(COMPLETED)
Semarang dan orang-orang yang menguras perasaan.
• vriendschap (Belanda)
(n) per•sa•ha•bat•an
Started : Dec 2018
Finished : Dec 2019
cover background cr babyseni
edited by gizagee
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saying I love you is something I couldn't do Locked my self away and just cried my heart out It's not like crying would make things better I am only left with bigger loneliness
Paul Kim - Her
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Februari,2019
Semarang yang biasanya panas terik hari ini mendung dan bahkan sesekali gerimis. Angin terasa dingin membuat rasa malas untuk melakukan sesuatu jadi memuncak.
Namun gerimis hanyalah hal kecil untuk sebagian orang yang sibuk berlalu lalang menciptakan keramaian. Simpang Lima tetap memberikan kesan cerianya meskipun jalanan serta rerumputan alun-alun basah oleh hujan.
Sepertinya hal tersebut berbanding terbalik dengan keadaan di sebuah rumah kecil di komplek yang berada dekat dengan ibu kota. Gerimis malah membuat suasana disana semakin menyedihkan. Orang-orang menggunakan pakaian serba hitam keluar masuk dari rumah William.
Hari ini adalah hari pemakaman Wili.
Gadis manis dan ceria itu sudah di masukkan ke dalam peti , bersiap-siap di kebumikan. Di sekitar peti terlihat William yang duduk dengan tatapan kosong, tak ada bedanya dengan lelaki tinggi berhidung mancung serta mata yang sudah bengkak, siapa lagi kalau bukan Cakra.
Ia menggantikan Wiliam untuk menyambut dan melayani orang yang datang melayat, karena pria paruh baya itu seperti kehilangan seluruh semangat hidupnya sejak hari Wili di nyatakan sudah meninggalkannya.
Reya, Varo dan Dokter Alden pun juga ikut membantu. Wili sudah di anggap seperti anak sendiri bagi Alden, menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit kadang membuatnya kehilangan sosok untuk di ajak mengobrol atau sekedar basa-basi, Wili yang cerewet dan selalu bersemangat untuk menceritakan apa saja sangat berperan sebagai penghibur Alden di kala waktu senggangnya menunggu jadwal pemeriksaan pasien.
Tiba-tiba Alden teringat akan obrolan singkatnya dengan Wili namun sungguh berkesan di hati Alden hingga saat ini.
Kala itu Wili sedang sendiri dan Alden datang mengunjunginya untuk membawakan buah apel fuji favorit gadis itu. Setelah mengobrol sesaat, Wili bertanya, "Dok.. Dokter takut mati gak?"