhkan hati.
"Ziya sebelumnya aku sudah mengatakan ingin berangkat haji bertiga bukan? Tapi sampai saat ini tabunganku hanya cukup untuk 2 orang saja, sedangkan aku ingin sekali berangkat tahun ini".(jaman dulu belum ngantri ya kayak sekarang, yang nunggu hingga bertahun tahun)
"Ziya entah mengapa aku ingin sekali segera melaksanakannya, tapi jika aku meninggalkan kamu ataupun Risa aku merasa sangat bersalah, bagaimanapun juga aku ingin tetap adil untuk kalian berdua". Ziya menghirup nafas panjang, berusaha tenang.
"Jika mas Langgeng ingin berangkat tahun ini laksanakan mas, berangkatlah bersama mbak Risa" tutur Ziya dengan senyum yang tak terlepas dari paras ayu nya.
"Jangan merasa bersalah jika aku yang harus mas tinggal disini, aku akan jauh lebih bersalah jika mas tidak jadi berangkat. Mbak Risa lebih berhak berangkat terlebih dahulu mas, lagian Juan belum bisa lepas dari aku, ibu saja masih kuwalahan jika aku tinggal setengah hari bagaimana kalau aku tinggal selama sebulan lebih mas?" jelas Ziya panjang lebar.
"Berangkatlah mas, suatu saat kita pasti bisa berangkat bersama". Jelas Ziya meyakinkan Langgeng.
"Ziya aku janji dua tahun lagi kita berangkat berdua, doakan agar suamimu ini di berikan rizki yang berlimpah"
"Aamiin tentu mas, namamu selalu aku sebut dalam setiap doaku." tangan Ziya menangkup wajah suaminya, laki-laki yang menjadi imamnya dan yang teramat dicintainya.
Senyum dari keduanya merekah, Langgeng mengecup kening Ziya dengan penuh kasih sayang,sang istri hanya menutup mata dan berdoa dalam hati "Ya Allah aku semoga dia selalu melihat ketulusanku, jauhkan lah pemikiran buruk darinya untukku". Entahlah hatinya merasakan sesuatu yang akan membuat dirinya sakit.

Mawar HitamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang