•save me

639 116 19
                                    

April,2019

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

April,2019

Hampir genap dua bulan Reya berada di Kerinci untuk magang dan penelitian. Wanita itu sangat bersyukur karena segala urusannya di permudah, tim di kantor yang banyak membantu serta membimbingnya, perancangan tugas akhir yang meskipun sulit tapi ia selalu mendapat banyak pertolongan dari segala pihak, dan dosen pembimbing yang tidak pernah menyulitkan Reya sama sekali dengan menerima bimbingan via email, tentu hal ini sangat membantu Reya yang sedang tidak berada di Semarang untuk konsultasi tatap muka.

Setiap ia menelpon Mamanya, Reya tak pernah ketinggalan untuk mengungkap betapa senangnya ia berada di kota itu. Perlahan namun pasti ia seperti mendapatkan energi positif baru yang selama ini dia cari.

Pada titik ini Reya seperti tersadarkan, bahwa kadang manusia tidak bisa terkungkung pada satu hal dan keadaan saja, memang ada suatu ketika kita di haruskan berani untuk mengambil langkah berbelok dari jalan yang ada di depan mata.

Keadaan baru, suasana baru, serta orang-orang baru.

Rasanya sudah cukup untuk Reya membalut diri menikmati apa yang di takdirkan padanya, sudah cukup ia hanya pasrah menjalani tanpa adanya niat untuk mendobrak benteng yang telah ia bangun, kini saatnya Reya berjalan, dan terus berjalan untuk mencari apa yang selama ini orang sebut dengan kebahagiaan.

Pada suatu sore, Reya sedang duduk memakan jagung bakar dekat kantor bersama Dimitri. Sepertinya berat badan Reya selama di Kerinci lumayan naik karena lelaki itu selalu mengajaknya makan.

Setelah menggigit jagung pertamanya, Dimitri berkata "Re, saat kamu terpojok, kunyahlah perasaan mu layaknya mengunyah nasi. Karena hidup adalah sesuatu yang harus di cerna."

Saat itu Reya hanya bisa tersenyum geli dan menjawab, "Jadi tiap sedih, kak Dimi selalu makan?"

Laki-laki itu mengangguk. "Coba deh sesekali kamu makannya di hayati banget, dan bayangin tiap gigitan makanan yang kamu hancurin itu adalah masalah hidup kamu. Ambil air dan telan, udah deh"

Ada satu hal yang sangat Reya kagumi dari sosok Dimitri, yaitu cara dia enjoy dalam menjalani hidupnya. Hal ini membuat ia terlihat tidak pernah mempunyai masalah karena apapun yang terjadi selalu di sikapi dengan pola pikir simple dan sederhana.

"Itu quote yang Kak Dimi buat sendiri?" entah mengapa Reya tiba-tiba inging bertanya itu.

"Enggak, dari drama korea. Hahaha"

Ia kembali menggigit jagung bakar yang sudah mendingin di tangannya.
"Tapi aku setuju Re, hidup emang harus di cerna kayak makanan, mengunyah adalah proses kita menjalani susah senengnya, setelah berhasil membuatnya lunak, baru kita telan dan di cerna biar kerasa nikmatnya. Coba kalau kamu makan main telan aja, rasanya gak akan senikmat ketika kamu merasakan makanan itu hancur dalam rongga mulut kamu"

Lihat bagaimana cara Dimitri memberikan sebuah filosofi kepada Reya, hanya dari proses mengunyah, namun ternyata bisa dimaknai dengan sedalam ini. Dan itu yang membuat Reya bisa merasakan ketenangan yang selama ini ia cari.

VRIENDSCHAPTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang