Reya
Rumah.
Sejauh gue mengingat kebelakang, gimana pun gue mengais memori yang tersimpan didalam kepala gue, kayaknya gak banyak yang berubah dari rumah ini. Entah itu jenis dan posisi furniturenya, berbagai macam hiasan dinding, bahkan cat di setiap sisi ruangan gak ada yang berubah sejak gue kecil. Gak heran rumah gue udah nampak begitu kusam. Cuma di bagian luar dan pagar yang akan di cat ulang oleh tukang yang dibayar mama waktu menjelang natal, biar keliatan bagus pas dilihat tetangga.
Sesuai tujuannya, ya rumah gue cuma 'keliatannya' aja yang bagus dari luar, dalamnya gak secantik itu. Tapi bersih banget sih. Karena gue selalu rajin nyapu dan ngepel tiap weekend.
Yang berubah dari rumah ini cuma satu.
Suasananya.
Sejak kepergian Ayah, rumah gue gak menemukan sisi hangat dan nyaman.
Semuanya seolah sirna dan pergi bersama Ayah.
Semarang panas, tapi rumah ini selalu dingin. Entah karena posisinya di pojok komplek, atau memang orang-orang didalamnya yang bikin rumah ini jadi kaku.
Dalam seminggu bisa dihitung berapa kali gue ngobrol sama Mama. Dan lagi-lagi, sejak Ayah gak ada, hubungan gue dan Mama semakin renggang.
Ayah menikah dengan Mama waktu gue kelas enam SD. Gue gak pernah suka sama Mama, karena waktu itu gue pikir gak ada orang yang bisa gantiin posisi Ibu.
"Ayah tau Rere sayang sama Ayah, tapi tante juga sayang sama Ayah nak.."
"Pasti seru deh kalo ada yang nemenin Rere sayang sama Ayah"
"Biar sayang ke Ayahnya gak sendirian aja, ada temennya"
Itu rentetan kalimat dari Ayah yang masih gue inget sampai detik ini. Waktu itu gue gak bisa mikir apa-apa, umur gue belum ngerti banyak hal, yang gue tau adalah pasti Ayah gue seneng banget kalo banyak orang yang sayang sama dia. Begitulah awalnya gue membuka pintu rumah ini untuk dimasuki oleh Tante Lina yang sekarang gue panggil Mama. Ayah gak pernah mempermasalahkan panggilan gue, karena bagaimana pun Ayah mengerti kalau gak ada orang yang bisa mengganti posisi Ibu di hati gue.
Gue tau Mama sayang banget sama Ayah gue, dimulai dari cara dia memperlakukan Ayah, Mama rela pergi dari rumah dia yang super megah di Surabaya, menolak iming-iming harta warisan dari orang tua beliau demi tinggal dengan Ayah gue yang masih tergolong orang biasa. Rumah gue sekarang pun bisa dibilang 70% dibeli pake uang Mama yang bekerja sebagai Notaris. Gue percaya, bahwa Mama beneran tulus sayang sama Ayah. Kepergian Ayah membuat Mama sangat terpukul dan akhirnya terpuruk kayak sekarang, suka menghabiskan malam di kelab.
Ayah gue seorang guru SD, dari kecil gue selalu di dongengin Ayah sebelum tidur, terutama saat gue sedih, waktu gue ketakutan, dongeng Ayah seperti obat yang menenangkan bagi gue sekaligus penyemangat. Ayah pernah beliin 15 kotak susu dancow berhadiahkan buku dongeng mini sebagai kado ulang tahun kelima gue. Dan ketika itu gue merasa jadi anak yang paling bahagia saat koleksi buku dongeng gue lengkap, mulai dari yang judulnya Si Kurus dan Harimau Loreng sampai ke Si Kilip dan Putri Bulan.
Disaat temen-temen gue punya cita-cita jadi Dokter, Polisi, Artis terkenal, gue hanya ingin jadi pendongeng. Supaya gue bisa memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk semua orang seperti yang dilakukan Ayah ke gue.
Layaknya perekat, secara gak langsung Ayah membuat gue dan Mama bisa dekat. Bertahun-tahun gue merasa sebagai anak yang beruntung karena mendapat kasih sayang yang lengkap dan komplit dari Ayah serta Mama. Namun, saat lem perekatnya hilang, hubungan gue dan Mama juga perlahan menjauh. Gue seperti merasa di benci oleh Mama karena bikin Ayah pergi. Mama jarang ngomong sama gue, Mama gak pernah perhatian lagi ke gue, gue merasa tumbuh seorang diri, sedangkan Mama sibuk tenggelam dalam perihnya perasaan kehilangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
VRIENDSCHAP
Fanfiction(COMPLETED) Semarang dan orang-orang yang menguras perasaan. • vriendschap (Belanda) (n) per•sa•ha•bat•an Started : Dec 2018 Finished : Dec 2019 cover background cr babyseni edited by gizagee
