Hari Senin adalah hari dimana kita harus bersekolah dan bekerja. Banyak orang yang bekerja maupun sekolah sangat malas pada hari ini. Langit biru dengan awan awan yang menghiasi. Kicauan burung yang ada disetiap pagi. Namun, saat ini tanah tanah sedang becek karena terkena hujan deras kemarin.
Dinda tengah mengerjakan soal soal yang ada di buku paket. Bu Nisa, guru mapel matematika menyuruh murid murid untuk mengerjakan soal soal matimatian yang membuat mereka bisa pusing. Soal aljabar yang tertera disana membuat para murid di kelas menggaruk kepalanya tidak gatal.
Hingga sebuah terdengar seruan, "Waktunya istirahat." Para murid yang ada di kelas seraya mengucap alhamdulillah secara terang terangan. Bu Nisa hanya geleng geleng kepala. Lalu, berdiri dan menyuruh murid murid untuk menjadikan tugas itu sebagai pr. Setelah itu, dia mengucap salam dan berlalu keluar. Para murid murid pun segera keluar seraya berbincang bincang dengan teman teman mereka.
Saat Dinda hendak pergi dari kelas. Tiba tiba ada seseorang yang menahan lengannya untuk pergi. Dinda menoleh. Dia ingin marah tapi urung saat tahu itu Dehya.
"Kau ikut dengan kami," ucapnya lalu menariknya. Dinda meronta ronta untuk dilepaskan. Tetapi, Dehya sepertinya sedang tidak bisa diajak bicara. Di belakang, Fara dan Deli berada di belakang mereka.
Sesampai di taman, Dinda langsung melepas tangannya yang dicekal oleh Dehya. "Kau ini. Jika ngajak biasa saja. Tidak usah mencekal seperti tadi!" teriak Dinda keras.
"Diam kau!" ucap Dehya seraya melotot kearah Dinda. Dinda pun menutup mulutnya rapat rapat. Takut menghadapi Dehya.
Deli menarik nafas, "Mengapa kau tadi tidak menconteki kami saat ulangan Bahasa Arab?" Deli menatap kearah Dinda dengan tajam.
Dinda kaget. Dia tidak mengerti, karena hal itu dia diseret kesini. Baru 2 Minggu bisa menjalani kehidupan dengan baik baik sekarang malah begini. "Tapi kan-"
"Diam kau!" ujar Dehya seraya melotot kearah Dinda. "Kalau nilaiku jelek. Kau harus tanggung jawab!" kata Dehya marah.
Tadi, sebelum mapel matematika adalah mapel Bahasa Arab. Bu Risa, guru mapel matematika mengadakan ulangan secara mendadak. Saat mengerjakan Dehya bingung. Bahasa Arab merupakan pelajaran yang baginya susah di nomor 4 setelah matematika, IPA, dan Bahasa Jawa. Dia berusaha memanggil Dinda namun sama sekali tidak digubris olehnya membuatnya geram sekali dan mengucapkan banyak sumpah dari mulutnya.
Dinda yang mendengar itu juga merasa emosi. "Bisa bisanya kau-" Kata kata Dinda terputus saat Dehya menamparnya. Dia memegangi pipinya. Sakit. "Kau-"
Kata kata Dinda terputus lagi saat Fara bicara. "Kalian benar benar memalukan," ujarnya datar. Semua menoleh kearahnya dengan perasaan kaget.
"Fara," ujar Dehya kaget.
"Kalian benar benar memalukan. Suka sih sekali memembuli orang. Kalian tahu rasanya dibuli itu menyakitkan," ujar Fara dengan ekspresi datar namun menusuk. "Aku sudah malu dengan kelakuan kalian yang menjadi jadi. Kukira itu hanya sebentar, namun ternyata sangat lama ya," kata Fara seraya terkekeh namun dari raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi lucu.
"Far!" Dehya hendak mendekati Fara namun tangannya dicekal oleh Deli.
"Sudahlah, tidak ada gunanya Deh, ternyata teman kita itu munafik," ujar Deli seraya melirik sekilas kearah Fara.
"Aku memang tidak punya niat untuk berteman dengan anak macam kalian. Kukira kalian itu hanyalah seorang teman yang berbaik namun ternyata dugaanku salah," kata Fara datar sekali namun matanya menusuk. "Hentikan perbuatan kalian!"
Dehya sudah tidak tahan lagi. Dia menepis tangannya yang dicekal Deli. Lalu, berjalan mendekati Fara lalu plak! Sebuah tamparan keras mengenai pipi Fara. Dehya menatap Fara sangat tajam. Begitu pula Fara dia tetap menatap Dehya dengan datar namun menusuk. "Tampar saja. Aku sudah terbiasa dengan tamparan ini," ujar Fara datar.

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐆adis Penyendiri [✓]
Teen Fiction[ Complete ] [] 𝘍𝘳𝘪𝘦𝘯𝘥𝘴𝘩𝘪𝘱 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘪𝘦𝘴 [] ✎ Dinda Farihattus Najwa, seorang siswi berumur 13 tahun yang bersekolah di sebuah Mts yang jauh dari rumahnya. Awalnya, saat dia masuk di dalam Mts tersebut semua baik baik saja. Namun, karena...