Little Girl

3.6K 359 4
                                        

Hari ini Jisoo benar-benar menepati perkatannya dengan membawa mereka ke pantai, menghabiskan banyak waktu disana. Jisoo merasakan kepuasan tersendiri melihat adik-adiknya yang begitu bergembira dari awal kedatangan mereka hingga sampai sekarang senyum mereka tak pernah luntur.

Tapi tentu saja kejutan terbesarnya belum dimulai. Sesekali Jisoo melirik jam dipegerlangan tangannya sembari mengedarkan pandangan matanya menyusuri seisi pantai. Sampai akhirnya matanya menangkap sosok yang sedari tadia ia tunggu sebagai kejutan. Agar kejutannya tidak gagal Jisoo mengalihkan perhatian adik-adiknya itu dengan terus mengajak mereka berbicara.

"Lihatlah kebelakang." Ucap Jisoo semangat setelah orang yang ditunggu berjarak beberapa langkah dari mereka.

"PAPA! MAMA!." Suara Jennie yang berteriak membuat orang tua mereka tertawa renyah dan segera merentangkan tangannya siap menerima pelukan Jennie.

Berbeda dengan Lisa yang justru menunjukkan ekspresi yang tak mampu dijabarkan ketika menoleh kearah Chaeyoung. Lisa dengan sigap menarik tangan kembarannya itu kedalam genggamannya, ia remas dengan lembut tangan kosong itu.

"Tidak apa-apa Chaeyoung, semua akan baik-baik saja, ada aku yang selalu ada untukmu. Okey?" Bisik Lisa pelan ketika saudara mereka masih sibuk melepas rindu dengan orang tua mereka.

"Ayo." Lisa menarik Chaeyoung agar segera menuju orang tua mereka.

"Pa, Ma. Senang melihat kalian pulang." Ujar Lisa dengan senyum yang lebar bergantian memeluk orang tuanya setelah bergantian dengan Jisoo dan Jennie.

"Kau semakin cantik saja sayang. Papa dengar kau habis memenangkan pertandingan dance ya? Betapa hebatnya anak papa satu ini." Tentu ada nada kebanggan yang tercetak jelas disetiap kata yang keluar dari pria yang mereka panggil papa itu.

"Anak Mama yang satu ini memang luar biasa. Mama sangat bangga padamu." Lisa membalas pelukan hangat orang tuanya secara bergantian tanpa berniat menanggapi perkataan orang tuanya tersebut. Setelahnya bergabung dengan kakak-kakaknya yang kini tengah bercanda dengan meniru perkataan orang tua mereka barusan pada Lisa, hal tersebut tentu mebuat Lisa malu dan mulai menerjang para kakaknya yang jail tersebut.

Setelah Lisa selesai, Chaeyoung mendekat, ketiga insan manusia tersebut sangat menyadari banyaknya atmosfir kecanggungan yang tiba-tiba menyusup.

"Senang melihat kalian masih mau kembali." Ujar Chaeyoung pelan sehingga hanya mereka bertiga yang mampu mendengar, lalu memeluk orang tuanya secepatnya tanpa memberi mereka kesempatan untuk berbicara.

"Kak, aku ke toilet dulu." Ujar Chaeyoung cepat dan bergegas pergi dari tempat itu. Lisa yang menyadari hal itu tentu saja langsung mengejarnya, hatinya langsung mengetahui ada yang tidak beres dengan kembarannya itu.

"Aku juga." Jennie dan Jisoo mengangguk saja, lalu kembali mendekati orang tua mereka, melepaskan rasa rindu mereka kembali.

"Chaeyong-ah, tunggu." Dengan kaki panjangnya Lisa dengan cepat mampu menyusul Chaeyoung yang sedikit berlari tadi.

Mata Chaeyoung yang berkaca-kaca ketika menatapnya membuat Lisa merasakan sesak tiba-tiba, "Aku mohon jangan menangis." Suara Lisa bergetar, ikut merasakan akan apa yang dirasakan oleh kembarannya itu.

Mendengar hal itu justru membuat air mata yang coba Chaeyoung tahan langsung luruh menuruni pipinya dengan deras, dengan sigap Lisa membawa Chaeyoung ke dalam dekapannya.

Tempat mereka yang sepi serta diamnya Lisa dalam mendekapnya membuat Chaeyoung dengan leluasa mengeluarkan rasa sakitnya yang telah lama ia coba kubur, bayangan masa lalu dengan keras menabraknya ketika melihat wajah-wajah awet muda orang tuanya tersebut.

Setelah dirasanya tangisan Chaeyoung meredam, Lisa melonggarkan pelukannya, menangkup pipi chipmunk itu dengan kedua tangan besarnya, mengahapus sisa jejak air mata yang telah turun pada pipi mulus itu tadi.

"Aku tau apa yang kau rasakan meski aku tidak mendapat perlakuan itu. Ketahuilah, kau tidak sendirian disini, aku akan berusaha agar kau tidak dekat-dekat dengan mereka. Jadi kumohon kuatlah untuk beberapa hari ini." Ujar Lisa penuh keyakinan.

Chaeyoung terdian sejenak mendegar perkataan Lisa barusan lalu menggeleng pelan tidak setuju dengan ucapan lisa, "Tidak perlu repot-repot Lisa-ya. Aku tidak mau kakak kita menyadari kalau kau terlihat menghindar. Jangan korbankan dirimu."

"Tapi, bagaimana kalau-"

"Tenanglah, aku hanya sedikit terkejut tadi setelah sekian lama."

Saat ini Chaeyoung merasa adalah pembohong yang ulung.
.
.

Mobil yang berisikan oleh keluarga Tuan Kim itu terlihat ramai dengan candaan dari kedua putrinya, keduanya jelas tampak bahagia sekali. Sedangakan sikembar lebih memilih diam dibangku belakang dengan Chaeyoung yang tengah berbaring pada paha Lisa yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, karna merasa tak terlibat juga malas terlibat dalam obrolan mereka.

"Jadi Jisoo, setelah lulus nanti kau mau ikut kami dan mulai belajar dunia yang Papa geluti kan? Papa sendiri yang langsung mengajarimu nanti" Baik Jisoo serta Jennie mendadak diam mendengar perkataan pria paruh baya tersebut.

Jujur saja Jisoo sangat tergoda apalagi jika Papanya yang selama ia kagumi serta selalu menjadikannya sebagai panutan yang langsung menawarkannya. Papanya yang sedari muda mampu membawa perusahaan keluarga mereka semakin menuju kepuncak kesuksesan hingga sampai saat ini. Membuat Jisoo ingin seperti Papanya yang berkharisma serta cerdas, maka dari itu ia selalu berusaha untuk belajar keras agar nanti mampu seperti Papanya.

"Bagaimana?" Tanyanya kembali ketika tak kunjung mendapat jawaban dari anak sulungnya tersebut.

"Biarkan Jisoo menyelesaikan sekolah Jisoo dulu Pa."

.
.

Serene Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang